Sketsa Haji: Syahdu Nian Umroh Malam Tadi

H. Ramon Damora saat umrah bersama putra sulungnya Jilan dan istrinya Lela. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh H. Ramon Damora

J5NEWSROOM.COM, Makkah – Ini umroh keempat sejak kami tiba di Mekkah pada 22 Mei 2026 lalu sebagai jamaah haji. Umroh pertama adalah umroh wajib (tamattu’) yang menjadi rangkaian ibadah haji. Umroh kedua saya niatkan untuk diri sendiri. Umroh-umroh berikutnya kami badalkan untuk kedua orang tua, kakek, nenek, yang telah lebih dahulu berpulang, sebagai ungkapan bakti yang tak sempat selesai oleh waktu.

Alhamdulillah, sebagian umroh itu kami jalani sekeluarga, anak-beranak. Saya, istri, dan Jilan yang sedang menikmati libur kuliah dari Universitas Islam Madinah. Pada salah satu umroh sunnah itu, Jilan membadalkan umroh untuk almarhumah ibu saya. Dia memang memiliki banyak kenangan istimewa bersama neneknya.

Umroh keempat tadi malam sungguh berbeda. Musim haji praktis telah usai. Sebagian besar jama’ah sudah bergerak menuju Madinah. Sebagian lain bahkan telah kembali ke tanah air. Tinggallah kami, jama’ah kloter terakhir, yang baru akan pulang tanggal 30 Juni nanti. Pelataran Masjidil Haram lebih lapang. Arus manusia memang masih mengalir tanpa putus, tetapi tidak lagi padat seperti hari-hari puncak haji.

Langit malam Mekkah tampak terang. Azan Isya berkumandang. Tak lama kemudian, takbir terdengar. Allahu Akbar. Syekh Maher Al-Muaiqly maju menjadi imam. Barangkali beliau adalah imam Masjidil Haram yang paling akrab di telinga jamaah Indonesia hari ini, lewat rekaman2 murattal, selain Syekh Abdurrahman Sudais. Suaranya tidak menggelegar. Bacaan beliau menenangkan, jernih, tertata, mengalir khusyuk ke palung sanubari.

Malam itu Syekh Maher membacakan Surah Al-Ahzab. Ayat demi ayat mengalir lembut dari lisannya. Tidak menghentak. Tidak meninggi. Sekonyong-konyong saya teringat sepotong kisah hidupnya. Mungkin tak banyak orang mengetahui bahwa sebelum menjadi imam besar Masjidil Haram, Syekh Maher adalah seorang guru matematika. Beliau menempuh pendidikan matematika, mengajar di sekolah, lalu melanjutkan perjalanan ilmunya hingga mendalami syari’ah dan meraih gelar doktor.

Aduhai. Betapa sering manusia mengira masa depannya ditentukan oleh pekerjaannya hari ini. Padahal Allah kerap membuka jalan yang sama sekali tidak terduga. Siapa yang membayangkan seorang guru matematika suatu hari berdiri di depan Ka’bah, memimpin shalat jutaan manusia dari seluruh dunia?

Jalan hidup tidak selalu bergerak lurus menurut hitungan manusia. Ada ketekunan yang tidak terlihat. Ada keberkahan ilmu. Di atas semuanya, ada kehendak Allah yang bekerja dalam cara-cara yang tidak selalu mampu kita pahami. Pikiran saya kemudian melayang-layang kepada anak-anak saya. Jilan. Jazzy.

Diam-diam saya berdoa. Semoga kelak mereka menjadi wasilah yang mengumpulkan keluarga kami dalam rahmat Allah: orang tuanya, kakek-neneknya, paman-bibinya, anak-cucunya, dipertemukan kembali dalam surga yang dijanjikan-Nya.

Hari ini anak-anak kita hanyalah seorang pelajar yang sedang menuntut ilmu. Besok, siapa yang tahu? Mungkin menjadi seorang guru. Mungkin seorang dosen. Mungkin seorang peneliti, pegawai, pengusaha. Mungkin seorang alim. Mungkin mengajar di Madinah. Mungkin mengabdikan hidupnya di Mekkah. Mungkin bukan siapa-siapa. Mungkin seorang hamba saleh yang tak dikenal banyak manusia, tetapi masyhur bagi penduduk langit. Mungkin. Mungkin.

Bukankah Syekh Maher dahulu juga hanya seorang guru matematika? Jangan lelah berdoa untuk buah hati kita.

Pelupuk mata saya tiba-tiba terasa hangat ketika Syekh Maher sampai pada penghujung Surah Al-Ahzab ayat 73: “Dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ya Allah, terimalah taubat kami. Jagalah keluarga kami. Lindungilah anak-anak kami. Teguhkan mereka dalam iman dan ilmu. Himpun kami dalam ampunan dan rahmat-Mu.*

Penulis adalah jemaah haji Indonesia asal Batam.