Penjajah Israel Bantai Satu Keluarga di Gaza: Ayah, Ibu dan Empat Anak Syahid

Warga Palestina meratapi jenazah mantan polisi Abed Almalek Abu Jobein, di Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, pada 14 Juli 2026. Setidaknya tujuh warga Palestina tewas dalam serangan Israel terhadap sebuah kantor polisi di Jabalia, Gaza utara. (Foto: EPA/MOHAMMED SABER)

J5NEWSROOM.COM, Gaza – Pasukan Penjajah Israel kembali melanjutkan pembantaian lewat serangan udara yang mengincar warga sipil di jalur Gaza. Serangan tersebut dilakukan di tengah gencatan senjata yang masih berlaku antara pihak zionis dan perlawanan yang difasilitasi Amerika Serikat.

Serangan udara Israel menargetkan sebuah apartemen tempat tinggal milik keluarga Al-Masri di lingkungan Al-Sabra, sebelah selatan Kota Gaza. Menurut sumber lokal, pesawat tempur Israel melepaskan tiga rudal ke arah apartemen yang berada di seberang Kamar Dagang di Jalan Thalatini sebelum Subuh pada Selasa(21/7/2026) seperti dilansir Palestine Chronicle.

Serangan itu menewaskan enam anggota keluarga tersebut, yakni sang ayah Firas Ahmed Al-Masri, sang ibu Salsabeel Mohammad Al-Masri, serta empat anak mereka: Naeem, Ferial, Salma, dan Amira.

Jenazah para korban dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Shifa, di mana foto-foto para korban dengan cepat menyebar di media sosial.

Jurnalis dan aktivis Palestina menggambarkan serangan itu sebagai contoh lain dari musnahnya seluruh anggota keluarga selama agresi Israel di Gaza.

Salah satu kesaksian yang dibagikan secara luas menyebutkan bahwa pemboman tersebut telah “mengakhiri hidup sang ayah Firas Al-Masri, istrinya, dan empat anak mereka.”Kesaksian tersebut mengungkap “satu keluarga lenyap dalam sekejap.”

Kesaksian lain menggambarkan betapa korban yang disasar Israel “tidak ada yang terluka—semuanya tewas,”. Sementara itu, saksi lain menceritakan bahwa sang ibu dan empat anaknya dievakuasi dari bawah reruntuhan dalam kondisi hangus terbakar.

Pembantaian ini membangkitkan kembali ingatan akan berbagai serangan sebelumnya di mana serangan Israel ke rumah-rumah warga melenyapkan seluruh keluarga Palestina dari catatan sipil.

Aktivis hak asasi manusia telah berulang kali memperingatkan bahwa serangan terhadap gedung-gedung pemukiman yang padat penduduk dan penggunaan amunisi berdaya ledak tinggi telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar dari kalangan sipil. Di sisi lain, tim penyelamat sering kali harus berjuang selama berjam-jam untuk mengevakuasi korban yang terjebak di bawah reruntuhan.

Faksi-faksi perlawanan Palestina menyatakan pada Selasa bahwa Israel terus melakukan pembantaian terhadap warga Palestina sebagai bagian dari genosida yang masih berlangsung di Jalur Gaza. Pernyataan ini merujuk pada pembunuhan seluruh anggota keluarga Al-Masri dan penargetan Rumah Sakit Yemen Al-Saeed di Gaza utara.

Dalam pernyataan bersama, faksi-faksi tersebut menegaskan bahwa serangan yang memusnahkan keluarga Al-Masri—yang sebagian besar anggotanya adalah anak-anak—serta serangan terhadap rumah sakit, membuktikan berlanjutnya kejahatan brutal Israel meskipun ada upaya yang sedang berlangsung untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Mereka memperingatkan bahwa serangan terhadap keluarga Al-Masri dan Nasman menandai eskalasi berbahaya yang memerlukan intervensi internasional secara mendesak.

Hanya ini yang tersisa dari apartemen yang dihuni keluarga Al-Masri, setelah kobaran api membakar mereka hidup-hidup menyusul serangan udara Israel yang menargetkan rumah tersebut pada Selasa subuh di Kota Gaza.

Faksi-faksi Palestina menyerukan perlindungan bagi warga sipil, pertanggungjawaban bagi pihak yang bertanggung jawab di bawah hukum humaniter internasional, penghentian genosida Israel di Gaza, serta pengimplementasian pemahaman gencatan senjata.

Mereka juga mendesak para mediator dan penjamin internasional untuk meningkatkan upaya dalam menghentikan serangan, memenuhi kebutuhan humaniter yang mendesak di Gaza, dan menjamin perlindungan bagi warga sipil.

Korban Jiwa Terus Bertambah

Pembantaian keluarga Al-Masri terjadi di tengah serangan Israel yang terus berlanjut terhadap rumah-rumah, tenda-tenda pengungsian, dan tempat penampungan di seluruh Jalur Gaza.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, rumah sakit di seluruh wilayah kantong tersebut menerima 10 jenazah warga Palestina yang tewas dalam 24 jam terakhir—termasuk sembilan korban yang baru tewas dan satu korban yang menyerah akibat luka-lukanya—serta 42 orang luka-luka.

Kementerian menyatakan banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan atau tergeletak di jalan-jalan karena tim ambulans dan pertahanan sipil tidak dapat mencapai lokasi di tengah pemboman Israel yang terus berlangsung.

Pihak kementerian menambahkan bahwa sebanyak 1.168 warga Palestina telah tewas dan 3.798 lainnya terluka sejak Israel melanjutkan agresinya menyusul runtuhnya gencatan senjata pada 11 Oktober. Pihak berwenang juga telah menemukan 802 jenazah selama periode tersebut.

Sejak 7 Oktober 2023, genosida Israel di Gaza telah menewaskan 73.293 warga Palestina dan melukai 173.906 orang lainnya, menurut data resmi otoritas Palestina.

Sumber: Republika
Editor: Agung