
J5NEWSROOM.COM – Batam sedang menikmati momentum pertumbuhan ekonomi yang kuat. Investasi terus didorong, kawasan industri berkembang, aktivitas galangan kapal meningkat, dan pemerintah daerah bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam berlomba menciptakan iklim investasi yang kompetitif.
Namun, di tengah momentum tersebut, muncul persoalan yang tidak boleh dianggap sepele, pasokan gas untuk dunia usaha Batam dibatasi akibat perawatan sumur pemasok gas.
Bagi sebagian kalangan, persoalan ini mungkin terlihat sebagai urusan teknis. Tetapi bagi industri, energi adalah urat nadi produksi.
Ketika pasokan gas berkurang, persoalannya bukan sekadar api mesin yang mengecil. Dampaknya dapat merembet ke produksi, operasional perusahaan, biaya energi, pemenuhan target produksi, bahkan kontrak bisnis yang telah ditandatangani dengan mitra di dalam maupun luar negeri.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Batam, Rafki Rasyid, menyebut pembatasan pasokan gas berpotensi mengganggu perusahaan yang membutuhkan gas dalam jumlah besar. Kondisi tersebut bahkan diperkirakan berlangsung hingga Desember 2026. Ini bukan persoalan kecil!
Batam adalah kota industri. Maka, setiap gangguan terhadap pasokan energi harus diperlakukan sebagai persoalan strategis yang menyangkut kepentingan ekonomi daerah. Apalagi, persoalan gas Batam bukan hanya mengenai kebutuhan bahan bakar industri. Berkurangnya pasokan gas juga berpotensi memengaruhi pembangkit listrik yang mengandalkan gas sebagai sumber energi.
PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) bahkan menyebut sekitar 70 persen pembangkit di Batam dan Tanjungpinang menggunakan gas sebagai bahan bakar. Artinya, gangguan pada rantai pasokan gas memiliki risiko yang jauh lebih luas.
Bayangkan apabila pasokan energi terganggu, lalu produktivitas industri ikut menurun. Pesanan bisa terlambat. Pengiriman bisa tertunda. Biaya produksi bisa meningkat. Kontrak bisa terancam. Dan pada titik tertentu, kepercayaan investor juga dapat terganggu.
J5NEWSROOM.COM prihatin dengan kondisi pembatasan pasokan gas bagi dunia usaha di Batam ini. Kami memahami bahwa perawatan fasilitas produksi dan sumur pemasok merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sistem. Maintenance memang tidak dapat dihindari. Tetapi, dunia usaha juga membutuhkan kepastian.
Jangan sampai maintenance yang semestinya bersifat sementara justru menimbulkan persoalan baru bagi perusahaan yang telah menyusun rencana produksi, menandatangani kontrak, membayar tenaga kerja, membeli bahan baku, dan memenuhi pesanan pelanggan.
Ingat, investor datang ke Batam bukan hanya karena lokasi yang strategis. Mereka membutuhkan kepastian hukum, kepastian pelayanan, kenyamanan infrastruktur, dan yang sangat fundamental, ketersediaan energi.
Jangan Biarkan Investor Menanggung Sendiri
Karena itu, J5NEWSROOM.COM mengingatkan Pemerintah Kota Batam dan BP Batam agar meningkatkan frekuensi komunikasi dengan kalangan investor dan dunia usaha. Jangan menunggu sampai perusahaan menyampaikan keluhan terlebih dahulu. Pemerintah harus aktif turun mendengar.
Perusahaan yang terdampak perlu dipetakan. Besaran kebutuhan energinya harus diketahui. Potensi kerugiannya harus dihitung. Dampak terhadap produksi dan tenaga kerja harus diantisipasi. Bila diperlukan, pemerintah dapat menyiapkan berbagai skema mitigasi dan insentif untuk membantu dunia usaha yang terdampak.
Merawat investor bukan berarti memberikan fasilitas tanpa batas. Merawat investor berarti memastikan mereka merasa aman, dihargai, dan memiliki kepastian ketika menghadapi persoalan yang berada di luar kendali mereka. Mereka telah menanamkan modal di Batam. Mereka menyerap ribuan tenaga kerja. Mereka juga membayar pajak.
Mereka telah menggerakkan rantai pasok. Mereka juga ikut membangun ekonomi Batam. Karena itu, ketika menghadapi gangguan energi, mereka tidak boleh dibiarkan mencari jalan keluar sendirian.
J5NEWSROOM.COM berharap PT Transportasi Gas Indonesia segera merampungkan pekerjaan perawatan sumur pemasok gas sesegera mungkin. Selama proses maintenance berlangsung, TGI juga perlu menyediakan solusi yang realistis bagi dunia usaha yang terdampak.
Komunikasi harus terbuka. Pelaku industri harus mengetahui skenario pasokan, kemungkinan pembatasan, durasi gangguan, serta langkah mitigasi yang disiapkan. Dunia usaha dapat menyesuaikan produksi jika memiliki informasi yang cukup. Yang sulit adalah ketika perusahaan harus berhadapan dengan ketidakpastian.
Pemerintah Kota Batam dan BP Batam perlu memiliki peta jalan ketahanan energi kawasan industri. Diversifikasi sumber energi, cadangan pasokan, skenario backup, hingga sistem peringatan dini terhadap gangguan energi harus dipikirkan sejak sekarang. Jangan menunggu krisis datang baru mencari solusi.
J5NEWSROOM.COM mengapresiasi langkah BP Batam yang telah berkomunikasi dengan pemerintah pusat untuk meminta tambahan pasokan gas bagi Batam. Langkah tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan solusi konkret. Sebab Batam bukan hanya membutuhkan investasi baru. Tapi, BP Batam juga harus bisa merawat investor yang sudah ada.
Suai?
