
Oleh Rosadi Jamani
Iran bukan kaleng-kaleng. Usai menghujani Tel Aviv dengan bom cluster atau tandan, negara para mullah itu mengancam meledakkan situs nuklir Israel, Dimona. Nikmati narasinya sambil imagine seruput Koptagul, wak!
Di tengah Gurun Negev yang panasnya, berdiri sebuah kompleks yang dari satelit terlihat seperti kota rahasia milik film fiksi ilmiah. Namanya Shimon Peres Negev Nuclear Research Center. Dunia lebih mengenalnya sebagai situs nuklir Dimona Nuclear Facility. Lokasinya sekitar 13 kilometer tenggara kota Dimona, di selatan Israel, tepat di koordinat 31°00′05″LU dan 35°08′40″BT. Dari citra satelit terbaru 2025–2026, tempat ini tampak seperti markas rahasia supervillain. Ada pagar berlapis, jalan lingkar yang rapi, puluhan bangunan putih abu-abu, dan kubah reaktor yang nongkrong di tengah gurun seperti helm baja raksasa yang lupa dilepas.
Kalau dilihat dari atas, kompleks Dimona tidak terlihat seperti “laboratorium riset damai”. Lebih mirip kota industri mini dengan sistem keamanan yang membuat bandara internasional terlihat santai seperti warung kopi. Area udara di atasnya praktis steril. Sistem pertahanan berlapis dipasang seperti lapisan bawang: Arrow‑3, David’s Sling, dan Iron Dome berjaga seperti trio bodyguard yang tidak pernah tidur. Bahkan burung yang lewat mungkin harus menunjukkan KTP udara.
Cerita Dimona sendiri dimulai pada akhir 1950-an, ketika Israel dan Prancis diam-diam bekerja sama setelah kesepakatan rahasia yang sering dikaitkan dengan Sèvres Protocol. Pembangunan fasilitas dimulai sekitar 1958. Ketika Amerika Serikat mulai bertanya dengan nada curiga, Israel menjawab santai, bangunan raksasa di gurun itu hanyalah “pabrik tekstil” atau “pusat penelitian metalurgi”. Penjelasan ini kira-kira setara dengan seseorang membawa koper 40 kilogram ke bandara lalu berkata, “Tenang, ini cuma baju olahraga.”
Reaktor heavy-water di Dimona mulai aktif sekitar 1963–1964. Para analis memperkirakan produksi plutonium untuk senjata dimulai sekitar 1966. Setahun kemudian, ketika Six‑Day War meletus pada 1967, berbagai analisis intelijen Barat menduga Israel sudah memiliki sekitar 13 hulu ledak nuklir operasional. Sejak saat itu negara tersebut menerapkan doktrin terkenal: nuclear ambiguity. Artinya sederhana tapi elegan, Israel tidak pernah mengakui memiliki bom nuklir, tetapi juga tidak pernah menyangkalnya. Dunia pun dibiarkan menebak sambil berkeringat.
Rahasia Dimona sempat bocor pada 1986 ketika teknisi nuklir Mordechai Vanunu membocorkan foto fasilitas bawah tanah kepada pers internasional. Foto-foto itu menunjukkan jaringan laboratorium dan instalasi pemrosesan plutonium yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan publik. Sejak saat itu berbagai estimasi bermunculan. Pada 2026 banyak analis memperkirakan Israel memiliki antara 80 hingga 400 hulu ledak nuklir, mulai dari bom fisi hingga kemungkinan perangkat termonuklir, dan sebagian besar bahan fisilnya diduga berasal dari Dimona.
Masalahnya, reaktor utama di sana sekarang berumur lebih dari 60 tahun. Dalam dunia nuklir, usia seperti itu sudah seperti mobil sedan tahun 1960 yang masih dipaksa ikut balap Formula 1. Karena itu citra satelit terbaru yang dianalisis berbagai media menunjukkan proyek konstruksi besar di dalam kompleks sejak 2018 hingga 2025. Bangunan baru berukuran kira-kira seluas lapangan sepak bola terlihat memiliki beberapa lantai, sebagian diduga berada di bawah tanah. Spekulasi langsung bermunculan: reaktor baru, fasilitas modernisasi plutonium, atau tempat perakitan hulu ledak generasi baru.
Drama geopolitik mencapai level panas baru pada awal 2026 ketika United States dan Israel menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz Nuclear Facility, Fordow Fuel Enrichment Plant, dan Isfahan Nuclear Technology Center. Iran membalas dengan ancaman yang cukup membuat analis keamanan menumpahkan kopi. Pejabat Islamic Revolutionary Guard Corps pada 5 Maret 2026 mengatakan bahwa jika tekanan militer terus berlanjut, Iran dapat menargetkan Dimona.
Internet langsung berubah menjadi festival teori konspirasi. Video-video beredar di media sosial pada 1–2 Maret 2026 yang mengklaim puluhan rudal balistik Iran menghantam Dimona dan menyebabkan ledakan raksasa. Setelah diperiksa, sebagian video ternyata rekaman lama dari ledakan gudang amunisi Ukraina tahun 2017. Internet memang tempat ajaib di mana satu ledakan bisa pindah negara lebih cepat daripada jet tempur.
Sampai 7 Maret 2026 tidak ada bukti kerusakan di Dimona dari militer Israel, citra satelit independen, maupun International Atomic Energy Agency. Sirene memang sempat berbunyi di wilayah Negev dan sistem pertahanan udara ditingkatkan. Kompleks tersebut tampaknya masih beroperasi normal.
Yang membuat para ilmuwan lingkungan merinding adalah satu kemungkinan sederhana, jika suatu hari Dimona benar-benar terkena rudal presisi atau hipersonik. Fasilitas plutonium dan reaktor tua itu menyimpan material radioaktif dalam jumlah besar. Kerusakan besar bisa menyebarkan radiasi ke Yordania, Mesir, bahkan sebagian wilayah Israel sendiri. Singkatnya, Dimona bukan sekadar bangunan di gurun. Ia adalah jantung nuklir yang selama puluhan tahun diselimuti misteri, dan pada 2026, jantung itu tiba-tiba berada tepat di garis bidik geopolitik paling panas di dunia.
Sumber foto: Planet Labs PBC via AP
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
