
J5NEWSROOM.COM, Sumenep – Hari kedua pelaksanaan Halaqah Ilmiah Muqaddam Tarekat Tijaniyah Indonesia berlangsung di Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Idul Khotmi Tarekat Tijaniyah tersebut diikuti sekitar 162 muqaddam dari berbagai daerah di Indonesia.
Halaqah yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah yang dipimpin Sayyidi Syekh Syarif Muhammad Thohir bin Ali At-Tijani.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, KH Ahmad Fauzi Tidjani, mengatakan, halaqah ilmiah digelar untuk memperkuat pemahaman para muqaddam terhadap ajaran Tarekat Tijaniyah yang bersumber dari sanad yang sahih. Selain itu, forum tersebut diharapkan menjadi wadah penyamaan persepsi dalam menjalankan tugas pembinaan murid di berbagai daerah.
Menurut Fauzi, penguatan kapasitas muqaddam penting agar pembinaan spiritual dapat berjalan secara berkesinambungan. Ia berharap para muqaddam tidak hanya memiliki penguasaan keilmuan yang kuat, tetapi juga mampu membimbing masyarakat secara arif sehingga dakwah Tarekat Tijaniyah berkembang secara moderat dan memberi manfaat bagi umat.
Ia juga menilai halaqah menjadi momentum mempererat hubungan antarmuqaddam dari berbagai wilayah. Melalui forum tersebut, koordinasi dan sinergi diharapkan semakin kuat untuk menjaga kemurnian ajaran serta meningkatkan kualitas pembinaan spiritual.
Dalam tausiyahnya, salah seorang syurafa’ Tarekat Tijaniyah asal Aljazair, Sayyidi Syarif Muhammad Alhabib, mengajak peserta memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT. Menurut dia, syukur merupakan salah satu jalan untuk memperoleh tambahan nikmat, keberkahan, dan kemenangan, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Selain itu, Sayyidi Syarif menekankan pentingnya memahami kriteria syekh yang layak dijadikan pembimbing spiritual. Ia menjelaskan bahwa seorang syekh harus memiliki perjalanan ruhani yang sahih hingga mencapai maqam ma’rifat kepada Allah SWT sehingga layak menjadi rujukan dalam pembinaan tarekat.
Ia mengingatkan agar para murid tidak mengambil tuntunan dari seseorang yang belum mencapai kedudukan tersebut karena dikhawatirkan dapat memengaruhi perjalanan spiritual mereka.
Menurut Sayyidi Syarif, dalam tradisi Tarekat Tijaniyah, rujukan utama tetap mengacu kepada Sayyidi Syekh Ahmad bin Muhammad bin Al-Mukhtar At-Tijani sebagai tokoh sentral dalam pembinaan ruhani tarekat.
Ia juga menjelaskan bahwa seorang syekh dijadikan guru karena kedudukannya sebagai wali Allah sekaligus pembimbing yang mengarahkan umat menuju keridaan-Nya. Di luar tujuan tersebut, menurutnya, seseorang tidak akan memperoleh manfaat hakiki dari hubungan dengan seorang syekh.
Kepada para muqaddam yang hadir, Sayyidi Syarif mengingatkan bahwa tugas mereka bukan menciptakan ajaran baru, melainkan meneruskan ajaran Sayyidi Syekh Ahmad At-Tijani kepada para murid. Karena itu, para muqaddam diminta menjaga kemurnian ajaran serta menghindarkan murid dari amalan yang tidak memiliki landasan dalam tradisi Tarekat Tijaniyah.
Menutup tausiyahnya, Sayyidi Syarif mengajak seluruh peserta memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, termasuk Shalawat Fatih. Menurut dia, memperbanyak shalawat merupakan salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui Rasulullah SAW serta memperkuat ikatan spiritual umat Islam.
Editor: Saibansah Dardani
