Menyusuri Jejak Sahabat Rasulullah, Saudagar Kaya Abdurrahman bin Auf di Tengah Kebun Kurma Madinah

Kebun kurma bersejarah milik sahabat Rasulullah, konglomerat Abdurrahman bin auf di Madinah dengan sumurnya yang masih mengalir air hingga saat ini. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

J5NEWSROOM.COM, Madinah – Siang itu, angin gurun bertiup pelan di kawasan Hijam Alwali, Madinah. Di antara hamparan pohon kurma yang berbaris rapi, sejumlah jemaah haji Indonesia tampak berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong kebun. Sebagian mengabadikan momen dengan telepon genggam, sebagian lagi memandangi bangunan tua yang berdiri kokoh di tengah perkebunan.

Di tempat inilah, sejarah dan kehidupan modern bertemu.

Kebun kurma milik sahabat Rasulullah yang kaya raya, Abdurrahman bin Auf, menjadi salah satu destinasi ziarah yang belakangan semakin populer di kalangan jemaah haji dan umrah. Kebun kurma ini menawarkan lebih dari sekadar wisata petik kurma. Kebun ini mengajak pengunjung menelusuri jejak seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai saudagar sukses sekaligus dermawan besar dalam sejarah Islam.

Di tengah kebun yang hijau, berdiri bangunan-bangunan tua yang disebut sebagai peninggalan masa Turki Utsmani. Dinding-dinding batu yang telah berusia ratusan tahun itu masih terawat dan menjadi saksi perjalanan panjang kawasan tersebut dari generasi ke generasi.

Bagi banyak jemaah, suasana di lokasi ini menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan destinasi ziarah lainnya di Madinah. Di sini, mereka tidak hanya mendengar kisah sejarah, tetapi juga melihat langsung jejak-jejak fisik yang masih bertahan hingga sekarang.

“Bangunan dan jalur air lama itu tetap kami pertahankan. Selain itu, kami juga membuat jalur air baru untuk kebutuhan perkebunan saat ini,” ujar pemilik kebun, Hasan Alkiwi, saat ditemui di lokasi, Kamis (18/6/2026).

Hasan, yang akrab disapa Abu Umar, kemudian mengajak pengunjung melihat salah satu bagian paling bersejarah dari kebun tersebut: jalur pengairan kuno yang dahulu digunakan untuk mengaliri pohon-pohon kurma.

Berbeda dengan perkebunan modern yang mengandalkan pompa dan teknologi canggih, sebagian sistem pengairan di kebun ini masih mempertahankan pola tradisional. Aliran air mengalir melalui saluran-saluran yang dibangun sejak berabad-abad lalu.

Jejak pengelolaan sumber daya itu menjadi gambaran bagaimana para sahabat Nabi mengembangkan sektor pertanian dan ekonomi di tengah lingkungan gurun yang keras.

Namun daya tarik utama kebun ini berada tidak jauh dari sana.

Di sebuah sudut kawasan, terdapat sumur tua yang diyakini sebagai Sumur Abdurrahman bin Auf. Sumur dengan kedalaman sekitar 60 meter itu masih mengeluarkan air hingga kini.

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, sumur tersebut telah berusia sekitar 1.400 tahun. Airnya terus mengalir dan digunakan untuk mengairi kebun yang luasnya mencapai sekitar 10.000 meter persegi.

“Kualitas airnya masih sangat baik dan bisa langsung diminum,” kata Abu Umar.

Di sekitar sumur itulah berbagai kisah tentang Abdurrahman bin Auf sering diceritakan kembali kepada para peziarah. Sosok sahabat Nabi yang dikenal sebagai pengusaha sukses itu menjadi simbol bagaimana kekayaan dapat berjalan seiring dengan kesederhanaan dan kepedulian sosial.

Tak jauh dari sumur, ratusan pohon kurma tumbuh subur.

Saat musim panen tiba, tandan-tandan kurma menggantung lebat di antara pelepah daun. Sejumlah pekerja tampak sibuk memilah buah yang telah matang untuk dipetik.

Menurut Abu Umar, saat ini terdapat lebih dari 550 pohon kurma produktif di kawasan tersebut. Sebanyak 350 di antaranya merupakan kurma Ajwa atau yang sering disebut sebagai Kurma Nabi.

“Sebagian besar pohon berusia sekitar 20 hingga 30 tahun dan saat ini sedang memasuki masa panen,” ujarnya.

Selain Ajwa, kebun itu juga menanam berbagai varietas kurma premium lain seperti Safawi, Rabiah, Ambar, dan Sukari.

Kurma Ajwa dari kawasan Aliyah Madinah menjadi salah satu komoditas yang paling banyak diburu pengunjung. Banyak jemaah memilih membeli langsung dari kebun karena ingin memastikan asal-usul dan kualitas buah yang mereka bawa pulang ke tanah air.

Menariknya, suasana Indonesia juga terasa cukup kental di lokasi tersebut.

Sekitar 30 pekerja asal Indonesia turut terlibat dalam operasional perkebunan. Di area depan kebun, pengunjung dapat menemukan aneka makanan khas Nusantara seperti bakso, gorengan, hingga seblak yang dijajakan bagi para jemaah yang rindu cita rasa kampung halaman.

Berbagai oleh-oleh khas haji dan umrah juga tersedia di sejumlah gerai yang berjejer di pintu masuk.

Bagi jemaah Indonesia, kombinasi antara wisata religi, sejarah Islam, dan suasana yang akrab menjadikan tempat ini semakin diminati.

Letaknya pun relatif mudah dijangkau. Dari Masjid Nabawi, perjalanan hanya memerlukan sekitar 20 menit dengan kendaraan. Sementara dari Masjid Quba, jaraknya hanya beberapa menit saja.

Tak heran jika setiap hari rombongan jemaah dari berbagai negara silih berganti datang ke lokasi tersebut.

Di bawah rindangnya pohon-pohon kurma, mereka tidak hanya menikmati manisnya buah Ajwa yang baru dipetik. Mereka juga sedang menapaki jejak sejarah seorang sahabat Nabi yang namanya tetap dikenang hingga kini.

Di tengah modernisasi Kota Madinah yang terus berkembang, Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf menjadi pengingat bahwa peradaban Islam tidak hanya dibangun melalui dakwah dan ibadah, tetapi juga melalui kerja keras, pengelolaan ekonomi, serta kebermanfaatan bagi sesama.

Dan di tempat itu, sejarah terasa begitu dekat, bahkan hanya sejauh langkah di antara pohon-pohon kurma yang masih berbuah hingga hari ini.*

Editor: Saibansah Dardani