Puisi Puisi Muhammad Tajuddin

M. Tajudin

I’tikaf Vas Bunga

duduk sendiri, mendengarkan pecahan hutan
yang ditayangkan televisi dari ibu kota. Kamar tamupun bergerak. Jakarta, barangkali kau hanya bisa kupahami lewat ricik air hujan
: hujan airmata

di atas sebuah meja, kudengar sebuah vas bunga
membagi-bagi sisa aroma bagi sujud kesunyianku
: kesunyian yang berlepasan dari matahari
yang lelah melintas-lintas dalam puisi

kepadaku jangan kau bicara lagi tentang
semangkok anggur dalam sajakmu. Sebab aku sedang mencari sebuah negeri yang amat jauh
dalam sajak-sajakku yang perih

sebenarnya kita masih seperti sediakala sendiri
memandangi vas bunga yang kini kita meragukannya
: tersenyum atau mengurai airmata

15122022

SURAT-SURAT TAK SAMPAI

Tak sempat kubaca surat dari nenek moyangku
tentang nyanyian beburung dari masa silamnya
kabarnya burung itu telah terbang bersama
sepucuk surat yang ia kirim dari peta luka
yang ditulis dengan darah bulan

Tak sempat kubaca surat dari ibu
tentang jendela yang tertutup oleh hujan tangis
bagi abad yang bergerak menggeliat di garis-garis bebatuan sejarah

Tak sempat kubaca surat dari anakku
perihal tanah yang dirampas dari tangisnya
pada langit-langit keasingan

Tak sempat kubaca surat-surat yang bertumpuk
di atas meja hingga mereka mengucap-ngucap sendiri
dan menghardikku dengan celurit yang ramah

17122022