
J5NEWSROOM.COM, Madinah – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengingatkan jemaah haji Indonesia agar menjaga kedisiplinan dalam beribadah serta mengamalkan nilai-nilai haji mabrur setelah kembali ke Tanah Air.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Kasi Bimbad) Daerah Kerja Bandara, Anis Dyah Puspita, saat melepas kepulangan jemaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 12 Embarkasi Yogyakarta (YIA) di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah, Selasa (17/6/2026).
Menurut Anis, salah satu cara sederhana untuk mempertahankan kemabruran haji adalah dengan membiasakan diri hidup disiplin, terutama dalam menjalankan ibadah.
“Sebenarnya sederhana bagaimana menjaga nilai-nilai haji mabrur agar tetap terbawa sampai ke tanah air, yaitu dengan menjaga kedisiplinan,” kata Anis.
Ia menuturkan, kebiasaan beribadah yang telah terbentuk selama berada di Tanah Suci perlu terus dipertahankan setelah kembali ke Indonesia. Salah satunya adalah menjaga salat lima waktu secara konsisten.
Anis mengatakan, momentum haji seharusnya menjadi titik awal perubahan bagi jemaah yang sebelumnya belum disiplin menjalankan salat wajib.
“Yang sebelumnya belum terbiasa menjaga salat lima waktu, setidaknya setelah berhaji bisa terus menjaganya. Selama di Tanah Suci kita telah berusaha mempertahankan salat lima waktu, bahkan berjamaah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Anis menjelaskan bahwa nilai kedisiplinan tercermin dalam seluruh rangkaian ibadah haji yang dilaksanakan secara tertib dan teratur. Nilai tersebut, menurut dia, dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat.
Selain disiplin, Anis juga menekankan pentingnya menanamkan nilai kesetaraan yang diperoleh selama pelaksanaan wukuf di Arafah. Dalam momen tersebut, seluruh jemaah mengenakan pakaian ihram yang sama dan berkumpul di tempat yang sama tanpa memandang status sosial maupun jabatan.
“Di Arafah kita diajarkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah SWT. Tidak ada perbedaan status sosial, jabatan, maupun latar belakang lainnya,” kata dia.
Karena itu, Anis berharap para jemaah dapat membawa semangat kesederajatan tersebut ke tengah kehidupan bermasyarakat dan menghindari sikap merasa lebih tinggi daripada orang lain.
“Mudah-mudahan ketika kembali ke Indonesia tidak ada lagi yang sombong atau merasa lebih baik dibandingkan orang lain,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Anis juga mengajak jemaah untuk terus berdoa agar ibadah hajinya diterima Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa proses evaluasi diri tidak berhenti setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai dilaksanakan.
Menurut dia, setiap jemaah perlu terus melakukan muhasabah dan memperbaiki diri, termasuk dalam membangun kesabaran serta hubungan yang baik dengan sesama.
Anis menambahkan, seluruh rangkaian ibadah haji mengandung hikmah yang seharusnya memberi dampak positif dalam kehidupan. Haji sebagai rukun Islam kelima, kata dia, merupakan penyempurna yang harus dijaga nilai-nilainya.
Ia berharap para haji dapat menjadi pribadi yang menebarkan ketenangan, menjaga kerukunan, serta memberikan teladan yang baik di tengah masyarakat setelah kembali ke Tanah Air.
“Ketika umat Islam sudah berhaji, hajinya diharapkan membawa dampak positif, menjadi penenang, pengayom, menjaga kerukunan, dan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat,” kata Anis.
Editor: Saibansah Dardani
