Mengawal Generasi Muda Menjadikan Algoritma Jadi Guru Agama

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Masjid At-Taqwa Unimus, Rabu (3/9/2026). (Foto: J5NEWSROOM.COM)

J5NEWSROOM.COM, Semarang – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menjadi ruang refleksi tentang tantangan baru umat Islam di tengah derasnya perkembangan teknologi digital. Di era ketika informasi keagamaan dapat muncul hanya melalui sentuhan jari, umat diingatkan agar tidak menyerahkan sepenuhnya proses belajar agama kepada algoritma media sosial.

Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Masjid At-Taqwa Unimus, Rabu (3/9/2026). Kegiatan bertema “Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai Sarana Meningkatkan Literasi Keagamaan untuk Menyongsong Era Digital” menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Ustadz Dr. H. Fachrur Rozi, M.Ag, sebagai penceramah.

Nampak hadir, Rektor Unimus Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., Wakil Rektor II, Prof. Budi Santoso, Warek IV, M. Yusuf. Ph. D, dan beberapa pejabat kampus serta para dosen serta mahasiswa.

Dalam materi yang disampaikan, Fachrur Rozi mengajak sivitas akademika untuk menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai fondasi dalam menghadapi perubahan zaman, termasuk revolusi informasi yang semakin cepat.

Menurutnya, kemajuan digital membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi, teknologi membuka akses luas terhadap pengetahuan agama. Masyarakat kini dapat dengan mudah menemukan ceramah, kajian, tafsir, hadis, hingga berbagai diskusi keislaman melalui internet. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan serius berupa banjir informasi dan munculnya sumber-sumber keagamaan yang tidak selalu memiliki otoritas dan kredibilitas yang jelas.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah perubahan pola masyarakat dalam mencari ilmu agama. Jika sebelumnya seseorang mencari guru, mendatangi majelis ilmu dan belajar secara bertahap, kini pencarian informasi keagamaan sering kali dimulai dari mesin pencari dan media sosial.

Kondisi tersebut menuntut adanya kemampuan literasi keagamaan yang lebih kuat.

“Jangan jadikan algoritma sebagai guru agama,” menjadi salah satu pesan penting dalam materi yang disampaikan. Algoritma media sosial, pada dasarnya, bekerja berdasarkan kecenderungan pengguna dan popularitas konten. Apa yang sering ditonton akan semakin sering direkomendasikan.

Akibatnya, seseorang bisa saja merasa mendapatkan banyak pengetahuan agama, padahal informasi yang diterimanya hanya berputar pada sudut pandang tertentu.

Dalam situasi demikian, popularitas sebuah konten tidak selalu identik dengan kebenaran. Banyaknya jumlah penonton, tanda suka dan pengikut tidak dapat dijadikan ukuran tunggal terhadap kedalaman ilmu seseorang.

Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan antara sumber informasi yang kredibel dengan informasi yang hanya mengejar sensasi dan perhatian publik.

Fachrur Rozi juga menekankan pentingnya literasi akhlak dalam kehidupan digital. Persoalan di media sosial bukan semata-mata tentang benar atau salahnya informasi, tetapi juga menyangkut cara seseorang menyampaikan pendapat dan merespons perbedaan.

Perbedaan dalam substansi, menurut pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut, tidak boleh menghilangkan kesantunan dalam komunikasi. Umat Islam dapat berbeda pandangan, namun tetap harus menjaga adab, menghormati sesama dan menghindari kebiasaan saling menyerang.

“Beda dalam substansi, santun dalam komunikasi,” menjadi prinsip penting yang relevan untuk diterapkan di tengah ruang digital yang sering kali dipenuhi perdebatan keras.

Peringatan Maulid Nabi kali ini sekaligus mengajak peserta untuk menghadirkan kembali nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kampus tidak hanya dipandang sebagai tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, akhlak dan kesadaran spiritual.

Gagasan bahwa setiap sudut kampus adalah ruang dakwah menjadi salah satu refleksi penting. Dakwah tidak selalu harus dilakukan melalui mimbar dan ceramah. Keteladanan, kejujuran, disiplin, kepedulian, etika berkomunikasi dan perilaku sehari-hari juga merupakan bagian dari dakwah.

Di tengah era digital, keteladanan Nabi Muhammad SAW justru semakin menemukan relevansinya. Ketika informasi bergerak cepat, umat membutuhkan sikap tabayun. Ketika media sosial memicu perdebatan, umat membutuhkan akhlak. Ketika algoritma menawarkan jawaban instan, umat membutuhkan guru dan proses belajar yang benar.

Peringatan Maulid Nabi di Unimus pun tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ajakan untuk menerjemahkan keteladanan Nabi ke dalam tantangan zaman.

Era digital tidak harus dijauhi. Teknologi dapat menjadi sarana dakwah dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, teknologi harus ditempatkan sebagai alat, bukan sebagai penentu kebenaran.

Di tengah derasnya arus informasi, umat Islam dituntut semakin cerdas dalam memilih sumber ilmu. Sebab, ketika jari lebih cepat mencari jawaban daripada kaki melangkah kepada guru, maka literasi keagamaan dan akhlak menjadi benteng yang semakin penting.

*Maulid Nabi, pada akhirnya, bukan hanya soal mengenang sejarah kelahiran Rasulullah. Maulid adalah momentum untuk bertanya: apakah di tengah kehidupan yang semakin digital, kita masih menjadikan akhlak dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai kompas dalam menjalani zaman?

Editor: Alia Safira