
Oleh Dr Aqua Dwipayana
JUMAT malam (13/3/2026) sekira pukul 23.30 WIB saya tiba di rumah Yogyakarta. Mengakhiri Safari Ramadan 1447 Hijriyah/2026 Masehi. Setelah sekira tiga minggu, sejak awal puasa, melaksanakan aktivitas di tiga pulau besar: Sumatera, Sulawesi, dan Jawa. Pada lima provinsi yaitu Sumatera Utara (Sumut), Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), Jawa Timur, dan Jawa Tengah (Jateng). Ketemu dengan ribuan orang yang latar belakangnya beragam.
Safari selama bulan Ramadan yang menggunakan moda transportasi udara dan darat, memberi banyak berkah. Tidak hanya buat saya dan keluarga, tetapi juga untuk ribuan orang terutama yang saya temui.
Saat kami berkomunikasi saling menyemangati, menghargai, dan menghormati. Berbagi energi positif untuk kebaikan bersama.
Setiap ketemu siapa pun, baik yang dikenal maupun baru jumpa, saya selalu bersemangat. Merasakan tambahan energi dari mereka. Kemudian saya memotivasi. Mengapresiasi berbagai kelebihan yang mereka miliki.
Saya melakukannya dengan tulus ikhlas. Tidak ada pamrih apa-apa. Tanpa beban sama sekali. Jadi semuanya natural, sesuai hati nurani.
Dengan sikap seperti itu —konsisten melakukannya— sama-sama nyaman. Tidak ada yang dirugikan. Sebaliknya merasakan keuntungan yang sama karena saling menyemangati.
Melakukan semuanya dengan ikhlas memperlancar dan memudahkan langkah saya. Niat ke tiga pulau besar dan lima provinsi itu sepenuh ibadah, karena TUHAN, bukan yang lain.
Sebelum meninggalkan rumah Bogor, saya telah mempersiapkan semuanya. Keluarga selalu mendoakan agar seluruh aktivitas saya lancar, sukses, dan berkah.
Kebiasaan sejak lama, sebelum keluar kota, saya telah merencanakan semua aktivitas termasuk silaturahim yang merupakan hobi utama saya. Mengontak saudara-saudara dan teman-teman di tempat yang akan saya tuju.
Berusaha maksimal untuk silaturahim ke mereka. Jika waktunya ada saya temui untuk ngobrol lama. Kalau agenda saya padat, biasanya hanya telepon atau kirim WhatsApp (WA). Diiringi permohonan maaf karena tidak jumpa.
Hitungan Jam
Saya sering di satu daerah hanya hitungan jam. Salah satu contohnya di Kendari, Sultra, Kamis pagi (5/3/2026) sekira pukul 08.00 WITA saya naik pesawat Lion Air JT 986 dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar di Maros. Setelah menempuh perjalanan selama sejam, pukul 09.00 WITA pesawatnya mendarat di Bandara Haluoleo di Konawe Selatan.
Saya pertama kali silaturahim ke Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Bismi Maulana Nugraha di kantornya Jalan Drs. H. Abdullah Silondae No. 95A Kendari. Ia dengan ramah dan hangat menyambut saya.
Kemudian saya melanjutkan silaturahim ke teman lama, Kingbert Benly. Kami ketemu di hotel Claro miliknya Jalan Edi Sabara No. 89 Kendari.
Silaturahim selanjutnya ke Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sultra Irjen Pol Didik Agung Widjanarko di kantornya Jl. Haluoleo No. 1 Kendari. Saat saya datang, jenderal bintang dua itu sedang Rapat Koordinasi (Rakor) Lintas Sektoral dalam rangka kesiapan pelayanan Idul Fitri 1447 H/2026 M. Tempatnya di Aula Dachara Polda Sultra.
Setelah mengantarkan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sultra Dr Abdul Qohar Affandi ke mobilnya, Widjanarko, panggilan akrab Didik Agung Widjanarko ke mobilnya, mengajak saya ke ruang kerjanya di lantai 3. Juga ada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sultra
Syahrul Said dan Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Sultra Brigjend TNI Suwandi. Saya dikenalkan ke mereka.
Seusai sholat Zuhur saya silaturahim ke teman lama yang menjabat Wakapolda Sultra Brigjen Pol Dr Gidion Arif Setyawan di ruang kerjanya. Letaknya satu lantai dengan ruang kerja Widjanarko.
Dari Polda Sultra saya melanjutkan silaturahim ke Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sultra Edwin Permadi. Kami baru pertama kali ketemu dan langsung akrab.
Kasi Humas Ridwan Suryo mendampingi Edwin. Ia yang intens komunikasi dengan saya menjelang saya ke KPw BI Sultra.
Terakhir silaturahim ke teman akrab saya yang menjabat Kajati Sultra Dr Abdul Qohar Affandi di kantornya Jl. Ahmad Yani No. 4 Kendari. Saat saya tiba, Qohar sedang santai.
Saya ngobrol dengan Qohar sekira 30 menit. Inginnya lebih lama, namun paling lambat pukul 15.10 WITA harus sudah tiba di Bandara Haluoleo karena pukul 15.30 WITA pesawatnya berangkat menuju Makassar. Saya duduk di kursi nomor 2C pesawat Lion Air JT 997.
Sekira 6,5 jam di Kendari saya ketemu para pejabat dan pengusaha. Saya banyak belajar kepada mereka. Alhamdulillah…
Pertolongan TUHAN
Kelancaran pelaksanaan Safari Ramadan yang saya laksanakan sepenuhnya karena pertolongan TUHAN. Sebagai jawaban atas semua doa dan upaya optimal yang saya lakukan.
Selama di luar kota, saya konsisten menjaga niat. Ketemu semua orang untuk banyak belajar sekaligus berbagi. Tidak ingin mendapatkan keuntungan pribadi dari setiap orang yang ditemui, tapi seoptimal mungkin memberi.
Berbagi itu tidak selalu materi. Wujudnya apa saja sesuai kebutuhan setiap orang yang saya temui. Melakukannya totalitas dan ikhlas.
Setiap berbagi, saya meniatkan sepenuhnya karena TUHAN. Sama sekali tidak ada beban melakukannya.
Saya sangat bersyukur saat bisa melakukannya. Ada kepuasan batin. Nilainya tiada tara, tidak bisa digantikan oleh materi berapa pun.
Kepada yang menerima bantuan, saya sampaikan bersyukur dan berterimakasihnya sama TUHAN. Saya hanya menyalurkan rezeki dariNYA.
Saya sangat bersyukur Safari Ramadan tahun ini lancar sekali. TUHAN totalitas menolong dan memudahkan semua aktivitas saya. Alhamdulillah…
Dari rumah Yogyakarta saya ucapkan selamat mensyukuri semua pertolongan TUHAN.Salam hormat buat keluarga.
15.00 18032026
Penulis adalah Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional
