Khamenei Sebut Iran Beri Pukulan Telak kepada Musuh di Tengah Konflik

Mojtaba Khamenei (Foto dari Akun X @ChinaENX)

J5NEWSROOM.COM, Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan negaranya telah memberikan pukulan keras kepada pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh, termasuk Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui pesan tertulis yang dirilis bertepatan dengan perayaan Nowruz pada Jumat, 20 Maret 2026 waktu setempat.

Dalam pesannya, Khamenei menegaskan bahwa masyarakat Iran tetap bersatu menghadapi tekanan dari luar. Ia menyebut persatuan rakyat sebagai kekuatan utama negara di tengah konflik yang terus berkembang.

“Rakyat Iran telah memberikan pukulan telak kepada musuh sehingga mereka mulai mengucapkan kata-kata yang kontradiktif dan omong kosong,” tulis Khamenei, dikutip Sabtu, 21 Maret 2026.

Di tengah pernyataan tersebut, situasi di Iran dilaporkan masih tegang. Sejumlah ledakan terdengar di ibu kota Teheran, terutama di wilayah timur dan utara kota. Meski masyarakat tetap merayakan Nowruz dengan membeli pakaian baru dan hadiah, suasana perayaan tidak seramai biasanya karena sebagian warga memilih meninggalkan kota menuju daerah yang dianggap lebih aman.

Ketegangan juga meningkat di Yerusalem. Israel menuduh Iran menargetkan kawasan suci setelah terjadi ledakan di Kota Tua yang berada tidak jauh dari Masjid Al-Aqsa, Tembok Barat, serta Gereja Makam Suci. Ledakan tersebut diduga berasal dari puing rudal Iran, meskipun belum dipastikan apakah rudal tersebut berhasil dicegat atau apa target sebenarnya.

Konflik yang telah memasuki minggu keempat ini dilaporkan menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan warga mengungsi. Di Lebanon, serangan udara Israel dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, menandakan konflik semakin meluas di kawasan Timur Tengah.

Dampak perang juga mulai terasa pada pasar energi global. Iran dilaporkan hampir menutup Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk di Qatar dan Kuwait, turut memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global dalam jangka panjang.

Editor: Agung