
J5NEWSROOM.COM, Jakarta – TNI Angkatan Laut menilai penguatan mental dan moral prajurit menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika geopolitik global serta pesatnya perkembangan teknologi informasi. Selain dituntut profesional menjalankan tugas pertahanan negara, prajurit juga harus mampu menyikapi derasnya arus informasi secara kritis agar tidak mudah terpengaruh berbagai ancaman nonmiliter.
Kepala Dinas Bimbingan Mental TNI Angkatan Laut (Kadisbintalal), Laksamana Pertama TNI Harun Arrasyid, mengatakan tantangan pertahanan saat ini tidak lagi terbatas pada ancaman konvensional. Menurut dia, perkembangan teknologi informasi telah melahirkan berbagai bentuk ancaman baru, seperti perang informasi, penyebaran hoaks, propaganda digital, hingga upaya memengaruhi opini publik melalui media sosial.
“Ketahanan mental dan moral merupakan benteng utama bagi setiap prajurit dalam menghadapi perubahan geopolitik maupun perkembangan teknologi informasi yang berlangsung sangat cepat. Prajurit harus mampu menyaring informasi secara cerdas, tidak mudah terprovokasi, serta tetap berpedoman pada nilai-nilai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI dalam setiap pelaksanaan tugas,” ujar Harun.
Ia menjelaskan, pembinaan mental menjadi salah satu pilar utama dalam membentuk prajurit yang tangguh, berintegritas, dan mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan strategis, baik di tingkat nasional maupun global.
Menurut Harun, Dinas Bimbingan Mental TNI Angkatan Laut secara berkelanjutan melaksanakan pembinaan mental ideologi, mental rohani, dan mental kejuangan sebagai bagian dari pembangunan karakter prajurit. Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperkuat keimanan dan nasionalisme, tetapi juga meningkatkan kemampuan prajurit dalam menghadapi perubahan zaman.

Selain itu, peningkatan literasi digital juga menjadi bagian dari pembinaan mental. Kemampuan memahami, memilah, dan memverifikasi informasi dinilai penting agar personel TNI AL tidak mudah terpengaruh berita bohong maupun narasi yang berpotensi mengganggu soliditas institusi.
Harun menilai kekuatan pertahanan negara tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang memiliki integritas, loyalitas, disiplin, dan karakter yang kuat.
“Dengan mental yang tangguh dan moral yang kokoh, prajurit akan mampu menjalankan tugas secara profesional, adaptif terhadap perubahan, sekaligus menjadi teladan di tengah masyarakat,” katanya.
Melalui pembinaan mental yang dilakukan secara berkesinambungan, TNI Angkatan Laut berupaya menyiapkan prajurit yang mampu menghadapi tantangan geopolitik global dan disrupsi teknologi informasi, sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai dasar keprajuritan dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Editor: Saibansah Dardani
