Akhirnya, Timnas Bisa Menenangkan Negeri Ini Usai Melumat St Kitts and Nevis 4-0

Pemain Timnas Indonesia, Ole Romeny (kanan) merayakan golnya bersama Kevin Diks dan Jay Idzes saat melawan Saint Kitts and Nevis pada ajang FIFA Series 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jumat (27/3/2026) malam WIB. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)

Oleh Rosadi Jamani

DUH, senangnya, wak. Timnas kita baru merasakan kemenangan lagi. Negeri yang sedang ditakut-takuti krisis BBM merasa terhibur. Simak kemenangan Beckham Putra cs sambil seruput kopi sedikit gula aren, wak!

Dalam FIFA Series 2026, pasukan John Herdman membantai tamu jauh dari Karibia, St Kitts and Nevis, dengan skor 4-0. Bukan cuma menang, ini jenis kemenangan yang bikin mantan nyesel, tetangga iri, dan netizen mendadak jadi analis taktik kelas dunia.

Babak pertama dimulai. Formasi 3-4-3 dipasang, jurus “Cakar Garuda Menerkam Tikus Gorong-gorong.” Lawan pakai 4-3-3, terlihat percaya diri, padahal sebentar lagi nasibnya seperti gorengan jatuh ke selokan. Di hadapan puluhan ribu supporter merah putih, yang teriakannya bisa bikin jin kontrakan pindah alamat, Tmnas tampil pede luar biasa.

Menit 15, Ole Romeny mengirim umpan terobosan yang halusnya kayak rayuan sales asuransi. Beckham Putra menyambut dengan finishing setenang orang yang tahu saldo ATM-nya aman. Gol! Julani Archibald cuma bengong, mungkin lagi mikir, “Saya ini kiper atau penonton VIP?” Skor 1-0. Stadion meledak. Ayam-ayam Jakarta berhenti berkokok, memilih introspeksi diri.

Belum selesai rakyat Indonesia update status, menit 25 Beckham Putra nyetak gol lagi. Dua gol! Para ibu yang punya anak gadis mulai membuka galeri, zoom wajah Beckham, lalu berdoa dalam hati. Negara ini sejenak lupa krisis BBM. Kue lebaran? Abaikan. Tamu? Suruh duduk sendiri. Semua mata ke layar, bahkan yang biasanya nonton sinetron azab ikut pindah channel.

Di sisi lain, pelatih St Kitts, Marcelo Serrano, mulai tampak seperti guru silat yang sadar muridnya selama ini cuma latihan selfie. Sementara lini belakang Timnas, Jay Idzes, Rizky Ridho, Doni Tri, berdiri kokoh seperti pagar rumah orang kaya, susah ditembus, bikin frustrasi. Maarten Paes di bawah mistar? Itu bukan kiper, itu satpam dimensi lain.

Babak pertama ditutup 2-0. Penonton bahagia. Yang pacaran jadi hambar, karena yang dibahas bukan lagi “kamu makan apa,” tapi “Beckham keren banget ya.” Di rumah, pesanan bakso dan pempek naik drastis, seolah-olah gol tambahan bisa keluar dari kuah kaldu.

Masuk jeda, Sifu John Herdman memberikan tausiyah yang tidak hanya menyentuh hati, tapi juga kompor dapur. Ia bicara soal Iran vs Israel, lalu menasihati ibu-ibu agar matikan kompor agar hemat gas. Pelatih atau duta energi nasional? Tidak ada yang tahu. Yang jelas, pemain manggut-manggut sambil mungkin mikir, “Yang penting babak kedua tambah gol, urusan geopolitik belakangan.”

Babak kedua dimulai. Timnas makin beringas. Menit 53, kemelut di depan gawang. Bola liar jatuh ke Ole Romeny. Tanpa basa-basi, dia sikat. Gol ketiga! Suporter teriak sampai level decibel yang bisa membuka portal ke dimensi lain. Mamang bakso lewat di kompleks? Diabaikan. Ini tragedi bagi ekonomi kecil.

Pergantian pemain besar-besaran dilakukan. Idzes, Verdonk, Kevin Diks, Jordi Amat, Baggot, Beckham Putra, Romeny ditarik. Masuk Sandy Walsh, Ivar Jenner, Yacob Sayuri, Pelupessy, Hubner, Oratmanguen, Reijnders. Ini bukan rotasi, ini reset pabrik. Bahkan Sananta diganti Mauro Zijlstra, yang masuk dengan aura “saya cadangan, tapi berbahaya.”

Benar saja, wak. Mauro Zijlstra langsung mencetak gol keempat dari umpan Pelupessy. Skor 4-0. Penonton makin lupa, hidup ini penuh cicilan. Mak-mak pengajian lupa halalbihalal. Semua larut dalam euforia yang absurd tapi nikmat.

Peluit akhir berbunyi. Garuda menang telak. Ini bukan sekadar kemenangan, ini pelipur lara bagi rakyat yang sehari-hari debat hal tidak penting di grup WhatsApp.

Tapi jangan terlalu santai. Lawan berikutnya, Bulgaria, 30 Maret 2026. Mereka baru saja menghajar Solomon Island 10-2. Sepuluh gol! Itu bukan pertandingan, itu pembantaian berskala nasional.

So, bersiaplah. Karena dalam filosofi silat sepakbola, setelah pesta selalu ada ujian. Kita akan tahu, apakah Garuda ini benar pendekar… atau cuma lagi kerasukan momentum.*

Penulis adalah Ketua Satupena Kalbar