
J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Guru Besar Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Abdul Mujib, menekankan bahwa Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bukan sekadar prosedur teknis, melainkan proses pembinaan kesadaran untuk mencetak petugas haji yang mabrur.
Dalam materi psikologi petugas haji yang disampaikannya pada Diklat PPIH, Abdul Mujib menjelaskan bahwa tidak semua petugas hadir dengan tingkat kesadaran yang sama. Ia membagi peran PPIH ke dalam tiga tingkatan.
Pertama, being, yaitu petugas yang hadir secara formal, mengejar keuntungan profesional, dan berpotensi menimbulkan persoalan dalam pelayanan. Kedua, belonging, petugas yang mulai berperan aktif melayani jemaah sesuai tugas pokok dan fungsinya. Ketiga, becoming, level tertinggi di mana petugas hadir secara utuh, bersikap responsif, solutif, dan menjalankan tugas dengan kesadaran penuh.
Menurut Abdul Mujib, diklat diperlukan agar petugas dapat bergerak dari sekadar being menuju becoming. Terlebih, PPIH merupakan hasil seleksi ketat dari lebih dari 11 ribu peserta. “Tugas ini adalah amanah, bukan sekadar pekerjaan,” ujarnya.
Abdul Mujib menambahkan bahwa kemabruran PPIH memiliki dimensi yang luas. Kemabruran biologis terlihat dari kemampuan menjaga kesehatan fisik sebagai modal utama pelayanan. Kemabruran psikologis tercermin dari kematangan jiwa dalam mengelola emosi, niat, dan tekanan kerja sehingga pelayanan dijalankan dengan sabar dan ikhlas.
Selain itu, terdapat kemabruran sosiologis, yakni kepekaan membangun relasi sosial; kemabruran spiritual, yang berpijak pada kelurusan niat ibadah; serta kemabruran profesional, tercermin dari disiplin, kompetensi, dan layanan prima.
“Ketika petugasnya mabrur, pelayanan haji akan lebih manusiawi dan bermartabat,” kata Abdul Mujib. Ia menekankan bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh kualitas kesadaran dan pengabdian para petugasnya.
Editor: Saibansah Dardani
