
Catatan Cak AT – Ahmadie Thaha
J5NEWSROOM.COM – Bayangkan sebuah restoran yang menyediakan 120 kursi. Dua kelompok berebut hak menguasai meja utama. Kelompok pertama membawa 54 kursi, kelompok kedua 49. Tiba-tiba datang rombongan yang menguasai 17 kursi. Secara hitungan, rombongan itu bisa menentukan siapa yang duduk di kursi kekuasaan.
Namun, kedua kelompok utama masih hitung-hitungan untuk mengajak mereka makan bersama. Begitulah kira-kira drama politik Israel setelah pemilu parlemen 28 Oktober 2026: suara warga Arab-Palestina menguat, tapi pintu pemerintahan belum sepenuhnya terbuka bagi wakil-wakil mereka.
Hasil sementara yang dilaporkan Al Jazeera memperlihatkan kebuntuan. Blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diproyeksikan memperoleh 54 kursi, sedangkan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot meraih 49 kursi. Partai-partai Arab diperkirakan mengantongi total 17 kursi.
Namun, belum ada blok yang mencapai 61 kursi, jumlah minimal untuk membentuk mayoritas di Knesset, parlemen Israel yang memiliki 120 anggota. Dalam sistem parlementer Israel, partai yang memperoleh suara terbanyak tidak otomatis berhak memerintah.
Pemerintahan hanya lahir melalui koalisi, yakni kesepakatan sejumlah partai untuk mengumpulkan dukungan mayoritas. Karena itu, perolehan kursi Likud, partai pimpinan Netanyahu, tak langsung menentukan nasibnya. Penentunya, kemampuan menggalang dukungan politik untuk membentuk pemerintahan.
Maka, meskipun pemilu telah selesai, pertarungan kekuasaan belum mencapai garis akhir. Netanyahu kini menghadapi pesaing kuat dari Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel yang mendirikan partai Yashar pada 2025.
Eisenkot memimpin blok oposisi yang berusaha mengakhiri pemerintahan Netanyahu. Tapi ia masih harus meyakinkan partai-partai sekutunya dari kalangan Yahudi agar bersedia berkoalisi dengan partai-partai Arab.
Jika Eisenkot berhasil menjalin kesepakatan dengan partai-partai Arab, gabungan mereka berpotensi mencapai 66 kursi, melampaui ambang mayoritas 61 agar bisa membentuk pemerintahan.
Namun, politik tidak bekerja seperti soal matematika di papan tulis. Setiap partai memiliki kepentingan, batas kompromi, dan pemilih yang harus mereka pertanggungjawabkan.
Eisenkot harus meyakinkan tokoh-tokoh penting dalam bloknya, termasuk Naftali Bennett dan Avigdor Lieberman, agar menerima dukungan partai-partai Arab.
Masalahnya, Eisenkot mengajukan sejumlah persyaratan, termasuk pengakuan terhadap Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis serta kewajiban menjalani dinas nasional bagi seluruh warga.
Persyaratan tersebut membuat peluang kerja sama agak rumit. Pihak Arab pun mempertanyakan mengapa mereka harus melewati ujian loyalitas yang tidak selalu diterapkan dengan cara serupa kepada partai-partai Yahudi.
Dua kekuatan utama mewakili pemilih Arab dalam pemilu ini. Joint List, aliansi partai-partai Arab, yang dipimpin Yousef Jabareen. Dan partai Ra’am, yang dipimpin Mansour Abbas.
Abbas merupakan politikus tangguh. Ia pernah mengambil langkah bersejarah dengan membawa partainya ke koalisi pemerintahan Naftali Bennett pada 2021. Dukungan Ra’am ikut membantu pembentukan pemerintahan yang mengakhiri masa jabatan Netanyahu.
Pengalaman tersebut membuktikan bahwa kerja sama partai Arab dengan pemerintahan Israel memiliki preseden. Hambatan terbesarnya terletak pada kemauan politik para pemimpin partai.
Abbas bahkan membuka kemungkinan mendukung pemerintahan Eisenkot dengan syarat partainya memperoleh peran dalam penanganan persoalan keamanan internal.
Jabareen dan Ahmad Tibi juga menyatakan kesiapan memanfaatkan kekuatan politik mereka untuk mengakhiri pemerintahan Netanyahu. Jika partai-partai Arab masuk koalisi dengan kesepakatan program yang jelas, mereka berpeluang memperjuangkan kepentingan konstituennya secara lebih langsung.
Daniel Shek, mantan duta besar Israel, melihat kebangkitan suara Arab sebagai salah satu fenomena terpenting dalam pemilu ini. Besarnya dukungan tersebut mengirim pesan bahwa politik Israel tidak dapat terus mengabaikan bagian besar dari pemilihnya.
Namun, Honaida Ghanam, Direktur Jenderal Palestinian Forum for Israeli Studies di Ramallah, menyoroti hambatan yang lebih mendasar: penolakan politik terhadap warga Arab sebagai mitra pemerintahan.
Netanyahu secara terbuka menyebut pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab anti-Zionis sebagai sesuatu yang memalukan.
Bennett juga menegaskan keinginannya membentuk pemerintahan yang hanya melibatkan partai-partai Zionis.
Sebaliknya, Yair Golan, pemimpin Partai Democrats yang berada dalam blok Eisenkot, menyerukan agar kubunya menghentikan pemisahan politik berdasarkan suara Yahudi dan Arab.
Perbedaan sikap itu memperlihatkan bahwa oposisi terhadap Netanyahu tidak otomatis berarti kesamaan pandangan tentang representasi warga Palestina.
Sejumlah partai oposisi menginginkan perubahan kepemimpinan, tetapi tetap mempertahankan batas ideologis dalam memilih mitra pemerintahan.
Mereka menghadapi dilema: menerima dukungan partai-partai Arab demi mencapai mayoritas, atau mempertahankan prinsip koalisi meskipun pilihan itu mempersempit jalan menuju kekuasaan.
Lalu, bagaimana akhir drama ini? Para pengamat menyebut beberapa kemungkinan: pemilu ulang, pemerintahan minoritas yang memperoleh dukungan dari luar partai-partai Arab, perpindahan sejumlah anggota parlemen ke kubu Netanyahu, atau pemerintahan persatuan nasional.
Semua opsi itu bergantung pada negosiasi yang masih berlangsung. Proyeksi hasil dan hitungan kursi belum cukup untuk memastikan siapa yang akhirnya membentuk pemerintahan.
Pemilu ini memperlihatkan bahwa kemenangan elektoral dan kemenangan politik dapat berjalan pada jalur berbeda. Partai-partai Arab berhasil memperbesar representasi mereka, tetapi keberhasilan itu belum menjamin akses ke pusat kekuasaan.
Pertanyaan utamanya ialah siapa yang bersedia mengakui hak pihak lain untuk ikut menentukan arah pemerintahan.
Di restoran politik Israel, rombongan pemilik 17 kursi sudah tiba. Persoalannya, apakah mereka akan memperoleh tempat di meja perundingan, atau hanya diminta menunggu di luar ketika menu kekuasaan dibagikan?*
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 29/10/2026
Penulis adalah wartawan senior dan alumni Ponpes TMI Al Amien Prenduan Sumenep Madura
