
J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Pemerintah menetapkan arah kebijakan fiskal melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 dengan fokus menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat ketahanan nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan APBN 2027 tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengelolaan keuangan negara, tetapi juga menjadi sarana untuk mendukung pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“APBN 2027 bukan sekadar dokumen keuangan negara. APBN adalah instrumen perjuangan untuk melindungi rakyat, memperkuat fondasi ekonomi nasional, dan memastikan setiap kebijakan berpihak pada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” kata Prabowo.
Dalam rancangan kebijakan fiskal tersebut, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2027 berada di kisaran 5,8 hingga 6,5 persen. Sementara itu, inflasi diproyeksikan tetap terkendali pada level 1,5-3,5 persen.
Pemerintah juga menargetkan defisit anggaran berada di kisaran 1,8-2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Belanja negara akan diprioritaskan untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi, mendorong transformasi digital, pembangunan infrastruktur sosial, serta memperluas perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan optimisme terhadap target tersebut didukung oleh kinerja ekonomi nasional yang masih menunjukkan tren positif.
Menurut Airlangga, ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen. Pertumbuhan itu ditopang oleh inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan, aktivitas sektor manufaktur yang masih ekspansif, serta permintaan domestik yang tetap kuat.
“Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, pada semester II 2026 pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun,” ujar Airlangga.
Paket stimulus tersebut meliputi bantuan pangan, program stabilisasi harga, diskon transportasi, penguatan program vokasi dan magang, serta berbagai insentif yang ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung aktivitas dunia usaha.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai target pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen dapat dicapai secara bertahap melalui peningkatan investasi, penguatan ekspor, dan peningkatan produktivitas nasional.
“Ketika global gonjang-ganjing saja kita masih bisa tumbuh 5,61 persen, ini kan mesin pertumbuhan ekonomi baru dipanaskan,” kata Purbaya.
Pemerintah berharap kebijakan fiskal yang disiplin, didukung stimulus yang terarah dan penguatan sektor-sektor produktif, dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Editor: Agung
