
J5NEWSROOM.COM, Gaza – Rencana pemulihan Gaza yang digagas Dewan Perdamaian alias Board of Peace (BoP) disebut berjalan di tempat di tengah desakan Israel agar kelompok perlawanan Palestina, Hamas, segera dilucuti. Pemerintah Israel bahkan mengancam akan kembali melancarkan perang skala penuh jika pelucutan senjata tidak segera dilaksanakan.
Tahap kedua gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat sejak Januari lalu mencakup pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel, serta pembentukan pemerintahan sementara Palestina di Gaza yang didukung kepolisian Palestina dan pasukan stabilisasi internasional (ISF). Namun laporan The Guardian menyebut rencana 20 poin tersebut belum memiliki kejelasan urutan pelaksanaan, sementara Israel menuntut perlucutan senjata total sebagai langkah awal.
Menteri Keuangan Israel dari kubu sayap kanan, Bezalel Smotrich, mengatakan Hamas diperkirakan segera menerima ultimatum dari Washington. “Diperkirakan, dalam beberapa hari mendatang, Hamas akan diberikan ultimatum untuk melucuti senjata dan mendemiliterisasi Gaza sepenuhnya,” ujarnya. Ia menambahkan, jika Hamas menolak, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) akan memperoleh legitimasi internasional dan dukungan Amerika untuk bertindak sendiri.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar disebut telah menyampaikan kepada kabinet keamanan bahwa Presiden AS Donald Trump akan menyampaikan ultimatum tersebut dalam waktu dekat. Namun dalam pidato kenegaraannya, Trump tidak menyinggung soal ultimatum maupun BoP, meski sebelumnya ia memuji dewan tersebut sebagai terobosan penting.
Ketidakjelasan juga muncul soal siapa yang akan menerima dan mengelola senjata Hamas jika pelucutan dilakukan dalam tenggat 60 hari. Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) yang beranggotakan teknokrat Palestina non-afiliasi masih berkumpul di Kairo dan belum siap masuk ke Gaza. Laporan Israel Hayom menyebut NCAG akan mengusulkan pelucutan bertahap selama enam bulan, dimulai dari senjata berat hingga senjata ringan, termasuk penyerahan peta terowongan bawah tanah Gaza.
Namun analis meragukan skema tersebut. Michael Milshtein dari Forum Studi Palestina di Universitas Tel Aviv menilai rencana itu lebih menyerupai angan-angan ketimbang strategi matang. Ia menilai tanpa jaminan penarikan pasukan Israel dan pelucutan kelompok bersenjata lain, Hamas kecil kemungkinan menyerahkan aset utamanya.
Analis Gaza di Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa, Muhammad Shehada, menilai Hamas kemungkinan hanya bersedia membekukan atau mengunci senjata ofensif seperti roket, tetapi tetap mempertahankan senjata ringan untuk perlindungan internal. “Detail dalam laporan Israel Hayom akan segera ditolak oleh Hamas,” ujarnya. Ia juga menilai pendekatan Israel berpotensi menjadi resep menuju perang baru.
Di sisi lain, sejumlah negara seperti Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania disebut siap berkontribusi dalam pasukan ISF berkekuatan 20 ribu personel. Namun mandat pasukan itu belum disepakati. Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menegaskan Indonesia tidak akan terlibat dalam operasi militer maupun pelucutan senjata. “National caveat kita juga sudah kita sampaikan ke ISF bahwa kita tidak melakukan operasi militer. Kemudian kita tidak melakukan pelucutan senjata, kita tidak melakukan apa yang disebut demiliterisasi,” kata Sugiono di Washington DC.
Ketegangan semakin terasa setelah The Times of Israel melaporkan pesan dari pimpinan Hamas di Gaza kepada politbiro di Qatar yang menyatakan kesiapan menghadapi serangan ulang IDF. Sementara Smotrich secara terbuka memprediksi pelucutan senjata akan gagal dan membuka jalan bagi pendudukan penuh Israel atas Gaza.
Peneliti senior Royal United Services Institute, HA Hellyer, menilai pendekatan yang menjadikan pelucutan senjata Hamas sebagai prasyarat utama akan menggagalkan keseluruhan rencana. “Proses ini dibuat bergantung pada pelucutan senjata Hamas; jika tidak, segala sesuatunya akan tertunda sementara, sampai Israel memutuskan untuk kembali melakukan perang skala penuh. Ini bukanlah situasi yang memberikan hasil positif,” ujarnya.
Dengan posisi yang saling mengeras, progres BoP pun tampak tersendat, sementara ancaman kembalinya perang di Gaza kembali membayangi kawasan tersebut.
Sumber: Republika
Editor: Agung
