Paling Enak Komandannya TUHAN

Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional, Dr Aqua Dwipayana. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh Dr Aqua Dwipayana

“Paling enak kalau komandannya Tuhan seperti yang selama ini Bang Aqua alami. Kalau masih manusia komandannya banyak yang aneh-aneh,” ucap Irjen Pol Purn Yehu Wangsajaya.

Jenderal rendah hati itu menyampaikan hal tersebut setelah membaca tulisan saya yang berjudul “Komandan Sensi”. Selama puluhan tahun di Polri mulai pangkat Letda hingga bintang dua, Yehu telah mengalami dipimpin banyak komandan. Sebaliknya pernah jadi komandan.

Selama dipimpin banyak komandan —jumlahnya lebih dari 10 komandan— pria yang telah menulis berbagai buku itu makin memahami karakter seorang atasan. Semua ada plus minusnya.

Yehu mencontoh semua keteladanan para komandannya. Sebaliknya menjadikan pelajaran berharga dari yang dilakukan atasannya yang tidak menyenangkan dirinya dan teman-teman sesama bawahan.

Saat ia jadi komandan, keteladan para pimpinannya dicontoh untuk diterapkan. Merasakan kebahagiaan jajarannya. Perasaannya sama ketika jadi anak buah.

Konsisten Baik ke Bawahan

Saya mengalami hal yang sama dengan Yehu. Selama 17 tahun jadi pegawai, dari 1988 hingga 2005 di sembilan perusahaan yang berbeda-beda, merasakan banyak pimpinan. Tidak semua menyenangkan. Ada atasan yang sama sekali tidak menunjukkan keteladan.

Atasan yang perilakunya negatif itu cari aman saja. Selalu menyalahkan bawahannya. Padahal sebagai pimpinan seharusnya ia yang paling bertanggung jawab.

Ada juga pimpinan yang tidak peduli pada kesulitan dan masalah yang dialami anak buahnya. Maunya tahu beres semuanya.

Selain itu saya pernah merasakan atasan yang “angin-anginan”. Kalau perasaannya sedang enak, baik kepada semua jajarannya. Sebaliknya anak buah jadi “sasaran” jika kondisinya sedang tidak enak atau ada masalah.

Semua pengalaman itu berharga sekali, terutama saat saya mendapat amanah jadi atasan. Berusaha melakukan yang terbaik termasuk membuat jajaran nyaman.

Pengalaman negatif yang pernah saya rasakan, semaksimal mungkin tidak diulangi kepada yang lain. Doa dan harapannya dicontoh oleh mereka yang pernah merasakan untuk konsisten diterapkan saat mendapat kesempatan memimpin.

Atasan Paling Obyektif

Yehu sangat benar bahwa paling enak saat memiliki atasan TUHAN. Saya telah merasakan itu selama puluhan tahun. 31 September 2026 mendatang genap 21 tahun saya “bebas merdeka” setelah tidak lagi jadi pegawai.

Sejak itu atasan saya satu-satunya hanya TUHAN. Merupakan yang terbaik di antara semuanya.

Pengalaman saya selama 17 tahun jadi pegawai, dipimpin banyak orang. Sifat mereka beragam. Ada yang baik sekali. Sebaliknya ada yang parah banget.

Saya sangat bersyukur pernah merasakan semua itu. “Jam terbang” saya jadi bertambah dengan mengalami hal tersebut.

TUHAN adalah satu-satunya atasan yang paling obyektif. Memberikan hadiah dan hukuman sesuai dengan kinerja yang dipimpinnya.

Dengan sikap obyektif tersebut menjadi lebih semangat untuk selalu melakukan yang terbaik. Sebelum melaksanakannya sudah bisa membayangkan yang bakal diperoleh dari perbuatan baik itu. Sekali pun tidak pernah meleset.

Hal tersebut membuat makin ketagihan untuk mengoptimalkan kinerja sehingga menghasilkan yang terbaik. Balasannya telah jelas sekali. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Kesimpulannya, setelah mengalami banyak pimpinan, jangan ada keraguan sedikit pun untuk beralih ke TUHAN sebagai atasan. Yakinlah itu yang terbaik sampai akhir hayat manusia.

Penulis adalah Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional