Nasib Argentina Sering Comeback, Berujung Duka!

Bintang Timnas Argentina Lionel Messi menangis usai dikalahkan Spanyol. (Foto: Nett)

Oleh Rosadi Jamani

J5NEWSROOM.COM – Tidak ada lebih menyedihkan dari menjadi orang kedua. Ungkapan ini pasti disenangi mamah muda ni, ups. Itulah yang dirasakan Argentina saat ini. Sering dibully sebagai “anak emas FIFA” dan sering comeback yang membuat jantung penonton mau copot, akhirnya berujung duka. Mari kita ungkap perjalanan Messi cs dari awal sampai dihancurkan Spanyol 1-0.

Datang ke Piala Dunia 2026 sebagai juara bertahan dan peringkat satu FIFA, La Albiceleste tampil meyakinkan di fase grup. Aljazair dihajar 3-0, Austria ditaklukkan 2-0, Yordania dipulangkan 3-1. Sembilan poin sempurna, delapan gol, hanya kebobolan sekali. Pendukung Argentina sudah sibuk mencari lokasi pesta juara. Bahkan muncul teori konspirasi absurd, FIFA sudah memesan pita biru-putih untuk seremoni penyerahan trofi.

Lalu babak gugur datang membawa plot twist. Menghadapi Tanjung Verde berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa, Argentina hampir dipermalukan. Messi mencetak gol ketujuh turnamen sekaligus gol ke-20 sepanjang karier Piala Dunia. Semua merasa aman. Ternyata Tanjung Verde menolak menjadi figuran. Skor terus berubah hingga 2-2. Baru gol bunuh diri lawan pada menit ke-111 menyelamatkan Argentina. Saat itu netizen langsung membuat teori, alien Planet Uranus diam-diam meniup bola agar masuk ke gawang Tanjung Verde. Tidak ada bukti, tetapi tidak ada juga bisa membantah.

Babak 16 besar melawan Mesir lebih gila lagi. Argentina tertinggal 0-2. Pendukung Tango mulai mencari obat darah tinggi. Namun dalam sepuluh menit terakhir, Cristian Romero mencetak gol, Messi menyamakan kedudukan pada menit ke-83, sekaligus mencatat gol ke-21 di Piala Dunia, sembilan laga beruntun selalu mencetak gol, serta menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam enam laga knockout berturut-turut. Enzo Fernandez lalu mencetak gol kemenangan pada menit 90+2. Warga Buenos Aires menangis. Tetangganya ikut menangis. Bahkan penjual empanada lupa menerima pembayaran.

Perempat final melawan Swiss? Extra time lagi, menang 3-1. Semifinal menghadapi Inggris? Menang 2-1 lewat gol Lautaro Martinez. Sebanyak 63 persen gol Argentina lahir pada 15 menit terakhir atau babak tambahan. Mereka mencetak 19 gol, terbanyak sepanjang turnamen. Rasanya Argentina memiliki tombol rahasia bertuliskan “Comeback Mode” yang hanya aktif ketika suporternya hampir pingsan.

Namun setiap keajaiban ternyata punya batas kredit. Final melawan Spanyol menjadi hari penagihan semesta. Tiga kali bermain hingga extra time dan dua kali comeback membuat tenaga Argentina habis seperti baterai ponsel dipakai live streaming semalaman.

Emiliano Martinez tampil luar biasa dengan 11 penyelamatan, rekor terbanyak dalam sejarah final Piala Dunia. Ia seperti memiliki seribu tangan. Namun, seribu tangan pun tidak cukup menghentikan satu sontekan Ferran Torres pada menit ke-106.

Gol itu membuat stadion bergemuruh. Sementara di Buenos Aires, Obelisco seolah ikut tertunduk. Konon, para penggemar tango malam itu memilih mematikan musik. Yerba mate terasa hambar. Daging asado seperti kehilangan aroma. Bahkan bulan di langit Argentina diduga redup lima persen karena ikut bersedih.

Lionel Messi yang berusia 39 tahun menutup turnamen dengan delapan gol dan empat assist serta menjadi pemain pertama yang tampil sebagai starter di tiga final Piala Dunia: 2014, 2022, dan 2026. Rekornya abadi, tetapi trofinya tidak ikut pulang.

Begitulah Argentina. Tim yang berkali-kali bangkit dari jurang, lolos dari maut, dan membuat jutaan pendukung percaya keajaiban selalu ada. Namun di tangga terakhir, keajaiban itu seperti diambil kembali oleh semesta. Sepak bola memang kadang lucu. Ia membiarkan Argentina berkali-kali comeback, hanya agar kekalahan terakhir terasa berkali-kali lebih menyakitkan.*

Penulis adalah wartawan senior bermastautin di Kalbar