
J5NEWSROOM.COM – Kematian merupakan peristiwa yang pasti dialami setiap manusia. Kekayaan dapat diwariskan, jabatan dapat diserahkan, dan penyakit mungkin diobati. Namun, ketika waktu yang telah ditetapkan tiba, tidak seorang pun mampu menunda berpisahnya roh dari jasad.
Alquran menegaskan bahwa kematian bukan kemungkinan yang hanya mengintai sebagian manusia. Ia adalah kepastian bagi setiap makhluk yang bernyawa.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Kullu nafsin żā’iqatul-maut(i). Wa innamā tuwaffauna ujūrakum yaumal-qiyāmah(ti). Faman zuḥziḥa ‘anin-nāri wa udkhilal-jannata faqad fāz(a). Wa mal-ḥayātud-dunyā illā matā‘ul-gurūr(i).
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS Ali Imran ayat 185).
Ayat tersebut tidak sekadar mengingatkan bahwa umur manusia terbatas. Allah juga menjelaskan bahwa kemenangan sejati bukanlah panjangnya kekuasaan, luasnya wilayah, atau banyaknya harta. Kemenangan sesungguhnya adalah ketika seseorang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
Karena itu, kematian bukan hanya berakhirnya kehidupan dunia. Kematian adalah pintu menuju kehidupan berikutnya, tempat seluruh amal manusia dipertanggungjawabkan.
Datangnya Sakaratul Maut
Alquran menggunakan ungkapan sakratul maut untuk menggambarkan keadaan yang mengiringi datangnya kematian. Kata sakrah menunjukkan keadaan berat yang meliputi kesadaran seseorang ketika roh mulai berpisah dari jasad.
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Wa jā’at sakratul-mauti bil-ḥaqq(i), żālika mā kunta minhu taḥīd(u).
“(Seketika itu) datanglah sakratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari.” (QS Qaf ayat 19).
Manusia dapat berusaha menghindari pembicaraan tentang kematian. Sebagian orang menenggelamkan diri dalam pekerjaan, hiburan, kekuasaan, atau kesibukan dunia agar tidak memikirkan akhir perjalanan hidupnya.
Namun, ayat tersebut menggunakan ungkapan bil-haqq, dengan sebenar-benarnya. Kematian akan datang sebagai kenyataan yang tidak dapat dibantah, dinegosiasikan, ataupun dikembalikan.
Pada saat itu, orang-orang terdekat dapat berada di sisi seseorang. Dokter dapat berusaha mengurangi rasa sakit. Keluarga dapat menggenggam tangannya dan membisikkan doa. Akan tetapi, tidak seorang pun dapat menggantikan perjalanan yang harus dilaluinya seorang diri.
Kengerian itulah yang bahkan membuat Umar bin Khattab, seorang sahabat yang dikenal kuat, tegas, dan berani, menunjukkan ketakutan mendalam menjelang wafatnya.
Umar bin Khattab ditikam ketika memimpin sholat Subuh di Madinah. Riwayat sahih dari Amr bin Maimun menggambarkan Umar terlebih dahulu merapikan barisan jamaah, kemudian maju dan memulai sholat. Tidak lama setelah takbir, Abu Lu’lu’ah menyerangnya dengan senjata.
Penyerang tersebut dikenal sebagai seorang budak milik al-Mughirah bin Syu’bah. Ia tidak hanya menikam Umar, tetapi juga menyerang sejumlah jamaah lain sebelum akhirnya dilumpuhkan. Peristiwa penikaman Umar ketika sholat Subuh diriwayatkan secara panjang dalam Shahih al-Bukhari.
Umar kemudian dibawa ke rumahnya dalam keadaan terluka parah. Luka yang dideritanya menjadi pertanda bahwa hidupnya tidak akan berlangsung lama.
Pada hari-hari terakhir tersebut, sejumlah orang mendatangi Umar. Mereka menyebut kebaikan, perjuangan, dan kedudukannya di antara para sahabat Rasulullah SAW. Sebagian berharap kata-kata itu dapat menenangkan hatinya.
Namun, pujian manusia tidak membuat Umar merasa aman dari pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Imam al-Qurthubi dalam kitab At-Tadzkirah bi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah menukil percakapan antara Umar dan seorang lelaki setelah sang khalifah ditikam.
وَلَمَّا طُعِنَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ لَهُ رَجُلٌ: إِنِّي لَأَرْجُو أَلَّا تَمَسَّ جِلْدَكَ النَّارُ. فَنَظَرَ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ مَنْ غَرَّرْتُمُوهُ لَمَغْرُورٌ. وَاللَّهِ، لَوْ أَنَّ لِي مَا عَلَى الْأَرْضِ، لَافْتَدَيْتُ بِهِ مِنْ هَوْلِ الْمُطَّلَعِ.
Wa lammā ṭu‘ina ‘Umaru ibn al-Khaṭṭābi raḍiyallāhu ‘anhu, qāla lahu rajulun: Innī la-arjū allā tamassa jildaka an-nāru. Fa naẓara ilaihi, ṡumma qāla: Inna man gharrartumūhu la-maghrūrun. Wallāhi, lau anna lī mā ‘alā al-arḍi, laftadaitu bihi min hauli al-muṭṭala‘i.
“Ketika Umar bin Khattab RA ditikam, seorang lelaki berkata kepadanya, ‘Sungguh, aku berharap api neraka tidak akan menyentuh kulitmu.’ Umar memandangnya, kemudian berkata, ‘Sungguh, orang yang kalian buat merasa aman dengan pujian seperti itu benar-benar orang yang tertipu. Demi Allah, seandainya aku memiliki seluruh yang ada di bumi, niscaya akan kutebuskan semuanya demi menghadapi kedahsyatan haul al-muththala’.’”
Perkataan tersebut merupakan atsar yang dinukil dari Umar bin Khattab, bukan sabda Nabi Muhammad SAW. Adapun penikaman Umar ketika memimpin sholat Subuh memiliki landasan riwayat sahih tersendiri dalam Shahih al-Bukhari.
Apa Itu Haul al-Muththala’?
Ungkapan
هَوْلُ الْمُطَّلَعِ
haul al-muththala’
tidak hanya merujuk pada rasa sakit fisik saat kematian. Maknanya lebih luas, yakni kedahsyatan yang tersingkap di hadapan seseorang ketika ia mulai meninggalkan dunia dan menghadapi alam akhirat.
Para pensyarah menjelaskan al-muththala’ sebagai sesuatu yang mulai terlihat ketika seseorang berada pada sebuah tempat tinggi dan memandang apa yang terbentang di hadapannya. Ungkapan itu kemudian digunakan sebagai perumpamaan bagi perkara-perkara besar yang mulai tersingkap ketika manusia menghadapi sakaratul maut dan perjalanan sesudahnya.
Selama hidup di dunia, banyak hal mengenai akhirat masih menjadi bagian dari iman kepada perkara gaib. Manusia meyakini adanya alam kubur, kebangkitan, pengadilan Allah, timbangan amal, surga, dan neraka berdasarkan wahyu.
Akan tetapi, ketika kematian datang, tabir dunia mulai disingkap. Manusia memasuki perjalanan yang tidak pernah dialaminya sebelumnya. Ia tidak lagi membawa jabatan, pasukan, rumah, ataupun simpanan kekayaan. Ia hanya membawa iman dan amalnya.
Karena itulah Umar menyebut seluruh kekayaan di bumi pun akan diberikan seandainya harta dapat menjadi tebusan dari kedahsyatan tersebut.
Pernyataannya bukan berarti Umar meragukan keadilan atau kasih sayang Allah. Ia juga bukan sedang berputus asa dari rahmat-Nya. Perkataan itu memperlihatkan rasa takut seorang mukmin terhadap perhitungan amal dan besarnya tanggung jawab yang pernah dipikulnya.
Pujian Tidak Menjamin Keselamatan
Ucapan lelaki yang mendatangi Umar sebenarnya mengandung harapan baik. Ia berharap api neraka tidak menyentuh tubuh Umar karena kedekatan Umar dengan Rasulullah SAW, perjuangannya membela Islam, serta kepemimpinannya atas kaum Muslimin.
Namun, Umar tidak menjadikan pujian tersebut sebagai jaminan keselamatan.
Kalimat
إِنَّ مَنْ غَرَّرْتُمُوهُ لَمَغْرُورٌ
dapat dipahami sebagai peringatan bahwa orang yang dibuat merasa aman oleh pujian manusia dapat terjerumus dalam ketertipuan. Seseorang mungkin merasa telah banyak beramal, padahal ia tidak mengetahui apakah amalnya diterima. Ia mungkin dikenal sebagai orang saleh, tetapi tidak mengetahui bagaimana akhir hidupnya.
Umar menyadari bahwa penilaian manusia hanya didasarkan pada apa yang tampak. Adapun Allah mengetahui niat, rahasia hati, keikhlasan, kesalahan tersembunyi, serta seluruh perkara yang tidak diketahui manusia.
Sikap Umar memperlihatkan bahwa semakin dalam pengetahuan seseorang mengenai Allah dan akhirat, semakin kecil kemungkinan ia membanggakan dirinya sendiri.
Keberanian Tidak Menghapus Rasa Takut
Dalam sejarah Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai sosok pemberani. Ketegasannya disegani, keputusannya memengaruhi perjalanan umat, dan wilayah pemerintahan Islam meluas pada masa kepemimpinannya.
Namun, keberanian menghadapi manusia tidak membuatnya merasa ringan menghadapi pengadilan Allah.
Di sinilah letak pelajaran besar dari penghujung hidup Umar. Seorang manusia dapat berani menghadapi musuh, tetapi tetap menangis ketika mengingat akhirat. Ia dapat memimpin wilayah yang luas, tetapi tetap khawatir apabila pernah menzalimi seorang rakyat. Ia dapat dipuji banyak orang, tetapi tidak berani memastikan keselamatannya sendiri.
Rasa takut semacam ini bukanlah kelemahan. Dalam ajaran Islam, seorang mukmin berjalan di antara khauf dan raja’: takut kepada azab serta kekurangan amalnya, tetapi tetap berharap kepada ampunan dan rahmat Allah.
Ketakutan tanpa harapan dapat membawa seseorang kepada keputusasaan. Sebaliknya, harapan tanpa rasa takut dapat membuat manusia meremehkan dosa. Keduanya harus berjalan beriringan.
Kematian Sebagai Peringatan bagi yang Hidup
Kisah Umar bukan dimaksudkan agar manusia hanya takut membayangkan kematian. Kesadaran mengenai kematian seharusnya mengubah cara seseorang menjalani kehidupan.
Orang yang mengingat kematian akan lebih berhati-hati mengambil hak orang lain. Ia tidak mudah menyalahgunakan jabatan karena memahami bahwa kekuasaan akan berakhir. Ia tidak menunda meminta maaf karena tidak mengetahui apakah esok masih tersedia. Ia juga tidak menunda bertobat seolah-olah umur berada dalam kekuasaannya.
Dunia yang hendak dijadikan Umar sebagai tebusan pada akhirnya tidak dapat membeli satu detik tambahan kehidupan. Seluruh kekayaan di bumi tidak mampu mengembalikan roh yang telah berpisah dari jasad.
Yang masih dapat dilakukan manusia adalah mempersiapkan perjumpaan tersebut sebelum waktunya tiba: memperbaiki sholat, menunaikan hak sesama, membayar utang, meninggalkan kezaliman, memperbanyak amal saleh, dan memohon ampun kepada Allah.
Sebab, ketika sakaratul maut datang, manusia tidak lagi memiliki kesempatan menyusun ulang kehidupannya. Ia hanya akan berhadapan dengan apa yang telah dikirimkannya lebih dahulu.
Umar bin Khattab memiliki kekuasaan besar, keberanian, dan amal yang dikenang lintas generasi. Namun, menjelang wafatnya ia tidak terpukau oleh pujian manusia. Ia justru gemetar menghadapi apa yang akan tersingkap setelah kematian.
Bila Umar saja takut terhadap haul al-muththala’, lalu bekal apakah yang telah disiapkan manusia biasa untuk menghadapinya?*
Sumber: Republika
Editor: Agung
