Generasi Hebat Lahir dari Ibu yang Taat Syari’at

Naila Ahmad Farah Adiba

Oleh Naila Ahmad Farah Adiba

J5NEWSROOM.COM – “Perempuan itu ngga usah sekolah tinggi-tinggi. Ngapain sekolah tinggi-tinggi, ntar ujung-ujungnya juga bakal di rumah aja!,” ujar orang-orang yang masih berpikir bahwa tugas perempuan hanya berkutat di rumah aja.

Di era saat ini ketika teknologi berkembang pesat, ternyata tidak berbanding lurus dengan perkembangan pemikirannya. Tidak sedikit orang yang masih terperangkap pada pemahaman bahwa perempuan hanya sekadar mengurus rumah, sehingga tidak memerlukan pendidikan yang tinggi.

Ini menjadi salah satu contoh bahwa pemikiran masyarakat kita masih terpaku pada pemikiran barat. Kita bisa melihat bagaimana peradaban dan agama sebelum Islam memperlakukan para perempuan. Sangat keji dan tidak manusiawi.

Dalam buku Yuk, Berhijab! Karya Ustadz Felix Y. Siauw, beliau menjelaskan bahwa nasib wanita sepanjang sejarah manusia memang menyedihkan dan mengerikan. Mereka lebih sering dianggap sebagai objek daripada manusia.

Peradaban Yunani Kuno, Romawi, dan Cina Kuno memperbolehkan wanita diperjualbelikan layaknya budak. Mereka ditempatkan sebagai warga kelas dua yang tidak memiliki hak waris maupun hak sipil. Bahkan di India lebih horor lagi, dalam tradisi Hindu terkenal istilah sati. Sebuah prosesi membakar diri bagi janda yang ditinggal mati suaminya.

Berbeda ketika Islam hadir ke tengah-tengah umat. Islam sangat memuliakan perempuan. Islam memandang bahwa antara perempuan dengan laki-laki tidak ada yang membedakan mereka di hadapan Allah Subhanahu wata’ala kecuali ketakwaannya. Adanya perbedaan peran di antara mereka adalah untuk saling melengkapi bukan menyaingi.

Bahkan, di dalam Islam kita diharuskan untuk menuntut ilmu sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Banyak contoh cendekiawan muslimah. Salah satunya adalah Ibunda Khadijah. Beliau adalah salah satu role model ibu peradaban. Beliau memberikan contoh bahwa perempuan bukan sekadar melahirkan anak semata. Tapi juga mendidiknya untuk menjadi bagian dari pejuang perbaikan peradaban.

Sosok Ibunda Khadijah adalah salah satu contoh bahwa ketaatan seorang ibu mampu menjadi wasilah terlahirnya generasi yang hebat. Beliau adalah orang pertama yang beriman kepada risalah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau juga yang mendedikasikan diri serta hartanya untuk perjuangan di jalan dakwah.

Beliau bukan hanya sekadar Ibu yang setiap pagi menyiapkan sarapan, tapi juga menyiapkan anak-anaknya menjadi generasi yang hebat, pejuang yang tangguh, dan juga taat pada Rabb-nya. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Ibunda Khadijah adalah seseorang yang taat,  terdidik, dan juga cerdas. Sehingga darinya Allah mengaruniakan anak-anak yang shalih-shalihah.

Oleh karenanya jika kita ingin mengikuti jejak Ibunda Khadijah Radhiyallahu Anha, maka kita juga harus berusaha untuk menjadi seorang muslimah yang taat pada Rabb-nya dan juga senantiasa menuntut ilmu. Bukan agar mendapatkan pujian manusia, tapi sebagai usaha untuk mempersiapkan dan memperbaiki diri menjadi muslimah terbaik di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.*

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis adalah siswi SMA bermastautin di Batam