
J5NEWSROOM.COMPernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengklaim kemenangan atas Republik Islam Iran dinilai tidak berdasar. Pandangan tersebut disampaikan oleh mantan Kepala Intelijen Inggris MI6, Sir Alexander William Younger.
Menurut Younger, hingga saat ini serangan yang dilakukan AS bersama Israel terhadap Teheran belum menunjukkan tanda kemenangan bagi pihak penyerang. Ia justru menilai Iran berada dalam posisi lebih unggul dalam konflik tersebut.
Dalam wawancaranya, Younger menyatakan bahwa Iran mampu menunjukkan kesiapan dan kekuatan yang telah dipersiapkan jauh sebelumnya dalam menghadapi tekanan dari AS dan Israel, termasuk di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu.
Younger, yang memimpin MI6 pada 2014–2020, menilai ada sejumlah faktor yang membuat Iran lebih unggul. Salah satu yang paling penting adalah kesiapan mental dan moral dalam menghadapi perang. Ia juga menilai AS meremehkan kemampuan Iran sejak awal konflik.
Ia menambahkan bahwa situasi semakin memanas setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada awal invasi 28 Februari 2026. Menurutnya, peristiwa tersebut justru memperkuat tekad Iran dalam menghadapi serangan dari luar.
Younger menjelaskan bahwa Iran telah mempersiapkan diri sejak pertengahan 2025, dan kematian Khamenei semakin memperkuat persepsi bahwa konflik ini bersifat eksistensial bagi negara tersebut. Alih-alih melemahkan, tekanan dari AS dan Israel justru meningkatkan daya tahan Iran.
Ia juga menilai strategi Iran dilakukan secara luas dan terukur, termasuk dengan menargetkan pihak-pihak yang dianggap mendukung AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Langkah ini, menurutnya, memperluas konflik dan meningkatkan ketegangan regional.
Akibatnya, konflik tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas global, dengan meningkatnya risiko krisis yang lebih luas.
Editor: Agug
