Tajuk J5NEWSROOM.COM: Saat Para Doktor Natuna Pulang ke Kampung Halaman

Bupati Kabupaten Natuna Cen Sui Lan. (Foto: Nett)

J5NEWSROOM.COM – Ada sesuatu yang patut diapresiasi dari lahirnya Archipelago Natuna Research Center (ANRC). Sebuah lembaga kajian intelektual yang digawangi oleh lima doktor putera Natuna. ANRC lahir dari sebuah gagasan dan visi ke depan dari seorang Raja Mustakim, suami Bupati Natuna Cen Sui Lan.

ANRC bukan semata hanya sebagai tempat berkumpul ndan ‘ngopi’ ilmiah para doktor Natuna. Lebih dari itu, kehadiran ANRC memperlihatkan bahwa pembangunan sebuah daerah tidak cukup hanya mengandalkan anggaran, proyek fisik, ataupun keputusan administratif. Natuna juga membutuhkan kekuatan lain yang tidak kalah penting, yaitu pengetahuan, riset dan gagasan yang lahir dari anak-anak daerah sendiri.

J5NEWSROOM.COM melihat langkah Raja Mustakim menggandeng tujuh doktor putra asli Natuna itu sebagai sebuah ikhtiar yang patut kita apresiasi. Karena langkah in diharapkan dapat menjadi pendobrak lahirnya gerakan intelektual dan gagasan cerdas demi pembangunan Natuna.

Raja Mustakim, yang juga Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Provinsi Kepri itu mempertemukan para intelektual asal Natuna dalam sebuah lembaga kajian yang diharapkan dapat membaca berbagai persoalan daerah melalui penelitian dan data. Bagi kami, inilah bentuk konkret dari upaya menghubungkan sumber daya manusia Natuna yang telah menempuh pendidikan tinggi dengan kebutuhan kampung halamannya.

Sebab, banyak daerah memiliki anak-anak cerdas yang kemudian tersebar di berbagai kota, perguruan tinggi dan institusi profesional. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan mereka tidak berhenti menjadi prestasi pribadi, tetapi dapat kembali menjadi energi bagi daerah asal.

ANRC berpotensi menjadi salah satu jembatan untuk itu. Terlebih Natuna saat ini sedang berada pada fase penting dalam perjalanan pembangunannya. Misalnya, adanya wacana membuka penerbangan langsung Natuna menuju Vietnam, menunjukkan adanya upaya untuk membawa Natuna tidak hanya terhubung dengan wilayah lain di Indonesia, tetapi juga semakin dekat dengan kawasan Asia Tenggara.

Gagasan penerbangan langsung ke Ho Chi Minh City, yang disebut hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam, tentu bukan sekadar persoalan membuka sebuah rute penerbangan.  Di baliknya terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar.

Apakah pasar pariwisata Natuna sudah siap? Apa yang harus disiapkan pelaku UMKM Natuna, terutama pengusaha kulinernya? Bagaimana kesiapan infrastruktur? Dan yang paling penting, seberapa besar manfaat konektivitas tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Natuna?

Begitu pula dengan peluang konektivitas Natuna-Singapura yang sebelumnya juga pernah didorong.

Semua peluang tersebut membutuhkan kajian yang serius agar konektivitas internasional tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Di sinilah lembaga seperti ANRC memiliki ruang yang sangat besar untuk berkontribusi.

Natuna bukan daerah dengan persoalan yang sederhana. Sebagai kawasan kepulauan, perbatasan dan wilayah yang memiliki posisi strategis, Natuna berhadapan dengan sejumlah persoalan, seperti transportasi pesawat menuju Natuna yang perlu perhatian lebih dari pemerintah pusat, kerusakan lingkungan akibat eksplorasi tambang pasir kuarsa, hingga persoalan pembagian hasil atas sumber daya alam Natuna.

Karena itu, setiap kebijakan yang menyangkut masa depan Natuna semestinya memiliki pijakan data yang kuat. Apalagi pembangunan Natuna ke depan tidak hanya berbicara mengenai konektivitas. Potensi sumber daya alam juga sedang memasuki babak baru. Salah satunya hilirisasi.

Dorongan hilirisasi silika menunjukkan adanya keinginan agar kekayaan alam Natuna tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar melalui pengembangan industri pengolahan dan produk turunannya.

Pada saat yang sama, PT Nations Petroleum, anak usaha Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo, telah memenangkan lelang Wilayah Kerja Natuna D-Alpha dengan komitmen pasti senilai US$103,3 juta untuk tiga tahun pertama, yang antara lain mencakup studi geologi dan geofisika, akuisisi data seismik 3D, studi CO₂ serta kegiatan eksplorasi.

Di sektor infrastruktur, Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) juga disebut memiliki ketertarikan untuk mendukung revitalisasi pelabuhan di Natuna.  

Ada migas. Ada hilirisasi. Ada pariwisata. Ada konektivitas udara. Ada pelabuhan. Ada investasi. Ada perdagangan. Ada persoalan lingkungan. Ada tenaga kerja. Ada tata ruang. Dan tentu saja ada kepentingan masyarakat lokal yang harus ditempatkan sebagai bagian penting dari seluruh proses tersebut.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya bagaimana mendatangkan investasi ke Natuna. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, bagaimana memastikan investasi, konektivitas dan pemanfaatan sumber daya tersebut benar-benar menciptakan nilai tambah bagi masyarakat Natuna dalam jangka panjang?

Di sinilah ilmu pengetahuan dibutuhkan. Dan di titik inilah keberadaan ANRC menjadi semakin relevan. J5NEWSROOM.COM berharap ANRC tidak berhenti sebagai forum berkumpulnya para doktor, diskusi, seminar, ataupun menghasilkan dokumen kajian yang kemudian tersimpan di rak.

Natuna membutuhkan kajian yang diturunkan menjadi gagasan. Gagasan yang diturunkan menjadi rekomendasi. Dan rekomendasi yang pada akhirnya diterjemahkan menjadi kebijakan serta program yang dirasakan masyarakat. ANRC dapat mengambil posisi sebagai rumah intelektual yang membaca berbagai perubahan tersebut secara objektif.

Misalnya, ketika pemerintah mendorong pembukaan rute penerbangan internasional, ANRC dapat mengkaji dampaknya terhadap pariwisata, perdagangan, UMKM dan ekonomi masyarakat.

Ketika investasi migas berkembang, ANRC dapat ikut membaca dampaknya terhadap tenaga kerja lokal, lingkungan, penerimaan daerah, Dana Bagi Hasil, tata ruang dan masa depan ekonomi Natuna. Ketika hilirisasi silika didorong, ANRC dapat melihat sejauh mana rantai nilai dan manfaat ekonominya dapat tinggal di Natuna.

Begitu pula ketika pelabuhan dan infrastruktur dikembangkan, kajian dapat diarahkan untuk memastikan pembangunan tersebut terhubung dengan kebutuhan masyarakat serta arah ekonomi daerah. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang seminar.

Itulah makanya, J5NEWSROOM.COM memandang ANRC harus menjaga independensi akademiknya. Kedekatan dengan pemerintah, dunia usaha maupun berbagai pemangku kepentingan tidak boleh membuat ruang kajian kehilangan daya kritisnya.

Justru sebaliknya, semakin strategis isu yang dikaji, semakin kuat pula kebutuhan terhadap data yang valid, metodologi yang jelas dan argumentasi yang dapat diuji. Sebuah lembaga kajian tidak harus selalu mengatakan apa yang ingin didengar oleh pemerintah.

Terkadang justru nilai sebuah kajian terletak pada keberaniannya menunjukkan persoalan yang belum terlihat, mengingatkan terhadap risiko yang mungkin muncul dan menawarkan alternatif kebijakan yang lebih baik.

Itulah fungsi ilmu pengetahuan dalam pembangunan. Kami menyambut gembira kehadiran ANRC.  Selamat datang ANRC, selamat berkiprah dan memberikan kontribusi terbaiknya untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Natuna.

Suai?