Mewujudkan Keharmonisan dengan Ketaatan

Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Batam, L. Nur Salamah, S.Pd. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh L. Nur Salamah, S.Pd.

J5NEWSROOM.COM – Baiknya budi pekerti sungguh akan mendatangkan kebaikan dunia hingga akhirat kelak. Sesungguhnya sikap dan budi pekerti yang mulia akan mendapat balasan berupa tempat di surga.

Adapun sikap atau budi pekerti yang baik akan mengantarkan pada kemuliaan, ketentraman dan keharmonisan.

Demikian halnya dalam membina bahtera rumah tangga. Keharmonisan itu bukan sekadar doa dan keajaiban. Namun harus diwujudkan dengan perjuangan dan pengorbanan baik dari pihak suami maupun istri.

Dalam artikel ini, akan fokus membahas terkait sikap yang baik dan benar bagi seorang istri kepada suaminya.

Pertama, tidak membebani suami di luar batas kemampuan. Sesungguhnya dengan sikap nrimo ing pandum nya seorang istri sangat membantu dalam hal ekonomi. Mengelola sebaik-baiknya harta yang diberikan suami, sehingga cukup untuk dirinya, suami dan anak-anaknya.

Tidak seharusnya seorang istri marah dengan suaminya ketika nafkah yang diberikan berkurang. Seperti contoh: proyek sepi, tidak boleh lagi ada lemburan. Sehingga pendapatan berkurang.

Sebagai seorang istri harus menerima dengan lapang dada karena ini bagian dari qodho’ Allah SWT. Dan harus tetap bersikap positif ketika kondisi sulit sebagaimana bisa bersikap positif saat kondisi lapang.

Kedua, berbakti kepada suami, yaitu senantiasa berterima kasih dengan nafkah yang telah diberikan kepada dirinya. Karena dengan berterima kasih dan mentaati suami, akan membuat hati suami bahagia (sejuk hatinya).

Ketiga, mendidik anak-anak suaminya dengan baik dan penuh kesabaran. Memberikan keteladanan dengan berkata-kata yang baik kepada anak-anaknya, mendoakan mereka dan tidak melaknat atau menghardik mereka.

Terkait larangan melaknat dan berdoa yang jelek-jelek sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu Rasulullah saw. Bersabda yang artinya, “Janganlah kalian berdoa jelek pada dirimu semua, dan janganlah kalian berdoa jelek pada anak-anak kalian, juga janganlah berdoa jelek pada pembantu-pembantu kalian, demikian pula janganlah berdoa jelek pada harta-harta kalian. Jangan sampai kalian menepati waktu yang Allah diminta suatu pemberian pada waktu itu, maka Dia mengabulkannya bagi kalian”.

Di samping itu hendaknya bagi seorang istri mendidik anak-anaknya dengan sikap Zuhud (tidak cinta harta dunia), hidup sederhana dan penyabar.

Kemudian wajib juga bagi seorang istri mengajarkan anak-anak berpengetahuan luas, mengajarkan keimanan, dan Budi pekerti yang mulia serta membuat anak-anaknya mencintai kebaikan dan membenci keburukan.

Keempat, hendaknya seorang istri tidak mengadukan perihal suaminya kepada orang lain. Kecuali bercerita kepada seorang yang fakih akan masalah yang dihadapi untuk mendapatkan solusi.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya, “Sungguh saya membenci wanita yang keluar dari rumahnya dengan menyeret pakainya yang tergerai sampai ke tanah seraya mengadukan perihal suaminya pada orang lain”.

Kelima, seorang istri wajib taat terhadap semua yang diperintahkan suami tanpa tapi tanpa nanti. Selagi perintah tersebut bukan bermaksiat kepada Allah SWT.

Terakhir, seorang istri tidak dibenarkan melawan pendapat suaminya walaupun yakin bahwa pendapatnya adalah benar.

Karena disadari atau tidak, laki-laki diciptakan oleh Allah sebagai qawwam (pemimpin) maka egosentrisnya cenderung lebih tinggi. Dalam Islam dikenal dengan Gharizatul Baqa’. Di sini tidak masalah jika istri harus mengalah. Selagi hal itu bukan yang dilarang oleh agama.

Adapun, menyerahkan semua pendapat kepada suami dalam perkara-perkara biasa yang tidak berdosa itu lebih baik dan lebih utama.

Karena banyak sekali kita jumpai hari ini, masing-masing ingin diakui, saling berusaha memenangkan pendapatnya. Tidak ada yang mau dikalahkan. Wajar jika pada akhirnya muncul berbagai problem, pertengkaran dan goncangan rumah tangga yang berujung pada perceraian. Nauzubillah tsumma nauzubillah.

Mohon perlindungan kepada Allah, agar kita dimudahkan dalam ketaatan dan pengabdian kepada suami. Semoga segala lelah kita dalam ketaatan akan mewujudkan Keharmonisan di dunia hingga mengantarkan pada surga-Nya kelak.

Aamiin aamiin aamiin ya robbal ‘alamin.*

Penulis adalah Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Batam