Sajak Sajak Muchid Albintani

Muchid Albintani lahir di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Sajak-sajaknya terbit dalam antologi, “Menderas Sampai Siak” (2017). “Ziarah Karyawan” (2017). “Segara Sakti Rantau Bertuah Antologi Puisi Jazirah 2” (2019). “Paradaban Baru Corona 99 Puisi Wartawan Penyair Indonesia” (2000). Baca sajak Lantera Puisi V 2018 di Singapura. Buku sajaknya “Rindu Dini” (2015), dan “Revolusi Longkang” (2017)

Hawiyah Melambai Pada Malam Keduapuluhsatu

Hawiyah terus melambai tak berhenti pada malam keduapuluhsatu
entah apa taqwilnya
begitupun selikuran kali azazil melambai lunglai gemuruh
riuh badai perahu hawiyah yang tak oleng kukuh
wirid doa mustajab tak henti berkumandang

Sementara dalam belantara hijauan rimba luluh tersadai murka alam
gegara doa-doa mustajab istisqa tertolak bala
tamak-haloba sang penghalang hujan

Di manakah sang mentari?
manakala hawiyah bersama azazil tetap saja
mengkalkulasi semua buruk sangka pada malam
keduapuluhsatu dengan hitungan
sembilan
tujuh
lima
tanpa tiga
pun tak mewujud satu
bukan ahad
sembari tersenyum

Mereka,
para pemuja azazil terus melambai
memanggil dengan serba serbi sesajian
mengundang murka semesta
melawan kodrati
menolak rizki butiran permata putih yang membasahi
segala noktah kemaslahatan barokah semesta ilahi

Mandalika, mandalika, mandalika
pada malam keduapuluhsatu azab itu akan tiba
yang membuat seluruh semesta raya galau

Hawiyah tetap saja tak berganjak sambil terus memanggil
tubuh yang menggigil panas terbakar cahaya

Mandalika, mandalika, mandalika
azab itu akan tiba
tersebab iman keyakinan kami yang dipersekusi dengan
menyekutu-duakan rabbul azim

Allahu Akbar,
Audzubillahiminasyaitonirojim

Hawiyah terus melambai tak berhenti pada malam keduapuluhsatu
manakala azazil tersenyum simpul
pertanda menang.

Pekanbaru,  7 April 2022

Sajak Doa Doa Itu

Doa doa itu,
bukan doa doa ini

Doa doa itu,
bukan doa doa nya
pun mereka, kita  dan engkau

Doa doa itu,
adalah doa kami
dari negeri kolam susu
tongkat kayu bambu
menjadi umbi

Doa doa itu,
dari kilo mama lima puluh
menuju durian bangkok
menembus formula one
menerjang trunokalah
merengsek medan terjajah

Lalu?

Doa doa itu,
sedang menunggu kode
kosong dua satu
plus satu, plus delapan enam
enam, enam, enam
mendaki piramida pada puncaknya
berubah dari tiga kosong tiga
menjadi plus satu, tetap delapan enam
Doa doa itu,
dari ketinggian langit lapis tujuh
terbang menuju sidrah
menghujam dari lembah
berkah rahmatullah membasuh
negeri kolam susu gemah ripah loh jinawi
astaghfirullah
bertaubahlah

Doa doa itu,
menahan sejenak azab
kaum munafiqun hubbud dunya

Doa doa itu,
kini menunggu kata maaf dari
enam orang ibu yang
melahirkannya.

Pekanbaru, 11  Agustus 2022