
J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Seluruh rangkaian pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M rampung sudah. Alhamdulillah, beragam apresiasi dan puja-puji mengalir dari berbagai pihak kepada Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI atas kinerjanya melayani jemaah haji di Tanah Suci.
Mensyukuri nikmat tersebut, Kemenhaj RI memberikan penghargaan kepada sejumlah insan, pemerintah daerah, serta mitra strategis yang dinilai berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan ibadah haji tersebut. Salah satunya kepada wartawan Metro TV, Mahmud Ikhsan Fauzi, sebagai Petugas MCH (Media Center Haji) terbaik.
Cak Mahmud, demikian Kepala Perwakilan Metro TV Jawa Timur itu disapa sahabatnya, adalah Tim MCH Daker (Daerah Kerja) Madinah. Bagaimana arek Malang ini bekerja selama 77 hari bertugas? Berikut ini catatan Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani, yang 77 hari bekerja dalam satu tim dengan Cak Mahmud.
Sebagai sesama Tim MCH Daker Madinah, saya dan Cak Mahmud, tidak selama 77 hari kami bertugas di Kota Nabi, Madinah. Tetapi, 10 hari para Tim MCH Daker Madinah ditugaskan Kemenhaj RI di Kota Suci, Makkah. Yaitu, sejak sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah, lalu mabit (bermalam) di Muzdalifah dan lempar jumrah di Mina, pada 8-13 Dzulhijjah 1447 H atau bertepatan dengan tanggal 25-30 Mei 2026. Para petugas haji Daker Madinah dipercaya melayani jemaah haji Indonesia selama di Mina.
Selama 10 hari, kami semua ditempatkan di satu hotel yang sama. Dalam satu kamar ditempati 6 orang. Kebetulan, saya ditempatkan dalam kamar dengan Cak Mahmud. Saya masih ingat posisi susunan tempat tidur kamar kami yang cukup luas. Kasur nomor satu nempel dengan toilet dan pas di bawah AC tua yang mengeluarkan bunyi khas mesin jahit pancal.
Kasur nomor 1 ditempati Ardhi Wahdan (Kedaulatan Rakyat), ‘penghuni’ kasur nomor 2 Agus Totok Widyatmoko (Suara Merdeka) yang ‘bertetangga’ dengan Fernan Rahadi (Republika).
Kemudian, kasur nomor 4 ‘dikuasai’ Mahmud Ikhsan Fauzi (Metro TV). Sebelahnya, kasur Saibansah Dardani (BATAMTODAY.COM & J5NEWSROOM.COM) dan terakhir kasur nomo 6 ‘dihuni’ Muhammad Umar Fadloli (Berita Buana).
Sebagai ‘tetangga’ tempat tidur, saya melihat langsung kapan Cak Mahmud bangun tidur dan bagaimana dia bekerja melaporkan berita untuk para keluarga jemaah haji di Indonesia. Baik laporan dari Makkah maupun di Madinah.
Di Makkah, sebelum adzan subuh, Cak Mahmud sudah pasang mode ‘ganteng’. Sudah mandi dan pakai seragam kebanggaan Petugas PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi 2026. Seragam yang selama 77 hari terus menerus kami pakai. Kecuali, pas lagi istirahat di kamar.
Setelah mode ‘ganteng’, Cak Mahmud langsung pasang tripod hape. Peralatan ‘tempur’ yang selalu dibawanya ke mana pun. Tripod itu kadang dipasangnya di depan hotel, kadang di loby hotel, atau di belakang hotel. Pokoknya, dia pilih lokasi untuk menyampaikan laporan kegiatan jemaah haji Indonesia selama di Makkah.

“Gak sholat subuh dulu cak,” tanya saya, sebagai tetangga kasur.
“Gak sempat Cak Iban. Ini mau live untu program Metro Pagi.”
Karena waktu di Arab Saudi 4 lebih cepat dari waktu di Indonesa, mau tidak mau, Cak Mahmud harus melaporkan berita haji Indonesia sesuai dengan waktu program berita di Metro TV.
Selesai laporan berita untuk program Metro Pagi, barulah Cak Mahmud sarapan bersama. Kadang di salah satu lantai yang disulap jadi ruang makan kolosal. Kadang kami bawa kotak menu makan dan minum ke kamar, kami makan bersama.
Yang paling rajin membawa kotak makanan untuk kami berenam itu adalah wartawan Kedaulatan Rakyat, Ardhi Wahdan yang sudah terlanjur kami sapa ‘Sultan’. Karena selain berasal dari Yogyakarta, ‘Sultan’ yang satu ini juga rajin berbagi, mulai dari kerupuk, roti, kopi, madu dan banyak lagi. Termasuk ‘sodaqoh’ tethering untuk teman sekamar.
Rampung sarapan, biasanya Cak Mahmud, ‘ngecas’ energi body sebentar. Molor. Kadang tidurnya ngorok, kadang tidak, tapi lebih sering ngorok, mungkin karena lelah fisik.
Siangnya, Cak Mahmud pasang ‘alat perang’-nya lagi. Untuk laporan Metro Siang, begitu terus sampai malam.
“Satu hari berapa berita cak, mbok jangan diforsil gitu kerjanya,” pernah saya ngomong begini ke Cak Mahmud.
“Satu hari belasan berita, cak.”
Beberapa kali Cak Mahmud ‘hilang’ malam. Tempat tidurnya kosong. Ternyata, dia naik Bus Sholawat ke Masjidil Haram untuk meliput jemaah haji Indonesia. Dia pergi sendirian, tidak bersama-sama dengan mobil khusus MCH Daker Madinah, yang biasa mengantarkan kami ke lokasi-lokasi liputan.
Begitulah Cak Mahmud. Baginya, tugas utama sebagai wartawan Metro TV dan sebagai Petuas MCH adalah, totalitas dan total bekerja melayani jemaah. Itu saja. Sampai satu kali penghobi burung kicauan itu ‘drop’. Sakit dan harus dibawa ke KKHI (Klinik Kesehatan Haji Indonesia) di Madinah.
Maka, wajarlah jika selama 77 hari, Cak Mahmud berhasil mengoleksi catatan koleksi berita dan turunan media sosialnya lebih dari 1.500. Saya sendiri hanya 1.100 berita dan medsos. Jauh dari produktivitas Cak Mahmud.
Jadi, tak salah jika Kemanhaj RI memilih Cak Mahmud sebagai Petugas MCH Terbaik 2026. Karena totalitasnya bekerja melayani jemaah haji, tidak hanya memberitakan keadaan mereka untuk keluarganya di Indonesia. Tapi juga menolong jemaah haji selama di Mina, atau Madinah.
Selama Cak Haji Mahmud!
Editor: Agung
