
J5NEWSROOM.COM, Batam – Walikota Batam membacakan puisi berjudul “Menuju Indonesia Lebih Hijau Demi Bumi dan Masa Depan”.
“Bunga Melati Harum Berseri
Mekar Sekuntum di Taman Indah
Untuk Lingkungan dan Energi Lestari
Mari Mulai Dengan Bismillah”
Bunga Seroja Mekar Terbuka
Tumbuh Berseri Ditepian Taman
Simposium Keempat Kami Buka
Demi Bumi dan Masa Depan”
Dua bait pantun di atas itulah yang dibacakan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kota Batam, Tri Wahyu Rubianto, ST., M.Si mewakili Walikota Kota Batam, Dr. Amsakar Achmad ketika membuka Simposium Internasioal Kebijakan Energi dan Lingkungan (ISEEP) dengan tema, “Ekologi Manusia, dan Inovasi Sosial demi Keberlanjutan Lingkungan, di Hotel Harris Batam Center, Pulau Batam, Senin (31/8/2026).
Dilanjutkan Kepala Bappeda, mendukung Indonesia lebih hijau demi masa depan, Pemerintah Kota Batam berkomitmen jika pembangunan Kota Batam tidak boleh mengorbankan generasi mendatang. “Pembangunan tidak lagi hanya mengggunakan pendekatan bussiness as usual saja. Pembangun untuk mengejar pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan keberlanjutan lingkungan sejak transisi transformasi energi yang adil yang mulai diberlakukan”, lanjutnya.
Dalam merespon isu lingkungan, dan energi tersebut, jelasnya, Pemerintah Kota Batam sedang berfokus pada pengelolaan sampah berbasas ekonomi sirkuler energi. “Dari sini pula Pemko Batam mendukung dengan mempersiapkan regualasi yakni merevisi peraturan daerah tentang pengelolaan persampahan di Pulau Batam”.
Simposium Internasional Kebijakan Energi ke-4 ini melanjutkan dari simposium yang pertama, kedua, dan ketiga yang sebelumnya digelar pada 22–23 Oktober 2025, di Hotel Pangeran, Pekanbaru yang lalu.
Dekan FISIP Universitas Riau Dr. Meyzi Heriyanto, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa simposium ini merupakan komitmen FISIP UNRI memperkuat keberadaan Ilmu Sosial menjawab tantangan global di bidang ekologi manusia yang berklindan dengan kebijakan lingkungan.
“Pendekatan ekologi manusia dan kebijakan lingkungan merupakan basis konseptual dan operasional yang kokoh memahami hubungan relasional timbal balik antara manusia, masyarakat, lingkungan dan kebijakan sebagai satu ekosistem sosial yang inheren terintegrasi, “ jelasnya.
“Melalui simposium ke-4 ISEEP 2026 di Pulau Batam, katanya, FISIP UNRI berusaha mensinergikan kaum akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi untuk berbagi pengalaman memformulasikan secara komunikatif agar pembangunan berkeadilan dan berkelanjutan ihwal menjaga bumi agar tetap hijau.
Beberapa pembicara utama (main speakers), dalam simposium internasional ini di antaranya, adalah Mariko Ogawa, PhD dari Centre for Southes Asian Studies (CSEAS), Kyoto University, Japan; Assoc. Prof. Dr. Chan Kim Link, University Kebangsaan Malaysia; Prof. Dr. Ali Yusri, MS, Universitas Riau; Zu Dienle Tan, PhD, Nanyang Tecnoligical, University Singapore; Iwan Kurniawan (Executive GM PT Pertamina Patra Niaga RU Dumai, Indonesia).
Di tempat terspisah Wakil Dekan Bidang Akademik Fisip Unri, Dr. Auradian Marta sebagai penanggungjawab simposium internasional ini, mengungkapkan jika pelaksanaan ISEEP yang ke empat di Pulau Batam diharapkan dapat memberikan makna signifikan bagi dunia. “Ini disebabkan Pulau Batam merupakan titik tumpu pembangunan ekonomi yang masif Indonesia”.
Sehingga, berdasarkan analisisnya, kebijakan pembangunan berbasis kepentingan nasional, seperti Proyek Strategis Nasional (PSN), misalnya yang ada di daerah, khususnya di Pulau Batam, tidak boleh berbenturan dengan keharmonisan lingkungan sosial.
Editor: Alia Safira
