Salju Longsor di India, Delapan Orang Meninggal

Dalam foto yang dirilis Pasukan Tanggap Bencana Negara (SDRF) menunjukkan, tim penyelamat membawa para pekerja konstruksi Organisasi Jalan Perbatasan (BRO) pasca salju longsor mengubur 50 pekerja, di dekat Desa Mana di distrik Chamoli, India.

J5NEWSROOM.COM, India – Para petugas penyelamat berhasil menemukan mayat kedelapan sekaligus terakhir dari lokasi longsor salju di sebuah daerah terpencil di India utara, Minggu, 2 Maret 2025. Dengan ditemukannya korban terakhir, operasi pencarian yang berlangsung di tengah suhu di bawah nol derajat resmi berakhir.

Longsor salju terjadi pada Jumat lalu, menghantam sebuah kamp konstruksi di dekat desa Mana, Uttarakhand, yang berbatasan dengan Tibet. Lebih dari 50 petugas konstruksi terkubur di bawah salju dan puing-puing akibat bencana ini. Awalnya, pihak berwenang memperkirakan ada 55 pekerja di lokasi kejadian, namun jumlah itu direvisi menjadi 54 setelah salah satu pekerja yang diduga terkubur ternyata telah pulang sebelum longsor terjadi.

Militer India mengerahkan teknologi pencarian berbasis drone, anjing penyelamat, dan berbagai peralatan pendeteksi untuk membantu operasi penyelamatan. Salah satu korban selamat, Anil, yang berusia menjelang 30 tahun, menceritakan pengalamannya setelah berhasil diselamatkan beberapa jam pasca-longsor.

“Malaikat Tuhanlah yang telah datang menyelamatkan kami,” ujar Anil melalui telepon dari ranjang rumah sakitnya kepada AFP. Ia mengaku sempat kehilangan harapan saat terkubur di dalam salju dan masih merasa seperti dalam mimpi setelah berhasil bertahan hidup.

Para pekerja di lokasi merupakan bagian dari proyek yang dikelola oleh Organisasi Jalan Perbatasan. Mereka tinggal di peti kemas baja yang dirancang lebih kuat daripada tenda untuk menahan cuaca ekstrem. Kawasan tersebut terletak di ketinggian lebih dari 3.200 meter di atas permukaan laut dengan suhu minimum mencapai minus 12 derajat Celsius.

Salju longsor dan tanah longsor sering terjadi di wilayah Himalaya, terutama pada musim dingin. Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim semakin memperparah bencana terkait cuaca, sementara pembangunan yang semakin pesat di kawasan Himalaya yang rapuh meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak penggundulan hutan dan konstruksi.

Bencana serupa pernah terjadi di Uttarakhand pada 2021, ketika sebuah potongan besar gletser runtuh ke sungai dan menyebabkan banjir bandang yang menewaskan hampir 100 orang. Pada 2013, banjir dan tanah longsor di musim hujan menewaskan 6.000 orang, yang kemudian memicu seruan untuk meninjau kembali proyek pembangunan di wilayah tersebut.

Editor: Agung