Menikmati Sejuknya Pegunungan dan Menelusuri Jejak Kesabaran Rasulullah di Thaif

Salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi jemaah haji Indonesia di Thaif. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

J5NEWSROOM.COM, Thaif – Setelah menjalani rangkaian puncak ibadah haji yang menguras tenaga dan emosi spiritual di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, sebagian jemaah memilih mengisi waktu di Tanah Suci dengan cara berbeda. Mereka menempuh perjalanan menuju Thaif, kota pegunungan yang menawarkan kesejukan alam sekaligus menyimpan jejak penting perjalanan dakwah Rasulullah SAW.

Perjalanan menuju Thaif dari Makkah memakan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam. Jalanan berkelok yang membelah Pegunungan Al Hada menjadi pembuka pemandangan yang kontras dengan lanskap Makkah yang kering dan panas. Semakin tinggi kendaraan menanjak, udara terasa semakin sejuk dan panorama pegunungan batu yang menjulang mulai mendominasi pandangan.

Berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, Thaif memang dikenal sebagai salah satu kota dengan suhu yang lebih nyaman dibandingkan wilayah lain di sekitar Makkah. Tak heran jika sejak lama kota ini menjadi tempat favorit untuk beristirahat dan menikmati suasana alam.

Salah satu daya tarik utama Thaif adalah wahana kereta gantung atau gondola yang membentang di kawasan Al Hada. Dari dalam kabin gondola, pengunjung disuguhi pemandangan lembah yang luas, tebing-tebing batu, serta jalur pegunungan yang meliuk mengikuti kontur alam.

Perjalanan gondola yang berlangsung sekitar 30 menit pulang-pergi itu menghadirkan pengalaman berbeda. Dari ketinggian, hamparan pegunungan tampak seperti lukisan alam yang membentang tanpa batas. Sesekali, kabut tipis menyelimuti lereng gunung, menambah kesan tenang dan menyejukkan.

Bagi banyak jemaah, perjalanan ke Thaif bukan sekadar wisata alam. Kota ini menyimpan kisah yang sangat dekat dengan sejarah dakwah Islam.

Di sinilah Rasulullah SAW pernah datang untuk menyampaikan risalah Islam setelah menghadapi berbagai tekanan di Makkah. Namun, sambutan yang diterima jauh dari harapan. Penduduk Thaif saat itu menolak dakwah beliau, bahkan sebagian di antaranya melakukan tindakan yang menyakiti Rasulullah.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu episode paling berat dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Meski mengalami perlakuan yang menyakitkan, Rasulullah tidak membalas dengan kemarahan ataupun kutukan.

Dalam berbagai riwayat disebutkan, ketika malaikat menawarkan untuk menimpakan hukuman kepada penduduk Thaif, Rasulullah justru memilih mendoakan mereka. Beliau berharap kelak akan lahir generasi yang beriman dan menerima petunjuk Allah SWT.

Kisah itu terus hidup hingga kini dan menjadi pelajaran tentang kesabaran, kasih sayang, serta kelapangan hati dalam menghadapi penolakan.

Bagi para jemaah haji Indonesia yang berkunjung ke Thaif, jejak sejarah tersebut menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam. Keindahan alam yang tersaji di depan mata seakan berpadu dengan renungan tentang perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan ajaran Islam.

Di sela-sela menikmati udara pegunungan yang segar, banyak jemaah memanfaatkan kesempatan itu untuk mengingat kembali perjalanan dakwah Nabi dan mengambil hikmah dari keteladanan beliau.

Thaif akhirnya bukan hanya menjadi tempat melepas penat setelah menjalani ibadah haji yang panjang. Kota ini menghadirkan perpaduan antara panorama alam yang menenangkan dan pelajaran sejarah yang menguatkan hati. Sebuah perjalanan yang tidak sekadar memanjakan mata, tetapi juga mengajak setiap pengunjung menelusuri jejak kesabaran dan kasih sayang Rasulullah SAW.

Editor: Saibansah Dardani