
J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Saya sangat bersyukur ditempatkan di Gedung Baru, Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Masuk sebagai anggota Kompi Aligator, Pleton 4. Alhamdulillah lagi, saya ditempatkan di Barak 212, nomor sakti yang tertulis di ‘Kapak Wiro Sableng’, novel silat kesukaan saya di waktu sekolah menengah.
Di Barak 212, saya satu kamar dengan dua pegawai Asrama Haji Pondok Gede, Ali dan Safari. Karena itulah, saya bisa pegang kunci barak sendiri, tidak seperti anggota Kompi Aligator lain yang harus menyimpan kunci di resepsionis setiap keluar dan masuk barak. Karena ternyata teman satu barak saya punya kunci cadangan.
Bagaimana keseruan di Pleton Aligator? Berikut ini catatan Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM, calon petugas PPIH Arab Saudi 2026, Saibansah Dardani yang telah melalui seluruh proses rangkaian seleksi, Diklat 20 hari, hingga pengukuhan oleh Menteri Haji dan Umrah RI, Muchammad Irfan Yusuf di Lapangan Galaxi Makodau (Markas Komando Angkatan Udara) I Halim Perdana Kusuma Jakarta, Jumat 30 Januari 2026 lalu.
Dengan sedikit agak ‘ke-pede-an’, saya ingin mengklaim bahwa Kompi Aligator adalah kompi spesial selama program Diklat (Pendidikan dan Latihan) Petugas PPIH Arab Saudi 2026. Setidaknya, ada sejumlah alasan. Yaitu, baraknya di Gedung Baru yang kualitas airnya lancar. Toiletnya bagus dan bersih. Lokasinya dekat dengan pusat kegiatan apel gabungan dan kelas besar, hanya tiga langkah. Kemudian, jarak dari barak Aligator ke Masjid Al-Mabrur, pulang-pergi hanya sekitar 1.200 langkah.
Sementara itu, barak kompi-kompi lain untuk menuju ke Gedung Serba Guna (SG) 2 atau Masjid Al-Mabrur ada yang sampai harus menempuh lebih dari 3,000 langkah. Itulah makanya, sempat terdengar ‘suara sumbang’ yang menyebut bahwa Kompi Aligator adalah kompi ‘Anak Emas’. Tapi, ‘suara sumbang’ itulah yang kami jawab dengan menunjukkan berlatih lebih gigih, menguatkan kekompakan dengan berbagai yel-yel ala militer yang diajarkan Komandan Kompi Aligator, Mayor Laut (PM) Kangian.
BACA JUGA: Pendidikan Semi Militer Malam Pertama di Barak dan Lagu Gembira

Berikut ini salah satu yel-yel yang kami nyanyikan kala mendampingi Menhaj RI, Muchammad Irfan Yusuf saat meninggalkan Lapangan Galaxi Makodau I Halim Perdana Kusuma Jakarta.
Aaaaligator, Aaaligator
Dikau gagah berani
Aaaaligator, Aaaligator
Semangat jiwa PPIH
Kami berjanji akan setia mengabdi menjadi petugas PPIH
Rela korbankan jiwa raga, berjuang demi jamaah haji
Di panas terik, di musim hujan
Kami siap sedia
Majulah maju, PPIH-ku
Jadilah petugas yang perkasa
Jadilah petugas yang perkasa
Masih ada puluhan yel-yel ala militer lagi yang diajarkan para instruktur Kompi Aligator. Mereka itu adalah Kapten Kavaleri Hari Susanto, Letda Mar Armawi, Letda Cba Hanif Faruzi, Letda Sus M.Alson, Aipda Helga Arfian, Serka Sugiyono, Serma Salman dan Briptu Wicaksono.
Sebagai Komandan Kompi Aligator, Mayor Laut (PM) Kangian sejak menit pertama sudah melatih disiplin kepada kami semua. Mulai soal cara berpakaian, ketepatan waktu apel dan kegiatan, aturan pergerakan dari satu titik ke titik tujuan sampai dengan aturan baris-berbaris.
BACA JUGA: Hari Pertama Kaki Menjejak di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta

Yang paling kami ingat dari arahan hari pertama mantan marinir asal Bangkalan Madura Jawa Timur itu adalah, “kami tidak peduli kalian siapa, kami hanya melaksanakan perintah dari Menteri dan Wakil Menteri untuk melatih kalian semua. Karena itu, mulai hari ini, lepaskan jubah jubah kebesaran kalian di luar sana, di sini kalian semua sama, peserta Diklat.”
Dengan suaranya yang lantang plus tone tekanan yang jelas dan tegas ala militer, pelan tapi pasti, terbangunlah jiwa korsa di antara kami anggota Kompi Aligator. Setiap hari, tidak kurang tiga kali kami apel. Apel pagi, apel siang dan apel malam. Setiap apel, jumlah peserta selalu dihitung. Jadi, tidak ada istilah bisa anggota kompi yang menghilang atau sembunyi di kamar. Pasti ketahuan.
Tidak boleh bergerak meninggalkan barak sendirian, harus berbaris minimal 5 orang, satu orang menjadi komandan barisan. Harus berbaris dengan langkah kaki yang teratur dan rapi. Begitulah setiap hari, sehingga jiwa korsa setiap anggota kompi terus menerus terbangun.
BACA JUGA: Diragukan Wamenhaj Dahnil Anzar, Tapi Dijanjikan Harapan
Dan yang labih membuat jiwa korsa kami terbangun adalah mewajibkan semua anggota Kompi Aligator untuk menggunduli rambutnya. Tidak terkecuali. Komandan kompi sampai harus mendatangkan dua orang tukang pangkas rambut. Maka, nampak jelaslah karakter fisik anggota Kompi Aligator, semua kepalanya gundul!
Dari sebelum subuh, kami dibangunkan suara ‘menggelegar’ dari speaker yang terpasang di setiap barak. Mulai dari suara membangunkan tidur yang bernada ‘lembut’. Sampai akhirnya terdengar suara ‘anak Medan’ yang khas, Briptu Wicaksono.
“Banguuuuuuuuuunnnnnnn.”*
Editor: Agung
