
J5NEWSROOM.COM, Bintan – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Jalan Panca Marga, Kampung Sunda, Desa Sebong Pereh, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Kebakaran tersebut menjadi kejadian kedua di kawasan yang sama dalam dua hari berturut-turut.
Sehari sebelumnya, petugas pemadam kebakaran telah menangani kebakaran semak belukar yang menghanguskan lahan lebih dari 2 hektare. Namun, pada Jumat (14/8/2026), api kembali muncul di sekitar lokasi dan membakar sekitar 1,5 hektare lahan.
Kepala UPTD Pemadam Kebakaran (Damkar) Tanjunguban Panyodi mengatakan, kebakaran terbaru diduga merupakan titik api lanjutan dari kebakaran sebelumnya.
“Kebakaran ini lanjutan dari kebakaran lahan sehari sebelumnya, sekaligus tercatat menjadi titik kesembilan karhutla di wilayah kerja UPTD Damkar Tanjunguban. Artinya, luas lahan yang terbakar sudah mencapai sekitar 9 hektare,” ujar Panyodi, Jumat malam.
Menurut Panyodi, pemilik lahan yang terbakar belum diketahui. Penyebab kebakaran juga masih dalam penyelidikan. Petugas membutuhkan waktu hampir empat jam untuk memadamkan api yang membakar lahan di sekitar perkebunan warga.
“Pemadaman api yang membakar lahan di sekitar perkebunan warga oleh tim Damkar Tanjunguban mulai pukul 15.45 hingga 19.45 WIB,” katanya.
Proses pemadaman menghadapi kendala keterbatasan armada. Saat ini UPTD Damkar Tanjunguban hanya mengandalkan satu unit mobil pemadam yang dipinjamkan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
Kondisi kendaraan tersebut juga dilaporkan mengalami kebocoran pada bagian tangki.
Keterbatasan tersebut menjadi persoalan karena kebakaran berpotensi terjadi di beberapa lokasi secara bersamaan. Jika kondisi itu terjadi, kemampuan petugas untuk melakukan penanganan secara cepat akan semakin terbatas.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bintan Adi Aryadi mengatakan, pihaknya telah menerima laporan mengenai kondisi kendaraan pemadam milik UPTD Damkar Tanjunguban.
Ia mengatakan, petugas telah diarahkan membawa kendaraan tersebut ke bengkel apabila kondisinya memungkinkan agar kerusakan dapat segera diperbaiki.
“Apabila kondisi memungkinkan nantinya, BPBD Bintan sudah mengarahkan UPTD Damkar Tanjunguban memperbaiki mobil Damkar ke bengkel,” ujar Adi.
Selain kendaraan, BPBD Bintan juga menyoroti keterbatasan sumber air untuk mendukung proses pemadaman.
Menurut Adi, kantor Damkar Tanjunguban belum memiliki tempat penampungan air maupun sumur bor yang dapat digunakan untuk menunjang operasi pemadaman. Kondisi sarana dan prasarana tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan usulan perbaikan oleh pemerintah daerah.
“Nantinya melalui kepala BPBD akan segera diusulkan agar ke depan kondisi sarana dan prasarana Damkar di Bintan bisa lebih baik lagi,” katanya.
Berulangnya karhutla di kawasan Sebong Pereh dalam waktu berdekatan menjadi perhatian pemerintah daerah. Penguatan armada pemadam, ketersediaan sumber air, serta perbaikan sarana pendukung dinilai diperlukan agar penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih cepat apabila kejadian serupa kembali terjadi.
Editor: Alia Safira
