
J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Direktur Bina Petugas Haji Reguler Kementerian Haji RI, Chandra Sulistio Reksoprojo, memberikan pengarahan kepada peserta Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (12/1) malam.
Dalam pembekalan tersebut, Chandra menegaskan bahwa petugas haji merupakan ujung tombak pelayanan sekaligus representasi kehadiran negara dalam melayani jemaah di Tanah Suci.
Ia menyampaikan bahwa citra Indonesia di mata jemaah maupun masyarakat internasional sangat ditentukan oleh profesionalisme petugas haji saat menjalankan tugas di lapangan. Petugas memiliki peran strategis dalam memastikan kelancaran, kenyamanan, dan keselamatan jemaah selama pelaksanaan ibadah haji.
Chandra menekankan bahwa petugas tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga mengemban empat fungsi utama, yaitu pelayanan, pembinaan, perlindungan, dan koordinasi sesuai kebijakan serta standar operasional prosedur yang ditetapkan Kementerian Haji.
Ia meminta para petugas bersikap responsif dan solutif, khususnya dalam menangani jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, serta jemaah berisiko tinggi. Setiap keluhan jemaah, menurut dia, harus ditindaklanjuti secara jelas dan tidak dibiarkan tanpa kepastian.
Selain itu, Chandra mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan media sosial. Ia menyebutkan bahwa Pemerintah Arab Saudi melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas digital, termasuk unggahan petugas haji.
Konten media sosial yang dinilai melanggar ketentuan setempat, lanjutnya, berpotensi berujung pada sanksi hingga deportasi. Oleh karena itu, petugas diminta menggunakan media sosial secara bijak dengan menyampaikan informasi yang menenangkan dan bersifat positif.
Di luar aspek teknis, Chandra juga menekankan tanggung jawab moral petugas haji. Ia meminta para petugas menjunjung tinggi etika, menghindari konflik kepentingan, serta tidak menyalahgunakan kewenangan dalam kondisi apa pun.
Menurut dia, berbagai tantangan di lapangan, mulai dari perbedaan karakter jemaah hingga tekanan fisik dan mental, harus dihadapi dengan keikhlasan. Pelayanan yang tulus dan berorientasi pada kepentingan jemaah menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji 2026.
Editor: Agung
