Ketika Sejarah, Spiritualitas, dan Madinah Modern Bertemu Kaki Gunung Uhud

Ustadz Ibrohim Fadlannul Haq, mahasiswa Universitas Islam Madinah memberikan penjelasan mengenai sejarah perang Uhud. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

J5NEWSROOM.COM, Madinah – Gunung batu yang memanjang hingga 7 kilometer, Minggu, 28 Juni 2026 pagi itu, memantulkan sinar matahari Madinah yang mulai hangat. Umat Islam dari berbagai negara pun terus berdatangan ke area pinggir gunung tersebut. Ada makam para syuhada’ Uhud. Inilah Gunung Uhud, gunung yang menyimpan sejarah perjuangan umat Islam bersama Rasulullah.

Bagaimana kisah perjuangan para umat Islam terbaik itu? Berikut ini catatan Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani yang saat ini bertugas menjadi MCH (Media Center Haji) PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi 2026.

Gunung berwarna kemerahan itu tampak sunyi, tetapi setiap lekuk batu dan lerengnya menyimpan kisah yang mengubah perjalanan sejarah Islam. Di sinilah, lebih dari 1.400 tahun lalu, berlangsung Perang Uhud, pertempuran yang bukan hanya dikenang sebagai episode militer, melainkan juga sebagai pelajaran tentang disiplin, ketaatan, dan keteguhan iman.

Bagi jutaan jemaah haji dan umrah yang berziarah ke Madinah, kawasan Uhud bukan sekadar destinasi wisata religi. Tempat ini menjadi ruang refleksi, tempat sejarah seolah hidup kembali melalui penuturan para mutowif yang mendampingi perjalanan.

Salah satunya disampaikan Ustadz Ibrohim Fadlannul Haq, mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM)  sekaligus pemandu ibadah yang mengajak jemaah menelusuri jejak-jejak perjuangan Rasulullah SAW.

Perjalanan biasanya diawali dari Masjid Al-Fash, sebuah masjid kecil yang diyakini menjadi tempat Rasulullah SAW melaksanakan shalat dan beristirahat setelah Perang Uhud usai. Tak jauh dari sana terdapat sebuah gua yang dalam tradisi setempat dipercaya sebagai lokasi Rasulullah SAW berlindung ketika situasi peperangan semakin genting.

“Masjid Al-Fash adalah tempat Rasulullah melaksanakan shalat setelah Perang Uhud. Beliau beristirahat di sana. Kemudian ada gua yang diyakini menjadi tempat beliau berlindung,” ujar Ibrohim kepada rombongan jemaah.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju kompleks makam para syuhada. Suasana berubah hening. Di balik pagar sederhana itu dimakamkan sekitar 70 sahabat Rasulullah SAW yang gugur dalam Perang Uhud, termasuk Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, paman sekaligus salah seorang pembela terdekat Nabi Muhammad SAW.

Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani di area makam syuha’ Uhud. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

Tak sedikit jemaah yang menundukkan kepala, melantunkan doa, sembari membayangkan bagaimana medan berbatu yang kini tertata rapi itu dahulu menjadi saksi pertarungan hidup dan mati.

Perang Uhud terjadi pada bulan Syawal tahun ketiga Hijriah atau sekitar tahun 625 Masehi. Pertempuran ini merupakan kelanjutan dari kemenangan kaum Muslim dalam Perang Badar setahun sebelumnya.

Dalam Perang Badar, sekitar 313 pasukan Muslim berhasil mengalahkan sekitar 1.000 pasukan Quraisy Makkah. Kekalahan tersebut menjadi pukulan besar bagi kaum Quraisy sehingga mereka menyusun ekspedisi balasan dengan membawa sekitar 3.000 prajurit menuju Madinah.

Rasulullah SAW kemudian bermusyawarah dengan para sahabat mengenai strategi menghadapi serangan tersebut. Sebagian sahabat mengusulkan bertahan di dalam kota, sementara kelompok lain menghendaki menghadapi musuh di luar Madinah. Setelah musyawarah, diputuskan pasukan Muslim keluar menuju kaki Gunung Uhud.

Awalnya sekitar 1.000 orang berangkat bersama Rasulullah SAW. Namun di tengah perjalanan, sekitar 300 orang yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul memilih mundur karena tidak sepakat dengan keputusan tersebut. Akibatnya, pasukan Muslim yang tersisa hanya sekitar 700 orang.

Untuk menjaga celah di sisi bukit, Rasulullah SAW menempatkan 50 pemanah terbaik di sebuah bukit kecil yang kini dikenal sebagai Jabal Rumat atau Bukit Pemanah. Mereka mendapat pesan yang sangat tegas: jangan meninggalkan posisi apa pun yang terjadi sebelum ada perintah langsung.

Strategi itu semula berjalan efektif. Pasukan Quraisy mulai terdesak dan mundur. Sebagian pemanah kemudian mengira peperangan telah usai. Demi memperoleh harta rampasan perang, mayoritas dari mereka turun meninggalkan bukit meski telah diperingatkan oleh pemimpin mereka.

Kesempatan itulah yang dimanfaatkan Khalid bin Walid, yang saat itu masih berada di pihak Quraisy, untuk memimpin pasukan berkuda memutari bukit yang telah kosong. Serangan dari belakang membuat keadaan berbalik. Pasukan Muslim terkepung dari dua arah, sementara Rasulullah SAW mengalami luka cukup berat dalam pertempuran tersebut.

Peristiwa itu kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an, antara lain dalam Surah Ali Imran ayat 152–155, sebagai pelajaran bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan, tetapi juga oleh kepatuhan terhadap perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.

“Pelajaran paling berharga dari Perang Uhud adalah kekalahan datang ketika manusia melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, pertolongan Allah hadir bagi mereka yang taat dan istiqamah,” tutur Ibrohim.

Jabal Uhud sendiri memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Gunung yang membentang sekitar tujuh kilometer itu berada di utara Madinah dengan ketinggian sekitar 1.050 meter di atas permukaan laut. Bagi masyarakat Madinah, Jabal Uhud bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari identitas sejarah kota yang terus dijaga.

Kini kawasan Uhud telah ditata menjadi salah satu destinasi utama ziarah di Madinah. Selain kompleks makam syuhada dan Masjid Syuhada yang dibangun untuk melayani peziarah, kawasan ini dilengkapi area pejalan kaki, pusat kuliner, toko oleh-oleh, hingga ruang terbuka yang nyaman bagi jemaah. Juga, terdapat berbagai spot foto dan selfie bernuansa modern.

Menjelang malam, wajah Uhud berubah. Tata cahaya (city light) di sekitar kawasan menghadirkan panorama berbeda. Dari kaki gunung, hamparan lampu Kota Madinah terlihat berkilauan, menghadirkan perpaduan antara kota modern dengan lanskap sejarah yang telah bertahan lebih dari empat belas abad.

Banyak jemaah mengabadikan momen di kawasan ini, tetapi lebih dari sekadar berburu foto, perjalanan ke Uhud meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam.

Di tengah bebatuan yang pernah menjadi saksi salah satu pertempuran paling menentukan dalam sejarah Islam, para peziarah diajak memahami bahwa perjalanan spiritual bukan hanya tentang mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Ia juga menjadi perjalanan untuk membaca kembali makna ketaatan, kesabaran, dan keteguhan dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.

Sebab di Uhud, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga terus mengajarkan nilai-nilai yang melampaui ruang dan waktu.*

Editor: Agung