Gelar Bukber dan Santuni Anak Yatim, Kalam Batam Khawatirkan Masa Depan Batam

Para tokoh Kota Batam yang tergabung dalam Kalam Batam usai buka puasa bersama di Restoran D’Patros Harbour Bay Jodoh Batam, Sabtu (14/3/2026). (Foto: Saibansah/J5NEWSROOM.COM)

J5NEWSROOM.COM, Batam – Momen membahagiakan dirasakan anggota komunitas para warga Batam yang telah bermukim di Pulau Batam lebih dari 30 tahun, yang tergabung dalam Perkumpulan Kawan Lama (Kalam) Kota Batam. Mereka adalah para pelaku sejarah pembangunan Kota Batam.

Kini, mereka kembali dapat bersilaturahmi sambil berbuka puasa bersama di Restoran D’Patros Harbour Bay Jodoh Batam, Sabtu (14/3/2026). Dalam acara ini juga dilakukan pemberian santunan bagi anak-anak panti asuhan.

Sejumlah tokoh-tokoh Batam hadir. Di antaranya, anggota DPD RI yang juga mantan Gubernur Kepri dan mantan Kepala Otorita Batam (OB) H. Ismeth Abdullah bersama istri, Aida Ismeth, anggota DPRD Kepri Taba Iskandar, Asmin Patros, mantan Wakil Gubernur Kepri H. Soerya Respationo, Ibu Hj. Sri Soedarsono, anggota DPRD Kota Batam Surya Makmur Nasution, Suhardi, Wahyu Wahyudin, Ketua Kawan Lama Hermanto Nur dan sejumlah tokoh-tokoh Batam lainnya.

Ketua Kawan Lama, Hermanto Nur mengatakan, sumber dana kegiatan bukber ini sepenuhnya berasal dari hasil dukungan para anggota Kalam Batam. Terkumpul donasi Rp 76 juta yang digunakan untuk kegiatan bukber, santunan anak-anak yatim dan donasi bagi anggota Kalam Batam yang sedang sakit.

Taba Iskandar dan Usep RS saat menggalang gagasan dari para anggota Kalam Batam. (Foto: Saibansah/J5NEWSROOM.COM)

“Kegiatan kita hari ini sepenuhnya bersumber dari sumbangan para anggota Kawan Lama, jumlahnya Rp 76 juta, alhamdulillah,” ujar Hermanto Nur.

Di tengah-tengah suasana bukber itu, menyeruak kegelisahan para tokoh sejarah pembangunan Kota Batam tersebut. Yaitu, mau di bawa ke mana Batam itu ke depan?

Kegelisahan itu juga diungkapkan Soerya Respationo, termasuk akar masalahnya. “Salah satu akar masalahnya adalah pasal 21 UU 53 tahun 1999 yang mengatakan hubungan kerja antara Pemko Batam dan Otorita Batam. Pasal ini perlu dikaji lagi, saya mengusulkan salah satu narasumbernya adalah Taba Iskandar,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan drh Samsu yang mengatakan, gagasan membahas masa depan Batam itu sama dengan gagasan Menkeu Purbaya. “Jadi, kita harus cepat siapkan gagasan itu, untuk kita sumbangkan,” tegasnya.

Kawan Lama berbagai santunan untuk anak-anak yatim. (Foto: Saibansah/J5NEWSROOM.COM)

Sementara itu, Ismeth Abdullah mengatakan, sebagai anggota DPD RI, saat reses dirinya banyak mendapat pertanyaan dari masyarakat, yaitu mengenai lahan. “Ada warga berusia 65 tahun bertanya, saya sudah pensiun pak, saya gak bisa bayar UWTO lagi. Sampai kapan saya harus bayar UWTO? Padahal setiap tahun saya bayar PBB. Gimana ini? Masalah inilah yang saya bahas dengan menteri terkait dan Kepala BPN,” ungkap mantan Gubernur Kepri itu.

Masih ada beberapa anggota Kalam Batam yang menyampaikan pendapatnya, yaitu Surya Makmur Nasution, Suhadi, Wahyu Wahyudin, Irsafin dan Sri Soedarsono yang biasa disapa Bu Dhar. Pada kesempatan itu, Bu Dhar menyampaikan harapannya agar Bandara Internasional Batam namanya diganti menjadi Bandara BJ Habibie, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusi mantan Presiden RI itu.

Merespon semua gagasan tersebut, Taba Iskandar menyampaikan usulan agar setelah hari raya Idul Fitri digelar urun rembug para anggota Kalam Batam. Tujuannya, merumuskan berbagai masukan dan gagasan untuk kemajuan Kota Batam. Karena itulah, ditunjuk sejumlah nama menjadi tim perumus. Yaitu, Hermanto Nur, Asmin Patros, Oenny, Usep RS, Surya Makmur Nasution, Saibansah Dardani dan Buralimar.

Editor: Agung