Puisi Puisi Muhammad Tajuddin

Muhammad Tajuddin

SAJAK ORANG PENTING

Orang penting berbicara yang penting
pasti dibilang sangat penting
Orang tak penting berbicara yang penting
mesti dibilang sangat tidak penting
Orang penting bicara yang tak penting
harus dibilang tetap penting
Orang tak penting bicara yang tak penting
wajib dibilang begitu tak penting

Di saat krisis menggenting
aku cuma orang tak penting
maka jangan aku kautuding dinting
apalagi dibanting

JERITAN PARA PENYAIR

Serasa aku ingin berhikayat tentang mayat-mayat rakyat
yang bergelimpangan di muara hati sunyi
Karena aku merasa ngeri mendengar nyanyian anak jalanan
yang melayang-layang lalu hilang
di tengah padang ilalang
Serasa aku ingin bercermin di mata gadis jelita
yang lama menunggu sosok bayangan nuraniku
karena aku merasa ciut menatap jeritan para penyair
yang larut di altar kota-kota

CATATAN DAUN-DAUN

Katakan kepada matahari yang coklat itu
kirimkan bayang-bayangku yang berwarna hijau
ke sungai di tangan ibu

Aku sudah mengerti cara daun kawin
kemudian gugur kembali
Seperti juga apapun
aku mengembalikan segala warna kerinduan
ke negeri asalnya
: tiada !

Udara gemetar
lantaran lidah hujan
tak lagi berkata makna musim

LAGU LAUT

senyum purba
pasir dan desir angin
matahari sepenggalahan
bulan berguguran
dan hati putus dalam kebingungan buih
dan ekor kematian melambai
dalam debur ombak

TARIAN PENGHABISAN
      : good bye bali

Kelahiranku tumbuh dari desau angin
maka aku lebih asyik menciptakan bayang-bayang
yang memantul dari pasir-pasirMu

Ya Allah aku adalah buih
yang disayat dan dijilat ombak peradaban
hatiku melontarkan azan dengan suara sumbang
lalat-lalat berhamburan dari keyakinanku yang luka
hanya gonggong anjing memenuhi ruang sujud
membuat tarian bagi perut orang lapar

Dan keringatku membeku menjadi hotel
sebab darah sudah kering diminum srigala
Pada sengangar pasir akhirnya aku bercermin
bercanda dan merenungi potret telanjang
: kecuali hampa
Aku terus menerjemahkan seorang gadis
: hanya lipstik dan beha
yang berayun-ayun di ujung i’tikaf