Mengenang Thab

Beberapa hari lalu, Kadis Kebudayaan Provinsi Riau, Yoserizal Zen (kanan) membezuk Prof Tabrani bersama budayawan Rida K Liamsi, Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri dan sastrawan Taufik Ikram Jamil. (Foto: Kadis Kebudayaan Riau, Yoserizal Zen)

Oleh Rida K Liamsi

INNALILLAHI wa inna ilaihi rajiun. Minggu, 14 Agustus 2022 pukul 19.45, telah   pergi untuk selamanya, Prof Dr Thabrani Rab,  salah seorang sahabat terbaik, teman dalam senang dan susah, teman yang penuh canda dan penuh ide.

Tokoh masyarakat Riau, tokoh Melayu yang jejak sejarah perjuangannya ada di mana mana. Pekerja keras, seorang etrepreneur sejati. Terimakasih ya Allah, telah Kau beri aku kesempatan bertemu  dengan sahabatku itu menjelang akhir hayatnya.

Tanggal 31 Juli 2022, sehabis asar, saya bersama Presiden Penyair Sutarji Calzoum Bachri, Ketua Harian LAM Riau, Taufik Ikram Jamil dan Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Yose Rizal Zen, menjenguk Thabrani di kediaman anaknya Dr Susiana. Sejak tahun 2015 lalu dia jatuh sakit dan tiga tahun terakhir ini  terbaring, dan koma dan hampir tak mengenal lagi teman teman yang menjenguknya. Ini kunjungan saya yang keempat kali selama dia sakit.

Dia menatap saya, lekat, dengan pandangan yang kosong, tak berkedip. Sementara dua ujung slang oksigen di hidungnya. Dia tampak seperti mengumpulkan memorinya terhadap saya. Sudut bibirnya mengisyarat dia ingin mengatakan sesuatu.

Tubuhnya kurus, dengan pipi yang cekung. Penyakit telah menderanya, dokter ahli paru paru yang dulu, dengan kehendak Allah telah menyelamat beratus nyawa pasienya, termasuk saya.

Dalam suasana haru saya mencoba ikut membongkar memorinya, memori persahabatan kami yang berlangsung bertahun tahun, sejak pertama kali bertemu di Tanjungpinang. Tahun tahun awal dia menamatkan kuliah kedokteranya . Datang dari Bagansiapiapi dan berkeliling ke berbagai tempat di Riau.

Saya bercerita macam macam hal yang lucu lucu, yang berkesan, yang tiba tiba membuat airmata di sudut matanya tergenang. “Dia ingat Datuk, sahabatnya, tapi dia tak bisa bicara,” kata Dr Susisna.

Salah satu kisah yang saya ceritakan adalah tentang sehelai mantel abu abu, woll. Mantel musim dingin yang saya beli di Turki, ketika saya ikut rombongan sejumlah tokoh masyarakat Riau pergi Umrah. Dalam perjalanan pulang kami singgah di Turki. Karena sedang musim dingin, saya membeli mantel. Rombongan kami yang dipimpin Ir Usman Deraman itu juga singgah di Mesir. Bahkan saya dan rombongan berhasil masuk ke Palestina lalu bersiarah ke Masjidil Aqsa. Alhamdulillah.

“Da, saya nak pergi ke Swedia lah. Nak jumpa Hasan Tiro,” katanya pada saya ketika dia mampir ke rumah saya. Itu termasuk peristiwa langka, karena kami biasanya bertemu di klinik paru paru, yang ada patung napalus-nya, di jalan  Sudirman, embrio RS-nya.

“Wak hebat itu, tapi dingin tu Dok. Sekarang lagi musim dingin di Eropa,” kata saya.

“Itulah. Mike ada baju sejuk?”

“Oh ada. Kebetulan saya beli di Turki,” kata saya sambil masuk dalam kamar mengambil mantel musim dingin, woll, abu abu yang agak lasuh potongannya. Sehingga kalau dipakai ujungnya bisa di bawah lutut.

Thab menerima mantel itu, mencobanya, dan pas. Karena badan kami hampir sama. Cuma karena dia lebih rendah dari saya, mantel itu  menjadi lebih kabuh. Tapi dia tampak gagah dengan mantel itu .

Setelah berbincang hilir mudik macam macam cerita, kritik sana kritik sini, senggol kiri senggol kanan, seperti gaya essai-nya, dia pulang. Beberapa hari kemudian saya tahu dia berangkat ke Jakarta, dan sudah itu ke Eropa.

Dia memang sampai ke Swedia. Karena saya lihat fotonya dengan mantel abu abu itu di tengah jalan bersalju. Dia katanya ketemu Hasan Tiro, dan dia katanya berdiskusi macam macam hal dengan tokoh Aceh Merdeka itu, termasuk isu Riau Merdeka!

Seminggu setelah pulang dari Eropa, dia mampir lagi ke rumah saya dan mengembalikan mantel abu abu musim dingin itu.

“Untung ada baju sejuk mike ni Da, bukan main sejuk. Macam nak kojol,” katanya.

Saya ketawa, menerima kembali mantel itu dan menyimpan dalam bilik, dan kemudian kami berbual lagi macam macam hal, sebelum dia pulang.

Entah di mana mantel abu itu sekarang. Tapi dalam kunjungan saya ke Eropa bersama rekan rekan Jawa Pos Group, mantel itu sering saya pakai. Tiap memakai mantel abu abu itu, saya ingat Thab.

Cerita mantel itu saya ceritakan sambil ketawa ketika saya menjenguknya dan Sutarji juga ketawa. Juga kami ketawa karena saya cerita macam macam hal lain. Termasuk hutang budi harian Riau Pos yang saya pimpin waktu itu, yang awal awal terbitnya, masih sangat sulit. Dia pinjamkan saya uang untuk beli kertas koran ke Padang untuk cetak Riau Pos.

“Van, kasilah dulu om Rida ini uang berapa yang ada untuk beli kertas di  Padang,” katanya pada anaknya Ivan, yang mungkin itu uang jajan Ivan anaknya yang kini sudah jadi dokter juga.

Kali lain dia berteriak pada isterinya Evi, supaya pinjamkan dulu uangnya.  “Bu Ef, bantu dulu Rida.” Bu Ef tersenyum. “Balik lagi ya,” kata Thab terkekeh kekeh.

Dia pinjamkan juga saya mesin genset rumah sakitnya yang nganggur untuk dipakai Riau Pos, untuk ngatasi problem listrik yang sering byar pet malam di Pekanbaru ketika tedaksi sedang bekerja.

Dia bantu Riau Pos juga bahagian dari perjuangannya membangun dunia pers di Riau. Dia salah satu pendiri SKM Genta. Dia sahabat para wartawan di Riau.

“Da jangan biarkan Riau Pos mati, Da.” Begitu katanya pada saya ketika melihat saya jatuh bangun menyelamatkan Riau Pos dan melihat saya hampir menyerah.

“To, pergi beli kertas,” katanya pada staf saya Suryanto.

“Ini suntik…, suntik,” katanya .

Hemm luar biasa dia membantu saya membangun Riau Pos itu dulu.

Cerita tentang tindakan cepatnya dia menyelamatkan paru paru saya yang robek karena nikotin, dan tentang saya memberinya kolom tetap di Riau Pos untuk tempat dia menulis tiap Minggu.

Tempias, begitu nama kolom itu, dan Thab mengisi tiap Minggu dengan cerita apa saja. Tak diedit sepatah patah kata pun, kecuali salah tulis. Bertahun tahun, sehingga kumpulan Tempias-nya itu dijadikan buku dan dicetak tiap tahun.

Dan di tengah pertemanan yang akrab itu, saya  menulis puisi untuknya : Kelekatu, yang kemudian saya masukkan sebagai salah satu puisi dalam kumpulan puisi saya ‘Perjalanan Kelekatu’.

Saya senang karena puisi itu dipuji sahabat saya Akmal Nasery Basral, novelis, wartawan, yang membaca kumpulan puisi saya itu ketika dia menemukan buku itu di bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru.

“Bang, saya beli buku abang Perjalanan Kelekatu di bandara dan sekarang sedang menikmati puisi Kelekatu. Menikmati dan merenungkannya,” kata Akmal via telpon genggam nya dari Bandara.

“Ya puisi itu untuk sahabat baik saya, Thabari Rab, yang saya panggil Thab.”

Inilah puisinya :

Kelekatu

Kepada : Thab

Ada ketika kita menjadi seperti kelejatu
Terbang dari lampu ke lampu
Dari pintu ke pintu
Dan akhirnya terdampar di bawah bangku
Tapi tak ada yang menyapa
Tak ada yang bertanya
Kesepian seperti degub maut di ujung stateskop
Hanya kita yang merasa aduhai

Aduhai
Aduhai

Hanya kita yang tahu apa yang tak pernah sampai

Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu
Memandang kilap air dan terhunjam ke batu
Tapi tak ada yang menyapa
Tak ada yang bertanya
Keterasingan seperti lemari masa lalu
Tercuguk di balik pintu
Hanya kita yang merasakan
Keprdihan yang mengalir dalam kabel
Kabel lampu
Hanya senyap

Senyap

Senyap

nya kita yang tahu apa yang tak sempat terucap

Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu
Menunggu resa angin, menjadi isyarat musim
Memburu cahaya dan gugur saat gelap tiba
Tapi tak ada yang tahu bila

Bila

BILA

2006.

Selamat jalan saudaraku, sahabat baik, tokoh pemikir dan entrepreneur yang saya kagumi. Jika melihat Thabrani Rab Center, kompleks pendidikan yang dia bangun bersama anak anaknya melalui Yayasan Thabrani Rab, sekarang, saya selalu bilang : Hebat orang Melayu ini ya!*

Penulis adalah wartawan senior dan budayawan Kepri