Pejabat Turki dan Inggris Bahas Masa Depan Suriah Pasca-Assad di Ankara

Deputi Menteri Luar Negeri Turki Nuh Yilmaz (kiri) dan Diplomat Prancis Franck Gellet, sebelum dimulainya Konferensi Internasional tentang Suriah di Paris, Prancis 13 Februari 2025 lalu.

J5NEWSROOM.COM, Para pejabat Turki dan Inggris akan membahas masa depan Suriah dalam pertemuan di Ankara pada hari Senin, dengan agenda mencakup keamanan, sanksi, dan pembangunan ekonomi. Seorang sumber di Kementerian Luar Negeri Turki menyampaikan bahwa pertemuan ini akan menjadi forum penting bagi kedua negara dalam menyesuaikan kebijakan mereka terhadap Suriah pasca-kejatuhan Bashar al-Assad tahun lalu.

Turki, sebagai anggota NATO, telah lama menjadi pendukung utama kelompok pemberontak yang berjuang melawan Assad. Namun, setelah perubahan pemerintahan di Damaskus, Ankara menjalin hubungan erat dengan pemerintahan baru dan berkomitmen untuk membantu membangun kembali Suriah, termasuk dalam hal pelatihan dan perlengkapan pasukan keamanannya.

Sementara itu, Inggris bulan lalu mengumumkan bahwa mereka akan menyesuaikan kebijakan sanksinya terhadap Suriah. Meski demikian, Inggris tetap berencana mempertahankan pembekuan aset dan larangan perjalanan bagi anggota bekas pemerintahan Assad.

Menurut sumber anonim dari pihak Turki, pembicaraan akan dipimpin oleh Deputi Menteri Luar Negeri Turki Nuh Yilmaz dan Wakil Menteri Luar Negeri Inggris Hamish Falconer. Dalam pertemuan tersebut, Yilmaz akan menekankan pentingnya pencabutan sanksi terhadap Suriah tanpa syarat untuk mempercepat pembangunan kembali dan pemulihan ekonomi negara itu.

Selain itu, Yilmaz akan menyerukan kepada komunitas internasional untuk mendukung langkah-langkah pemerintahan Suriah dalam mencapai rekonsiliasi nasional. Ia juga diperkirakan akan mendesak agar dihentikannya tindakan Israel yang dinilai mengancam dan melanggar kedaulatan Suriah.

Sementara itu, laporan Reuters pada hari Jumat mengungkap bahwa Israel melobi Amerika Serikat agar tetap menjaga Suriah dalam kondisi lemah dan terdesentralisasi. Upaya tersebut termasuk membiarkan Rusia mempertahankan markas militernya di Suriah sebagai langkah strategis untuk mengimbangi pengaruh Turki yang semakin besar di negara itu.

Di sisi lain, Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki Abdulkadir Uraloglu mengumumkan bahwa Turki telah menyelesaikan tahap awal perbaikan dan pemeliharaan Bandara Damaskus, termasuk pemasangan peralatan baru. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Ankara dalam membantu membangun kembali infrastruktur utama Suriah.

Editor: Agung