Jemaah Haji Tanjungpinang Berjuang Ziarahi Raudhah

Tasno Ngaenudin Dollahwardi, seorang jemaah haji asal Tanjungpinang saat akan menunaikan sholat Jumat. (Foto: Saibansah/J5NEWSROOM.COM)

J5NEWSROOM.COM, Madinah – Kedatangan jamaah haji Indonesia gelombang pertama di Madinah pada Rabu (22/4/2026) menandai dimulainya rangkaian ibadah di Tanah Suci. Salah satu tujuan utama jamaah selama berada di kota ini adalah berkunjung ke Raudhah di Masjid Nabawi. Salah satunya adalah Tasno Ngaenudin Dollahwardi, seorang jemaah haji asal Tanjungpinang.

Saat berbincang dengan Petugas MCH Arab Saudi 2026 Saibansah Dardani di halaman Masjid Nabawi sebelum sholat Jumat, Tasno mengungkapkan, dirinya belum bisa sholat di Raudhah. Pasalnya, karena aplikasi nusuknya belum bisa dipergunakan.

“Nusuk saya masih belum bisa dipakai, dulu yang download itu anak saya, terus karena banyak aplikasi di hape, saya bersihkan, eh terhapus juga nusuknya,” ungkap Tasno yang berangkat haji tahun ini bersama istri tercinta.

Meski demikian, Tasno tidak putus harapan untuk bisa sujud di ‘taman surga’ itu. Pria yang ramah itu menghubungi sahabatnya yang siap membantunya untuk dapat berkunjung ke Raudhah, di samping makam Rosulullah itu. Sebenarnya, apa sih raudhah itu?

Raudhah, yang dikenal sebagai Raudhatul Jannah atau taman surga itu merupakan area di dalam masjid yang terletak di antara rumah Nabi—kini menjadi makam Rasulullah SAW—dan mimbar. Area yang ditandai dengan tiang-tiang putih ini memiliki ukuran sekitar 22 meter dari timur ke barat dan 2 meter dari utara ke selatan, serta diyakini sebagai tempat mustajab untuk berdoa.

Namun, tidak semua jamaah memahami prosedur untuk dapat masuk ke lokasi tersebut. Untuk itu, petugas Pembimbing Ibadah (Bimbad) Sektor Bir Ali, Agususanto, menjelaskan mekanisme kunjungan agar berjalan tertib.

Menurut dia, jamaah Indonesia difasilitasi melalui sistem pendaftaran kolektif. Data jamaah akan diinput oleh petugas untuk mendapatkan tasreh atau izin masuk ke Raudhah. Dalam satu lembar tasreh, biasanya tercantum maksimal 50 nama, meski jumlahnya dapat bervariasi tergantung kuota yang tersedia.

“Seluruh proses dikendalikan secara kolektif oleh sektor khusus di Nabawi, sehingga jamaah tidak perlu mengurus secara individu,” ujar Agus.

Ia menambahkan, peran ketua regu (karu) dan ketua rombongan (karom) menjadi penting dalam mengoordinasikan jamaah. Dengan sistem ini, jamaah cukup menunggu jadwal yang telah ditentukan tanpa harus memegang izin secara pribadi.

Pemerintah, lanjut Agus, memfasilitasi minimal satu kali kesempatan bagi setiap jamaah untuk memasuki Raudhah. Penjadwalan dilakukan oleh masing-masing sektor dan disesuaikan agar tidak berbenturan dengan agenda ziarah di Kota Madinah.

Selain melalui mekanisme kolektif, jamaah juga memiliki opsi mendaftar secara mandiri menggunakan aplikasi Nusuk. Melalui aplikasi tersebut, jamaah dapat memilih waktu kunjungan yang tersedia, mulai dari pagi, siang, sore, hingga malam hari.

Dengan pengaturan tersebut, diharapkan seluruh jamaah haji Indonesia dapat merasakan pengalaman beribadah di Raudhah secara tertib dan nyaman selama berada di Madinah.

Editor: Saibansah Dardani