Memprediksi Berakhirnya Perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel

Ilustrasi perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel. (Foto: Nett)

Oleh Erlangga Pratama

PERANG Iran melawan agresor Amerika Serikat dan Zionis Israel pecah pada 28 Februari 2026, di tengah berlangsungnya negosiasi terkait program nuklir Iran. Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, antara lain Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, serta sejumlah pejabat penting lainnya seperti Ali Larijani, Ali Shamkhani (Kepala Dewan Pertahanan Nasional), Mohammad Pakphour (Panglima IRGC), Amir Nadzrizadeh (Menteri Pertahanan), Abdolrahim Mousavi (Kepala Staf Angkatan Bersenjata), hingga Menteri Intelijen Esmail Khatib.

Esmail Khatib dilaporkan tewas dalam serangan terarah pasukan Israel di Teheran. Selain itu, komandan pasukan Basij Iran, Gholamreza Soleimani, juga dilaporkan meninggal dunia.

Sebelumnya, militer Israel (IDF) menyebut Khatib diangkat ke posisinya pada 2021 oleh Ayatollah Ali Khamenei, yang turut menjadi target serangan pada awal perang. Iran kemudian membalas dengan menyerang negara-negara Teluk serta menargetkan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan global.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Serangan ini menyebabkan kerusakan sekitar 800 juta dolar AS (Rp13,5 triliun) dalam dua pekan pertama, menurut laporan Center for Strategic & International Studies (CSIS) dan analisis BBC.

Sebagian besar kerusakan terjadi pada pekan pertama setelah operasi militer AS dan Israel dimulai. Pejabat Departemen Pertahanan AS melaporkan biaya perang mencapai 11,3 miliar dolar AS dalam enam hari pertama, dan meningkat menjadi 16,5 miliar dolar AS dalam 12 hari pertama. Pentagon bahkan mengajukan tambahan anggaran sebesar 200 miliar dolar AS.

Kerusakan akibat serangan Iran mencakup sistem pertahanan udara dan fasilitas komunikasi satelit milik AS di sejumlah negara, termasuk Yordania dan Uni Emirat Arab. Salah satu kerusakan terbesar terjadi pada radar sistem pertahanan rudal THAAD di Yordania, dengan nilai mencapai 485 juta dolar AS.

Selain itu, kerusakan infrastruktur lain diperkirakan mencapai 310 juta dolar AS. Analisis citra satelit menunjukkan Iran menyerang beberapa pangkalan udara, termasuk Ali Al Salem di Kuwait, Al Udeid di Qatar, dan Prince Sultan di Arab Saudi.

Serangan tersebut dilaporkan melemahkan sistem pertahanan AS, bahkan memaksa pemindahan komponen THAAD dari Korea Selatan ke Timur Tengah. Iran diduga mampu melakukan serangan presisi karena memperoleh dukungan intelijen, termasuk dari Rusia.

Sejak perang dimulai, AS dilaporkan kehilangan 13 personel militer. Sementara itu, lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) memperkirakan total korban tewas mendekati 3.200 orang, termasuk sekitar 1.400 warga sipil.

Memprovokasi Negara Teluk

Amerika Serikat diduga berupaya mengajak negara-negara lain untuk terlibat dalam konflik melawan Iran. Namun, sejumlah negara Eropa seperti Spanyol, Jerman, Prancis, Inggris, dan Italia menolak terlibat.

AS kemudian mengalihkan upaya ke negara-negara Teluk. Iran sendiri didukung oleh kelompok seperti Hezbollah, Houthi, dan milisi di Irak.

Salah satu insiden yang menjadi sorotan terjadi di Bahrain. Sebuah rudal pencegat dari sistem Patriot diduga meledak di kawasan permukiman dan melukai puluhan warga sipil. Analisis peneliti yang ditinjau Reuters menyebut rudal tersebut kemungkinan berasal dari sistem pertahanan AS.

Bahrain sebelumnya menyatakan ledakan tersebut akibat serangan drone Iran. Namun, sejumlah peneliti menilai bukti keberadaan drone tidak cukup kuat.

Selain itu, Qatar juga mengambil langkah diplomatik dengan menetapkan atase militer Iran sebagai persona non grata setelah serangan terhadap fasilitas gas Ras Laffan.

Dalam konteks kekuatan militer, Arab Saudi menjadi negara Teluk terkuat, diikuti Uni Emirat Arab dan Qatar. Ketiga negara ini dinilai memiliki potensi terbesar untuk terlibat dalam konflik.

Perang Berpotensi Panjang dan Picu Krisis Global

Iran terus melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke berbagai target di kawasan. Konflik ini diperkirakan akan berlangsung lama dan berpotensi memicu krisis global.

Di sisi lain, Iran memiliki sumber pendanaan yang kuat, salah satunya melalui organisasi Setad (Execution of Imam Khomeini’s Order), yang disebut memiliki aset hingga 95 miliar dolar AS.

Organisasi ini awalnya didirikan untuk tujuan sosial, tetapi berkembang menjadi konglomerasi besar di berbagai sektor strategis. Meski demikian, pemerintah Iran menyatakan sebagian besar keuntungannya tetap digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Iran menyatakan siap menghadapi perang jangka panjang. Sementara itu, Amerika Serikat menunjukkan sikap ganda, di satu sisi mengklaim akan memenangkan perang, namun di sisi lain membuka peluang negosiasi. Iran sendiri dikabarkan telah menutup pintu perundingan.*

Penulis adalah pemerhati masalah internasional, kontributor IBP dan serta alumni FISIP Universitas Jember dan pascasarjana Universitas Indonesia.