Transaksi QRIS di Kepri Melonjak 144,08 Persen, Ekonomi Tumbuh 7,04 Persen Tertinggi di Sumatera

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P. (Foto: Aldy/BATAMTODAY.COM)

J5NEWSROOM.COM, Batam – Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) meningkat signifikan pada Triwulan I 2026. Volume transaksi tumbuh 144,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang mencapai 7,04 persen atau tertinggi di wilayah Sumatera.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P., mengatakan peningkatan penggunaan QRIS mencerminkan semakin luasnya adopsi sistem pembayaran digital oleh masyarakat maupun pelaku usaha di daerah tersebut.

Selain mencatat lonjakan volume transaksi, nilai transaksi QRIS di Kepri selama Triwulan I 2026 mencapai Rp3,86 triliun. Sementara itu, posisi *net outflow* tercatat sebesar Rp989 miliar.

Menurut Rony, pertumbuhan transaksi digital didorong oleh semakin luasnya akseptasi QRIS di berbagai sektor serta meningkatnya preferensi masyarakat terhadap metode pembayaran non-tunai. Kemudahan, kecepatan, dan keamanan transaksi menjadi faktor yang mempercepat penggunaan QRIS.

Di sisi lain, perekonomian Kepri tetap menunjukkan kinerja yang kuat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kepri pada Triwulan I 2026 tumbuh 7,04 persen secara tahunan (*year on year/yoy*). Meskipun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Triwulan IV 2025 yang mencapai 7,89 persen, capaian tersebut masih melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen dan menjadi yang tertinggi di regional Sumatera.

BI menilai pertumbuhan ekonomi tersebut turut didukung oleh kondisi sistem keuangan yang tetap stabil. Kinerja intermediasi perbankan masih terjaga meskipun pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK), dan penyaluran kredit mengalami perlambatan.

Pada periode yang sama, aset perbankan tumbuh 5,31 persen secara tahunan, DPK meningkat 5,26 persen, sedangkan kredit tumbuh 6,05 persen. BI menilai perlambatan tersebut masih berada dalam kisaran yang wajar, sementara kualitas intermediasi perbankan justru menunjukkan perbaikan.

“Kinerja intermediasi perbankan di Kepri pada Triwulan I 2026 secara umum tetap terjaga dan menunjukkan perbaikan kualitas di tengah pertumbuhan kredit yang mengalami deselerasi,” kata Rony, Jumat (17/7/2026).

Ke depan, BI memperkirakan perekonomian Kepri sepanjang 2026 tetap tumbuh positif meskipun laju pertumbuhannya diperkirakan melambat akibat pengaruh *base effect*. Dari sisi harga, inflasi diproyeksikan tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen.

Rony menyatakan, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang masih berada di atas rata-rata nasional, stabilitas sektor keuangan, serta meningkatnya penggunaan pembayaran digital menjadi modal penting bagi Kepri untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

“Pesatnya pertumbuhan transaksi QRIS menunjukkan transformasi digital di Kepri berjalan semakin baik. Didukung pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi, stabilitas sistem keuangan yang terjaga, dan inflasi yang terkendali, kami optimistis perekonomian Kepri akan tetap tumbuh positif sepanjang 2026,” ujar Rony.

Editor: Saibansah Dardani