Napak Tilas Jejak Rasulullah di Enam Masjid Bersejarah di Sekitar Masjid Nabawi

Suasana sore menjelang maghrib di halaman Masjid Ghomamah, masjid yang pernah dijadikan tempat Nabi Muhammad SAW menunaikan sholat minta hujan. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

J5NEWSROOM.COM, Madinah – Langkah para jamaah biasanya akan terhenti begitu memasuki pelataran Masjid Nabawi. Kubah hijau yang menaungi makam Nabi Muhammad SAW menjadi magnet utama setiap peziarah yang datang ke kota suci ini.

Namun, hanya beberapa puluh meter dari kompleks masjid, tersimpan jejak-jejak sejarah yang kerap luput dari perhatian. Di balik lalu lalang jamaah dari berbagai negara, berdiri enam masjid kecil yang menjadi saksi perjalanan dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat lebih dari 14 abad silam.

Bagi Ibrahim Al Haq, mahasiswa Universitas Islam Madinah yang juga kerap mendampingi jamaah Indonesia, kawasan ini ibarat museum terbuka yang mengisahkan fase-fase penting perkembangan Islam.

“Di sekitar Masjid Nabawi terdapat enam masjid bersejarah yang semuanya memiliki kisah berbeda. Sayangnya, banyak jamaah hanya melewatinya tanpa mengetahui nilai sejarah yang tersimpan,” ujarnya.

Dari keenam masjid tersebut, tiga berada paling dekat dengan Masjid Nabawi, yakni Masjid Ghamamah, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Masjid Ali bin Abi Thalib. Ketiganya hanya berjarak sekitar 25-50 meter dari pagar barat masjid sehingga dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki beberapa menit.

Masjid Ghamamah, Tempat Turunnya Hujan Berkah

Di antara seluruh masjid bersejarah itu, Masjid Ghamamah menjadi salah satu yang paling banyak menyimpan kisah.

Bangunan bercat putih dengan kubah-kubah kecil itu berdiri di atas lahan yang pada masa Rasulullah merupakan tanah lapang atau *musalla*, tempat masyarakat Madinah berkumpul untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, Idul Adha, maupun shalat Istisqa atau shalat memohon hujan.

Nama “Ghamamah” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti awan atau mendung.

Menurut riwayat yang berkembang di kalangan ulama sejarah Islam, ketika Madinah mengalami musim kering yang panjang, Rasulullah SAW memimpin kaum Muslim melaksanakan shalat Istisqa di tempat tersebut. Tidak lama setelah doa dipanjatkan, awan mulai berkumpul di langit Madinah sebelum akhirnya hujan turun membasahi kota.

Peristiwa itulah yang kemudian melekatkan nama Ghamamah pada lokasi tersebut.

Selain menjadi lokasi shalat Istisqa, kawasan ini juga diyakini sebagai tempat Rasulullah memimpin shalat Id setiap tahun. Bahkan sejumlah riwayat menyebutkan beliau pernah melaksanakan shalat gaib di lokasi itu setelah menerima kabar wafatnya Raja Najasyi (Ashamah), penguasa Kerajaan Aksum di Habasyah (kini Ethiopia), yang dikenal memberikan perlindungan kepada kaum Muslim saat hijrah pertama.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, lokasi itu belum berupa bangunan permanen.

Baru pada awal abad ke-8 Masehi, ketika Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai Gubernur Madinah pada masa Kekhalifahan Bani Umayyah (sekitar 706-712 M atau 87-93 Hijriah), kawasan tersebut dibangun menjadi masjid untuk menjaga keberlangsungan jejak sejarahnya.

Umar bin Abdul Aziz memang dikenal sebagai tokoh yang banyak melakukan penataan kawasan Masjid Nabawi. Selain memperluas masjid atas perintah Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, ia juga mendokumentasikan serta melestarikan sejumlah lokasi yang berkaitan langsung dengan kehidupan Rasulullah.

Bangunan Masjid Ghamamah kemudian beberapa kali mengalami renovasi, terutama pada masa Kesultanan Utsmaniyah pada abad ke-16 dan kembali dipugar oleh Pemerintah Arab Saudi tanpa menghilangkan bentuk arsitektur aslinya.

Jejak Para Khalifah

Tak jauh dari Masjid Ghamamah berdiri Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Masjid kecil ini dipercaya dibangun di lokasi tempat khalifah pertama tersebut memimpin shalat Id setelah wafatnya Rasulullah SAW. Kehadirannya menjadi pengingat masa awal kepemimpinan Islam sekaligus kesinambungan tradisi yang diwariskan Nabi.

Beberapa langkah dari sana terdapat Masjid Ali bin Abi Thalib. Menurut tradisi sejarah Madinah, lokasi ini merupakan tempat Khalifah Ali bin Abi Thalib juga memimpin shalat Id ketika menjadi pemimpin umat Islam.

Selain kedua masjid tersebut, kawasan sekitar Masjid Nabawi juga memiliki Masjid Umar bin Khattab, Masjid Utsman bin Affan, serta Masjid As-Saqya. Masing-masing memiliki keterkaitan dengan perjalanan Rasulullah maupun Khulafaur Rasyidin.

Masjid As-Saqya, misalnya, diyakini berada di lokasi Rasulullah berdoa sebelum Perang Badar pada tahun 624 M. Di tempat itu pula Nabi memeriksa kesiapan pasukan sebelum berangkat menuju medan perang.

Kini keenam masjid tersebut masih difungsikan sebagai tempat ibadah, meski tidak digunakan untuk pelaksanaan shalat Jumat. Di sela waktu shalat lima waktu, suasana di sekitarnya relatif tenang dibandingkan halaman utama Masjid Nabawi yang selalu dipenuhi jamaah.

Keberadaan masjid-masjid kecil itu menjadi pengingat bahwa sejarah Islam tidak hanya tercatat dalam kitab-kitab klasik, tetapi juga masih hidup di ruang-ruang kota Madinah.

Berjalan kaki menyusuri kawasan barat Masjid Nabawi seakan membawa peziarah menelusuri lorong waktu. Setiap sudut menghadirkan kisah tentang perjuangan Rasulullah, kepemimpinan para sahabat, hingga awal terbentuknya peradaban Islam.

Bagi jamaah yang memiliki waktu luang selepas shalat Subuh atau menjelang Maghrib, menyusuri enam masjid bersejarah ini bukan sekadar wisata religi. Perjalanan singkat itu menjadi kesempatan untuk memahami bahwa di balik setiap bangunan sederhana di Madinah, tersimpan potongan sejarah yang membentuk perjalanan umat Islam hingga hari ini.

Editor: Saibansah Dardani