Hebat Juga Ukraina, Cukup dengan Drone Mimpi Buruk bagi Rusia

Ilustrasi artikel Rosadi Jamani tentang perang Rusia-Ukraina. (Foto: AI)

Oleh Rosadi Jamani

J5NEWSROOM.COM – Kebetulan presiden kita, Prabowo baru saja berkunjung ke Rusia. Ketemu Putin. Rumornya Prabowo minta Putin menekan Iran agar dua kapal Pertamina diizinkan lewat Selat Hormuz. Tapi, saya tak membahas rumor itu. Saya tertarik soal perang Rusia vs Ukraina. Lama juga tidak di-update. Apakah Ukraina sudah bertekuk lutut sama beruang merah. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Duel perang paling tidak masuk akal dalam sejarah modern, Rusia versus Ukraina. Secara matematika, ini harusnya sudah selesai sejak bab satu. Ukraina itu ibarat anak kos bawa sendok plastik. Rusia bawa dapur katering lengkap. Tapi anehnya, sampai hari ini sendok plastik itu belum patah, malah mulai mengiris-iris panci lawan sambil senyum tipis.

Lalu muncullah sesuatu yang bikin Einstein ingin pensiun lagi. Muncul senjata yang seolah melanggar hukum fisika. Tidak terlihat, tidak terdeteksi, tidak bisa dijelaskan tanpa membuat dosen fisika mendadak pindah jurusan. Ini bukan sekadar drone. Ini seperti bisikan dari langit yang datang tanpa suara, tanpa izin, tanpa rasa bersalah.

Kepanikan pertama bocor dari TASS. Tanpa sadar menulis plot twist terbaik tahun ini, Ukraina memakai “Marsans” untuk menyerang Holifka. Nama yang terdengar seperti karakter cadangan di film alien. Sayangnya, ini bukan CGI. Ketika Rusia sendiri menamai senjata lawan sebagai “orang Mars”, itu bukan analisis militer, itu pengakuan, realitas sudah tidak bisa dipahami pakai logika Bumi.

Wali kota pro-Rusia, Ivan Prokotko, mengeluh dengan nada antara panik dan pasrah. Drone ini melaju hingga 300 km/jam, dikendalikan AI, tidak butuh operator. Artinya tidak ada lagi “otak di belakang layar” yang bisa diburu. Drone ini seperti mantan yang sudah move on total. Tidak bisa dihubungi, tidak bisa dilacak, tapi tiba-tiba muncul dan menghancurkan hidupmu dalam hitungan detik.

Lalu muncul testimoni dari Abdi Alaudinov, komandan yang sekarang terdengar seperti reviewer film horor. Ia bilang drone ini datang siang malam, tanpa suara, tanpa peringatan. Satu-satunya tanda kehadiran mereka adalah… ledakan di detik terakhir. Ini bukan perang, ini jumpscare kolektif berskala nasional.

Petunjuk asal-usulnya makin bikin kepala berasap. The New York Times pernah menulis tentang “Bumblebee”, proyek yang dikaitkan dengan Eric Schmidt. Drone ini punya tombol sakral. Sekali ditekan, ia berhenti jadi alat, dan mulai jadi makhluk. Tidak peduli sinyal hilang, GPS disabotase, atau dunia sedang kiamat kecil, dia tetap menuju target seperti punya janji hidup yang tidak bisa dibatalkan.

Rusia sempat menemukan puingnya dan membawanya ke pusat riset. Mungkin mereka berharap menemukan chip rahasia atau tombol “matikan”. Yang ditemukan justru alasan baru untuk overthinking nasional. Drone itu dijuluki “Marsionin”, karena satu-satunya penjelasan logis adalah: ini bukan buatan manusia biasa.

Sementara itu Ukraina tetap kalem seperti chef bintang lima yang menolak membocorkan resep. Lewat program Brave One, mereka menguji drone yang bisa terbang 20 km di tengah gangguan elektronik, menyerang target, lalu pulang dengan elegan. Menteri Mykhailo Fedorov hanya memberi teaser, cukup untuk membuat Rusia insomnia berjamaah.

Perusahaan seperti DOD Solution membuat sistem AI yang bisa mengunci target tanpa GPS. Semua upaya jamming Rusia sekarang terasa seperti mencoba mematikan WiFi… di dunia yang sudah pakai telepati.

Kolaborasi global mulai tercium. Jerman dan Prancis ikut bermain, mungkin sambil membawa teknologi masing-masing seperti potluck internasional, tapi isinya semua alat penghancur. Bayang-bayang NASA ikut disebut, membuat teori konspirasi terdengar lebih masuk akal dari kenyataan.

Lalu data datang seperti tamparan pakai palu. Pada Maret saja, Rusia kehilangan 35.351 personel, dan 96% karena drone Ukraina. Itu bukan statistik, itu laporan duka berbentuk spreadsheet. Naik 29% dari bulan sebelumnya. Grafiknya bukan naik, itu lompat pakai roket.

Produksi drone Ukraina melonjak 250%, dengan target 7 juta unit di 2026. Satu drone seharga 500 dolar bahkan mampu menghancurkan sistem pertahanan Rusia senilai 25 juta dolar. Rasio 50.000 kali. Ini bukan perang, ini penghinaan finansial tingkat dewa.

Sementara Rusia masih membawa drone berkabel seperti telepon rumah era 90-an, Ukraina sudah memainkan kawanan drone AI yang bisa bergerak otonom seperti kawanan lebah neraka. Satu operator, banyak drone. Satu keputusan, banyak kehancuran.

Institute for the Study of War mencatat Rusiay mulai kehilangan keunggulan di udara rendah. Kalimat yang terdengar sopan, tapi sebenarnya berarti, “kita sedang dikejar sesuatu yang tidak bisa kita lihat.”

Di titik ini, dunia mulai sadar. Ukraina mungkin tidak menang dengan cara yang kita bayangkan. Tapi mereka sedang menciptakan cara baru untuk menang, cara yang membuat hukum fisika bingung, ekonomi tersinggung, dan Rusia… perlahan kehilangan akal sehat.*

Foto Ai hanya ilustrasi

Penulis adalah Ketua Satupena Kalbar