UNSIA Dorong Pemerataan Pendidikan lewat Transformasi Kampus Berbasis AI

Moment wisuda Universitas Siber Asia (UNSIA), perguruan tinggi berbasis full online pertama di Indonesia di Gedung Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur (Foto: Dokumen Unsi).

J5NEWSROOM.COM, Universitas Siber Asia (UNSIA) menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan tinggi di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Komitmen tersebut disampaikan dalam acara wisuda UNSIA bertajuk “Digital Talent for Village Sustainability: Membangun Indonesia dari Akar, Bergerak dengan Teknologi” yang berlangsung di Gedung Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Sebanyak 1.098 wisudawan mengikuti prosesi tersebut. Dari jumlah itu, 478 wisudawan hadir secara langsung, sedangkan 608 lainnya mengikuti secara daring. Para lulusan berasal dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke, serta sejumlah negara lain, termasuk Bulgaria dan Taiwan.

Ketua Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) Ramlan Siregar mengatakan pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas, bukan sekadar menjadi penanda kemajuan digital.

Menurut dia, UNSIA sejak awal dibangun dengan misi memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan tinggi. Teknologi digital dinilai dapat membantu mengatasi sejumlah kendala, seperti keterbatasan ekonomi, jarak geografis, hingga persoalan waktu.

Ramlan juga menilai talenta digital tidak seharusnya hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri di kota-kota besar. Keahlian tersebut perlu dimanfaatkan untuk menjawab berbagai persoalan di daerah, termasuk sektor pertanian, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Sejalan dengan visi tersebut, UNSIA kini mendorong transformasi institusi menjadi AI Innovator University. Transformasi dilakukan melalui pembangunan ekosistem akademik yang mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan dalam kegiatan pembelajaran.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan kemampuan dosen dan mahasiswa melalui berbagai pelatihan mengenai pemanfaatan AI dalam proses pendidikan. UNSIA juga membangun kerja sama dengan Google dan melibatkan lebih dari 6.000 mahasiswa dalam program Gemini.

UNSIA juga menyatakan telah menjadi Google AI Lab University pertama di Indonesia dan sedang mempersiapkan diri menuju status Google Reference University.

Untuk memperkuat kapasitas akademik di bidang AI, UNSIA turut menghadirkan Prof. Kangbin Yim dari Soonchunhyang University, Korea Selatan. Kehadiran akademisi tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan serta kompetensi sivitas akademika dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.

Rektor UNSIA Jan Youn Cho mengatakan transformasi menuju AI Innovator University merupakan bagian dari strategi kampus menghadapi perubahan kebutuhan pendidikan dan dunia industri.

Menurut dia, penguatan kompetensi melalui pelatihan, kerja sama dengan mitra teknologi, serta keterlibatan pakar AI menjadi bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan masa depan.

UNSIA berharap pengembangan teknologi di lingkungan kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap memasuki industri, tetapi juga mampu menciptakan solusi berbasis digital bagi masyarakat di berbagai daerah Indonesia.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi diharapkan dapat menjadi sarana untuk mempersempit kesenjangan akses pendidikan sekaligus mendorong lahirnya talenta digital yang memberikan manfaat hingga ke tingkat desa.

Editor: Agung