
J5NEWSROOM.COM, Madinah – Langkah itu memang tak lagi tegap. Tubuh renta itu pun harus dibantu kursi roda untuk berpindah dari satu titik ke titik lain. Namun, di balik usia yang telah menginjak 96 tahun, tersimpan keteguhan hati yang tak pernah pudar. Itulah Mbah Suminem, seorang petani sederhana asal Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, yang akhirnya menjejakkan kaki di Madinah dengan linangan air mata syukur.
Di Bandara Amir Mohammad bin Abdul Aziz, Sabtu (25/4/2026) malam, ia tak mampu menahan haru. Bibirnya bergetar, matanya basah. “Maturnuwun, Ya Allah…saya sudah sampai,” ucapnya lirih, seolah perjalanan panjang hidupnya bermuara di titik itu.
Tak banyak yang tahu, perjalanan menuju Tanah Suci bagi Suminem bukanlah kisah singkat. Dari ladang padi dan ketela yang ia garap selama puluhan tahun, ia menyisihkan rezeki sedikit demi sedikit. Bukan dalam jumlah besar, melainkan hanya Rp 10.000 setiap pekan, itu pun jika ada.
Kadang ada, kadang tidak. Namun kesabaran itu ia pelihara. Uang receh yang mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang, perlahan menjadi saksi keteguhan niatnya. Hingga akhirnya, ia memberanikan diri mendaftar haji.
Waktu pun berjalan, menanti hingga 15 tahun lamanya sebelum panggilan itu benar-benar tiba. Kini, Suminem tergabung dalam kloter 3 Embarkasi Palembang. Ia berangkat ditemani sang putra, yang setia mendampingi di setiap langkah perjalanan ibadahnya.
Di usia yang hampir seabad, Suminem menyadari tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Rasa nyeri di pinggang kerap datang. Namun ia tak mengeluh panjang. Baginya, kesehatan yang masih tersisa adalah anugerah yang patut disyukuri.
Perjalanan ini bukan hanya tentang fisik, tetapi tentang keyakinan. Tentang doa yang dipanjatkan dalam diam, tentang harapan yang dijaga dalam keterbatasan. Ia pun merasakan betul perhatian para petugas haji yang sigap membantu para jemaah lansia seperti dirinya. “Terima kasih, petugas sudah banyak membantu,” ujarnya dengan senyum hangat.
Kisah Suminem menjadi potret sederhana tentang arti keteguhan. Bahwa perjalanan haji bukan hanya milik mereka yang berkecukupan, tetapi juga bagi mereka yang bersabar meniti jalan panjang dengan keyakinan. Dari ladang yang sunyi, dari tabungan yang tak seberapa, hingga akhirnya sampai di Tanah Suci ia membuktikan, panggilan itu akan datang bagi siapa saja yang tak lelah berharap.
Editor: Saibansah Dardani
