Jakarta Hasilkan Sekitar 9.000 Ton Sampah Setiap Hari, Pengelolaan Terpadu Dinilai Mendesak

Talk show bertajuk “Bersama Mewujudkan Jakarta Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan” yang diselenggarakan Presidium Pemuda Indonesia (PPI) di Gedung KNPI DKI Jakarta, Kamis 30 Juli 2026. (Foto: Ist)

J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Volume sampah di Jakarta mencapai sekitar 9.000 ton per hari. Kondisi tersebut mendorong perlunya sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari pengurangan di sumber hingga pemanfaatan teknologi pengolahan di tahap akhir.

Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Laksmi Widjajayanti, dalam diskusi bertajuk Bersama Mewujudkan Jakarta Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan yang digelar Presidium Pemuda Indonesia (PPI) di Gedung KNPI DKI Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Menurut Laksmi, penerapan teknologi Waste to Energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi timbunan sampah, terutama residu yang tidak lagi dapat didaur ulang. Namun, ia menegaskan teknologi tersebut bukan satu-satunya cara menyelesaikan persoalan sampah di ibu kota.

Ia menjelaskan, teknologi WtE diperkirakan hanya mampu menangani sekitar 24 persen dari keseluruhan permasalahan sampah. Karena itu, upaya pengurangan sampah sejak dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang tetap menjadi fondasi utama dalam sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Sementara itu, Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Erma Putri, mengingatkan bahwa sampah plastik menjadi salah satu tantangan terbesar karena tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan ancaman kesehatan akibat mikroplastik.

Erma mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mendorong masyarakat, kawasan permukiman, perkantoran, serta pelaku usaha untuk menerapkan pemilahan sampah ke dalam empat kategori, yakni sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah sekaligus mengurangi beban tempat pemrosesan akhir.

Sumber: RMOL
Editor: Agung