
Oleh Rosadi Jamani
Based on true story. Kisah seorang istri warga Malaysia, menikah dengan orang Indonesia. Setelah punya dua anak, si suami kawin lagi. Sang istri telantar dan harus menjadi cleaning servive untuk bertahan hidup. Merasa terlantar di Indonesia, ia memilih pulang ke negaranya. Simak cerpennya sambil seruput Koptagul, wak!
Delapan belas tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah wajah seorang perempuan menjadi peta penderitaan. Di sudut Lombok yang panasnya seperti ejekan langit, berdirilah seorang perempuan bernama Norida Akmal Ayob, 45 tahun.
Ia datang dari Malaysia dengan cinta sebagai paspor dan harapan sebagai koper. Ia meninggalkan kampungnya di Bukit Sapi, Lenggong, menyeberangi laut demi seorang lelaki yang ia yakini akan menjadi rumah. Cinta memang sering kali seperti iklan properti, brosurnya indah, realitasnya retak di sana-sini.
Di Lombok, Norida membangun hidup dari nol. Ia belajar bahasa yang sama tapi terasa berbeda. Ia menanak nasi dengan rasa rindu yang tak pernah matang. Ia melahirkan harapan demi harapan, dua anak yang menjadi alasan ia tetap berdiri meski dunia gemar merobohkannya.
Namun pernikahan itu tak bertahan lama. Suaminya pergi, menikah lagi, seolah kesetiaan hanyalah kontrak musiman yang bisa diperbarui sesuka hati. Tinggallah Norida bersama dua anak dan kemiskinan yang tak kenal kompromi. Negara boleh punya undang-undang, tetapi nasib sering kali lebih kejam dari birokrasi mana pun.
Untuk bertahan hidup, Norida menjadi petugas kebersihan. Setiap pagi ia menyapu lantai-lantai orang lain. Sementara hidupnya sendiri tak pernah benar-benar bersih dari luka. Ia membersihkan debu, mengangkat sampah, mengelap noda. Ironis, perempuan yang ditinggalkan itu justru menjadi penjaga kebersihan dunia, sementara hidupnya dikotori ketidakadilan.
Di antara sapuan dan pel yang basah, ia membesarkan dua anak dengan kewarganegaraan berbeda. Nur Fateen Akmadiana, lahir di Malaysia, memegang status warga negara Malaysia. Muhamad Sabani Daniel, lahir di Indonesia, berstatus warga negara Indonesia. Dua anak, dua paspor, satu ibu yang nyaris tak punya apa-apa kecuali keteguhan.
Nuan bayangkan! Seorang ibu yang bahkan tak mampu memastikan pendidikan anaknya berlanjut. “Anak-anaknya tidak dapat melanjutkan sekolah dan telah ditelantarkan,” ujar Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia, Shamsul Anuar Nasarah dalam unggahan Facebook pada Minggu (15/2/2026). Kalimat itu terdengar administratif. Rapi. Formal. Tapi di baliknya ada malam-malam panjang ketika Norida menahan tangis agar anak-anaknya tak ikut hancur.
Shamsul mengungkapkan, pernikahan Norida tak berlangsung lama dan ia hidup sendirian dalam kemiskinan dan kekurangan. Kata “kemiskinan” sering terdengar biasa di berita. Tetapi bagi Norida, kemiskinan adalah perut yang harus dibohongi, adalah seragam sekolah yang tak pernah terbeli, adalah doa yang diulang-ulang sampai suara menjadi serak.
Kisahnya akhirnya sampai ke telinga pemerintah setelah keluarga di Kampung Bukit Sapi melaporkan kondisinya. Delapan belas tahun. Hampir dua dekade seorang perempuan bertahan sendirian di negeri orang sebelum akhirnya didengar. Dunia memang sering tuli, kecuali jika tragedi sudah cukup dramatis untuk jadi status media sosial.
Proses repatriasi pun dilakukan melalui kerja sama Wisma Putra, Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia, Departemen Imigrasi Malaysia, dan otoritas imigrasi Indonesia. Shamsul menyebut ia mengirim petugas yang dipimpin Dazma Shah Daud bersama sekretaris pribadinya ke Lombok untuk memulangkan Norida. Kalimat-kalimat itu terdengar seperti laporan resmi. Tapi bagi Norida, itu adalah pintu yang akhirnya terbuka setelah bertahun-tahun ia mengetuk dalam sunyi.
“Alhamdulillah, mereka sekarang sudah kembali ke Tanah Air dengan selamat,” tambah Shamsul.
Tanah Air. Dua kata yang sederhana, tapi bagi Norida ia adalah pelukan yang tertunda delapan belas tahun. Ketika pesawat yang membawanya lepas landas dari Indonesia, mungkin ia tak lagi menangis keras. Tangisnya sudah terlalu lama habis. Yang tersisa hanya getar kecil di dadanya, antara lega dan takut memulai lagi.
Ia pulang bukan sebagai pemenang. Ia pulang sebagai penyintas.
Di bandara, mungkin tak ada karpet merah. Tak ada orkestra. Hanya keluarga yang menunggu dengan mata sembab. Norida berdiri di sana, perempuan yang pernah datang ke negeri seberang dengan cinta, lalu pulang dengan luka, namun tetap membawa dua anak yang menjadi bukti bahwa ia tak pernah menyerah.
Jika ada yang masih menganggap kisah seperti ini sekadar berita singkat di lini masa, mungkin mereka belum pernah menjadi ibu yang menyapu lantai sambil menyembunyikan tangis. Karena di dunia yang gemar berbicara tentang pembangunan dan kemajuan, sering kali yang paling tertinggal adalah seorang perempuan yang berjuang sendirian, terlalu kuat untuk mengeluh, terlalu lelah untuk menangis.
Malam itu, di kamar sederhana di tanah kelahirannya, Norida mungkin akhirnya bisa tidur tanpa rasa asing. Untuk pertama kalinya setelah delapan belas tahun, ia tak lagi menjadi orang luar di mana pun.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
