Diklat PPIH Semi Militer Itu Menyehatkan dan Menyenangkan

Para peserta Diklat PPIH 2026 sedang latihan baris berbaris. (Foto: Saibansah/J5NEWSROOM.COM)

J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Hari keenam, peserta Diklat (Pendidikan dan Latihan) PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi, semakin bugar dan mulai terbangun jiwa kebersamaannya. Apa saja yang dilatihkan kepada para calon petugas PPIH itu?

Berikut catatan Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani yang juga menjadi salah satu peserta Diklat PPIH Arab Saudi 2026 tersebut.

Sebanyak 1.659 orang calon petugas PPIH Arab Saudi itu memasuki Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Sabtu 10 Januari 2026 lalu. Begitu masuk gate, mereka langsung diarahkan ke Gedung Utama. Dikumpulkan dalam satu kelompok, terdiri antara 10 hingga 20 orang. Lalu, mereka diminta berjejer rapi, seperti mengatur shaf sholat. Tidak saling kenal.

“Semua berbaris, silahkan menuju gedung tempat registrasi masing masing,” suara lantang dan tegas keluar dari mulut pria pakai celana loreng dan kaos bertuliskan “instruktur”.

Itulah ‘sambutan’ pertama para anggota TNI-Polri yang nantinya mendampingi, melatih sekaligus mengawasi kami sepanjang hari. Apa yang kami makan, itu pulalah yang mereka makan. Kita tinggal di gedung yang sama. Tidak ada gerak gerik dan pergerakan para calon PPIH Arab Saudi peserta Diklat yang lepas dari pantauan mereka.

Setiap pagi dan malam hari mereka memimpin apel, mengecek jumlah peserta serta mendisiplinkan ketepatan waktu kehadiran.

“Disiplin ini sangat penting bagi suksesnya para petugas haji saat bertugas di tanah suci, di sana tidak boleh telat dalam melayani jemaah haji,” ujar Komandan Kompi A Diklat PPIH Arab Saudi 2026, Mayor Laut (PM) Kangian kepada J5NEWSROOM.COM.

Setiap pagi, siang dan sore hari, Kangian dibantu para instruktur lain dari satuan TNI-Polri melatih kami baris berbaris. “Saya senang bisa ikut jadi bagian dari peserta program Diklat ini, badan jadi lebih bugar dan antar peserta jadi semakin kompak, seperti saudara,” ujar Wandra, seorang peserta Diklat dari Ternate berusia di atas kepala lima.

Selain itu, tambah Wandra, instruktur juga melatih dengan humanis, tidak ada hukuman fisik, seperti push up atau guling guling. Ternyata, pelatihan fisik semi militer di sini menyenangkan, tidak seperti yang dibayangkannya sebelum ke sini.

Peserta Diklat PPIH 2026 mengikuti latihan baris-berbaris. (Foto: Saibansah/J5NEWSROOM.COM)

Lalu, sebebarnya apa sih manfaatnya latihan baris berbaris itu?

Seorang peserta Diklat PPIH 2026, Ahsanul Fuad Saragih merangkai dengan apik artikel manfaat dan pentingnya latihan baris berbaris. Berikut poin paparannya:

Latihan baris-berbaris kerap dipersepsikan sebagai aktivitas khas militer yang identik dengan kekerasan dan kekakuan. Namun, di balik itu, baris-berbaris dinilai memiliki peran penting dalam pembentukan karakter individu, terutama dalam aspek disiplin, pengendalian diri, dan kebersamaan.

Sejumlah kajian psikologi perilaku dan pendidikan karakter menunjukkan adanya korelasi kuat antara latihan baris-berbaris dan kemampuan self-regulation atau pengendalian diri. Dalam baris berbaris, peserta dilatih untuk patuh pada instruksi, menahan impuls pribadi, serta menyesuaikan diri dengan ritme kelompok.

Kemampuan ini berkaitan langsung dengan fungsi prefrontal cortex pada otak, yang berperan dalam pengambilan keputusan, kontrol emosi, perencanaan, dan kepatuhan terhadap aturan. Tak heran, individu yang terbiasa dengan PBB cenderung lebih tertib, tidak reaktif, dan memiliki pola kerja yang terstruktur.

Selain itu, latihan baris-berbaris juga memperkuat ikatan sosial. Ketika sekelompok orang bergerak serempak dengan langkah, arah, dan tempo yang sama otak memproduksi hormon oksitosin yang berperan dalam membangun rasa keterikatan dan kebersamaan. Hal ini melahirkan rasa loyalitas, solidaritas, serta kesadaran kolektif bahwa kepentingan bersama lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Dalam baris-berbaris, ego individu secara perlahan dilebur. Tidak ada ruang untuk menonjolkan diri, karena setiap kesalahan akan berdampak pada barisan secara keseluruhan. Proses ini melatih tanggung jawab kolektif sekaligus menumbuhkan rasa malu yang sehat, yakni kesadaran moral ketika tindakan pribadi merugikan kelompok.

Para peserta Diklat PPIH 2026. (Foto: Saibansah/J5NEWSROOM.COM)

Kesan “keras” yang melekat pada baris berbaris sejatinya merupakan bagian dari proses pembentukan karakter. Latihan ini secara sengaja mematahkan sikap impulsif, egosentris, dan kebiasaan bertindak semaunya. Dalam perspektif Islam, proses tersebut sejalan dengan konsep riyāḍah an-nafs, yakni latihan untuk menundukkan dan mendidik jiwa.

Nilai-nilai baris berbaris bahkan memiliki kesamaan dengan praktik ibadah berjamaah, seperti shalat. Dalam shalat berjamaah, umat Islam diajarkan untuk berdiri lurus, mengikuti imam, tidak mendahului, dan menjaga keteraturan. Prinsip ini menunjukkan bahwa keteraturan fisik beriringan dengan pembentukan spiritual dan sosial.

Sebaliknya, generasi yang minim latihan kedisiplinan kolektif semacam baris berbaris dinilai lebih rentan secara mental dan sosial. Tanpa pembiasaan tunduk pada aturan dan sistem, individu cenderung sulit bekerja sama, mudah tersinggung, dan rapuh menghadapi tekanan. Kondisi ini kerap memicu konflik internal dalam organisasi dan melemahkan kekompakan.

Dengan demikian, latihan baris-berbaris tidak semata-mata soal militerisasi, melainkan dapat dipahami sebagai “teknologi” pembentuk karakter. Melalui PBB, nilai-nilai disiplin, pengendalian diri, loyalitas, ketahanan mental, kebersamaan, dan ketaatan pada struktur dapat ditanamkan secara sistematis.

Tak mengherankan jika sejak dahulu negara, lembaga pendidikan, pesantren, hingga pasukan Rasulullah SAW menerapkan formasi dan barisan sebagai bagian dari pendidikan dan pembinaan umat.