Puisi Puisi Tarmizi Rumahitam

Presiden Komunitas Rumahitam, Tarmizi saat membacakan puisi. (Foto: PWI Kepri)

sajak rumahitam 04122025
: air mata bahaya dan sekarung beras

Bismillahirrahmanirrahim
salam pada alam, langit dan bumi
salam sumatera luka

ini sajak bukan sajak air mata buaya. tapi air mata bahaya, yang baru sahaja kusaksikan

lelaki itu dagang, tidak hanya memikul sekarung beras, tapi air matanya juga deras. lalu tangkapan kamera tak henti henti. saya menyaksikan adegan ini begitu keji

kami tak perlu air mata. kami tak perlu sekarung beras. kami tak punya tungku, tak bisa memasak. rumahrumah kami entah di muara mana berlabuhnya. lalu untuk apa kau datang dengan sekarung beras dan air mata bahaya yang kau bawa.

kami sangat menderita. lalu kau datang bermain sandiwara dengan air mata bahaya dan sekarung beras. tidakkah kau tahu tempoyak belacan. kau lebih teruk lebih beruk dari itu di mataku

hoi
kau yang menanggalkan kaca mata, mengusap air mata bahayamu. setelah kau legalkan penggundulan hutan kami, tapi kau abai dan tak kau awasi, boleh jadi upeti berpetipeti. lalu rumah kami hilang, kampung kami tenggelam, saudarasaudara kami hanyut dan tertimbun meregang nyawa. lalu kau datang menghibur dengan sandiwara sekarung beras dan air mata bahaya. kau memang tak guna. kecik dulu kau tak nak mampus, dah jadi besar susahkan ramai orang, pukimak

kami sedang luka
kembalilah kau ke jakarta, kami ingin benahi kampung kami tanpa sandiwara, tanpa air mata bahaya hingga kami yang menanggung bencana

hoi
sandiwara air mata yang kau bawa dengan sekarung beras itu, takkan mampu mengembalikan kehancuran kampung kami. takkan mengembalikan nyawa kerabat suaudara kami. takkan pulihkan hutanhutan kami. kembalilah ke jakarta, kami telah dewasa dengan bencana, dan kau terbiasa hidup berlimpah harta. pulanglah kau ke jakarta

hoi
tak tahu atau kau purapura buta. kayu gelondongan, bebatuan dan tanah lumpur di depanmu adalah fakta. kayu batu dan tanah lumpur itu bicara. tidak kah kau mendengarnya

pulanglah kau ke jakarta. silahkan kau angkut gelondongan kayu, bebatuan dan tanah tanah lumpur yang menimbun kampung kami, juallah sesuai tarif yang kau sukai. kembalilah kau ke jakarta

lamankata rumahitam, awal desember 2025

Puisi Tarmizi

sajak rumahitam 06122025
: senandung hutan bukit dan gununggunung

Bismillahirrahmanirrahim
salam pada alam, langit dan bumi
salam luka sumatera

tuan
jangan kata ini bencana datang tibatiba, ini adalah senandung hutan bukit dan gununggunung. menenggelamkan kanpungkampung, merenggut nyawanyawa, menyita harap anak cucu saudaraku bangsa sumatera

banjir bandang, tanah lonsor, kayukayu yang terpotongpotong sebelum sempat digotong ke kantongkantong cukong yang saling bekedip mata dengan pemegang tahta dan kuasa, berserakan menimpa rumahrumah kami, menimbun jasadjasad kerabat saudara kami. kami yang tersisa mencoba menjaga kampung kami dengan bekal seadanya, lapar dan dahaga kamipun mulai lupa serupa apa rasanya. sebab bencana telah lama menempa kami tumbuh dewasa

oi
kalian yang lebih iblis dari pada iblis, tak pernah kenyang dan selalunya menebang, menggali tambang beratusratus lobang. kini kampungkampung kami hilang. apakah kalian senang kalian gembira riang

cukongcukong yang saling berkedip mata dengan pemegang tahta dan kuasa, kalian lebih saiton dari pada saiton. sebab para saiton tak pernah mau mengorbankan sesama saiton. tapi tak mengapa, kalian lelaplah tidur di sana, di ranjangranjang empuk, di ruangruang berpendingin, tersenyum menyaksikan derita kami.

kami yang masih tersisa dari senandung hutan bukit dan gununggunung, jangan kira kami termenung, tapi kami sedang merenung memilah untung. kami akan kembali membangun kampungkampung kami, mengalihkan tanahtanah lumpur depan rumah yang tersisa. menumpukkan kayu dan batubatu yang kemarin menyapa murka. kalian tak usah cemas, kami teramat dewasa dengan bencana, tak usah kalian risau.

oi
nanti setelah kampungkampung kami benahi, kalian boleh datang dan bertandang lagi. lalu ke hutan bukit dan gununggunung kami kalian kembali menebang. kami akan sambut kalian dengan senyumsenyum gamang mengambang.

oi
hari ini boleh jadi anakanak kami tak bisa sekolah, tak bisa bercanda di teras rumah. tapi tunggulah, beberapa masa kemuka, anakanak kami yang kini lapar dan dahaga, akan menjelma tukang cerita paling sempurna, mendedah kesah orangorang serakah

oi
hari ini kami lapar tapi tak benarbenar mengenali rasanya. hari ini kami dahaga, tapi kami pun tak tau sesempurna apa rasa hausnya. begitulah, ketika derita itu tak dapat diurai katakata, sebab semesta tak pernah salah membelai penghuninya.

oi
bacalah gelondongan kayu yang kalian sebut tumbang sendiri, gelondongan itu terpotongpotong rapi. mungkinkah banjir bandang itu menjelma setajam sinso dan gergaji, piawai memotong molek sempurna dan rapirapi.

oi
bacalah fakta tanah, bebatuan dan air lumpur yang kemarin datang menggempur, membuat kampungkampung kami hanyut dan terkubur. lalu kalian datang menghibur, datang dengan tangis dan sekarung beras. ada juga yang datang memodifikasi cuaca, datang dengan momentum yang tak santun. ada yang menyebut realita tidak mencekam serupa tayangantayangan media. ada yang singgah memohon maaf, ah adaada sahaja, tempoyak belacan kalian para pembengak.

oi
tak ada sajak indah yang dapat kudedah untuk kalian orangorang serakah. bukan karena banyaknya hanyut rumah, dan kerabat saudaraku yang dibawa arus banjir entah di mana muaranya. sedang senandung hutan bukit dan gununggunung tetap sahaja kami yang menanggung. dan kalian hanya fasih menghitunghitung untung

lamankata rumahitam, awal desember 2025

Puisi Tarmizi

sajak rumahitam 06122025
:raja judi raja balak raja bengak

Bismillahirrahmanirrahim
salam pada alam, langit dan bumi
salam luka sumatera

raja judi
raja balak
raja bengak
paham memusing balak enam jadi balak kosong, di meja domino bercengkrama dengan saudagar pembabat hutan sumatera dan kalimantan. dia raja, raja bongak, raja bengak tempoyak belacan

meski raja, tapi otaknya dungu. ia berjudi di atas derita kami. hilangnya rumah, kampung dan kerabat saudara kami, katanya momentum yang baik. betullah kau raja bengak

oi
raja tempoyak belacan, kau memang patut di meja domino. tapi kenapa kau jadikan bencana kami sebagai taruhan dan momentum. kau tak paham, bahasa menunjukkan bangsa. bangsa apakah kau? bangsa dungu atau bangsa berudu.

raja balak raja bengak raja judi,
kampung kami sedang berduka. hutan kami menunjukkan fakta. kayu balak dan air lumpur itu telah bicara, tentang kenyataan bukit gunung dan hutan kami telah kau jadikan taruhan, lalu kampung kami tenggelam, dusun kami tertimbun, banyak kerabat saudara kami meregang nyawa. semua kau jadikan momentum yang baik. apanya yang baik, baiknya kau pulang ke asal kau datang, jika kau datang dari kandang, pulanglah ke kandang. jika kau datang dari partai, kembalilah kau ke partai. kami ingin membenahi kampung kami, jangan usik kami sebagai momentum, sebab  kuntum telah hanyut dibawa banjir bandang sebelum sempurna jadi bunga. tapi kau raja bengak raja bongan tak paham membaca tanda tanda, sedang fakta dah depan mata, dasar kau bengak bermata buta

boleh jadi namamu raja, tapi otakmu hampa. bisa jadi kau lahir bulan juli, november bencana tiba pada kami. bencana momentum baik katamu, mukin otakmu udang, hanya taik yang bersarang. karenanya lebih baik kau pulaung ke ibukota. boleh jadi masih banyak izin alih fungsi hutan kami yang perlu kau tandatangani. pulanglah kau. biarkan bencana bersama kami, kami telah khatam tumbuh dalam derita. selamat jalan kembali ke jakarta, raja balak raja bengak, terimakasih telah singgah ke kampung kami yang punah ranah

lamankata rumahitam, awal desember 2025