Hari ke-10 Perang, Korban Berjatuhan, Harga Minyak Melambung

Ilustrasi Harga BBM Naik. (Foto: AI)

Oleh Rosadi Jamani

Kita update perang Iran vs Israel-Amerika hari ke-10. Korban kedua belah pihak berjatuhan. Yang dahsyat, harga minyak global melonjak tinggi, $120 per barel. Sementara asumsi APBN kita cuma $70 per barel. Kenaikan BBM sudah di depan mata. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Harga Brent Crude sempat melonjak hampir $120 per barel intraday, lalu berkeliaran di kisaran $103–$114. Bahkan, ada analis mencatat $107–$111 setelah lonjakan sekitar 20% hanya dalam sehari. WTI ikut berlari di kisaran $101–$113. Ini lonjakan tercepat sejak perang Rusia-Ukraina. Tetapi, kali ini bumbu dramanya lebih pedas. Karena, satu titik yang membuat pasar global berkeringat, Selat Hormuz. Jalur yang dilewati sekitar 20% minyak dunia. Begitu Iran memberi sinyal tanker bisa jadi sasaran, kapal-kapal minyak langsung ragu bergerak seperti kucing melihat air.

Produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab mulai memangkas produksi karena penyimpanan penuh sementara tanker takut berlayar. Dunia tiba-tiba sadar satu fakta sederhana: perang regional bisa membuat planet ini kehabisan bensin mental.

Di tengah kekacauan itu, panggung politik Iran melahirkan bab baru. Mojtaba Khamenei, putra kedua almarhum Ali Khamenei, diangkat menjadi Supreme Leader oleh Majelis Pakar Iran. Dukungan langsung datang dari Islamic Revolutionary Guard Corps. Washington bereaksi cepat. Donald Trump menyebutnya “unacceptable”. Israel memberi sinyal ancaman terhadap siapa pun pengganti Khamenei.

Teheran menjawab dengan cara yang sangat… Teheran.

Iran meluncurkan gelombang serangan balasan Operation True Promise 4. IRGC mengklaim hari ini mereka menembakkan gelombang ke-30 dan ke-31, menargetkan basis militer AS di kawasan Teluk serta posisi Israel di utara wilayah pendudukan. Serangan menggunakan rudal dan drone canggih dengan kode seperti “Ali Valiollah”, bahkan disebut didedikasikan untuk pemimpin baru. Targetnya tidak hanya militer, tetapi juga aset ekonomi AS dan Israel, dengan pesan sederhana, perang akan terus berlanjut sampai musuh “menyesal”.

Versi Teheran menyebut pertahanan udara Iran berhasil menembak jatuh lebih dari 75 drone dan pesawat musuh sejak awal perang. Media pemerintah seperti Press TV bahkan mengutip laporan dari media Israel Haaretz, sistem radar Israel gagal mencegat beberapa rudal Iran. Iran mengklaim korban di pihak Israel relatif kecil, sekitar belasan orang, sementara serangan AS-Israel disebut menyebabkan 1.200–1.300 korban sipil di Iran, termasuk anak-anak. Kebocoran minyak ke saluran pembuangan di Teheran bahkan disebut sebagai bukti “perang kimia”.

Analisis Press TV juga menuduh tujuan “regime change” oleh AS-Israel sebagai proyek mahal yang hampir mustahil berhasil. Logikanya sederhana. Perang jangka panjang justru menguntungkan Iran karena stok senjata disebut cukup berbulan-bulan. Sementara musuh menghadapi kerugian ekonomi global akibat lonjakan harga minyak. Media Iran bahkan menyerukan negara-negara Islam memperingatkan Washington dan Tel Aviv agar berhenti menyerang infrastruktur energi, atau menghadapi balasan serupa.

Sementara itu, serangan balasan Israel-AS tetap berlangsung. Infrastruktur militer Iran dihantam, depot minyak terbakar, dan konflik bahkan merembet ke selatan Beirut yang menjadi basis Hezbollah.

Lalu kamera beralih ke Indonesia, negara yang sering bicara kedaulatan energi tetapi masih impor minyak netto sekitar 1 juta barel per hari. Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak hanya $70 per barel. Realitas sekarang sudah $120 lebih.

Setiap kenaikan $1 harga minyak bisa menambah beban Rp6,8–Rp10,3 triliun. Jika harga bertahan di $120, subsidi energi bisa jebol ratusan triliun. Simulasi pemerintah bahkan menyebut tambahan beban bisa mencapai Rp500 triliun.

Rupiah sudah mendekati Rp17.000 per dolar AS, IHSG sempat jatuh lebih dari 4%, dan inflasi Februari mencapai 4,76% yoy dengan komponen energi naik 12,66%. Pemerintahan Prabowo Subianto menegaskan BBM subsidi tidak naik sampai Lebaran, stok aman 20–26 hari, sambil berharap badai global cepat reda.

Namun kenyataan bagi rakyat sederhana. Jika perang terus memanas, transportasi naik, logistik naik, harga pangan ikut naik. Begitulah geopolitik modern. Satu rudal ditembakkan di Timur Tengah, dan dompet rakyat di Asia Tenggara ikut terbakar. Perang katanya demi perdamaian. Yang benar-benar damai tampaknya hanya rekening para pedagang senjata dan spekulan minyak. Sisanya? Dunia sedang belajar arti baru dari krisis energi global.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM