Daftar Haji di Usia 3 Tahun, Subur Naik Haji Bersama Putra Sulungnya Novem

Subur Adi Cahyono dan putranya, Novem Bill Ichtiar, naik haji di usia 17 tahun. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

J5NEWSROOM.COM, Madinah – Di antara lautan jemaah haji Indonesia di Madinah, terselip kisah hangat tentang ikhtiar panjang seorang ayah dalam menunaikan janji spiritualnya. Warga Yogyakarta keturunan Madura, Subur Adi Cahyono, akhirnya menyaksikan buah kesabaran itu bersemi: putranya, Novem Bill Ichtiar, berangkat ke Tanah Suci di usia 17 tahun.

Rasa syukur tak henti diucapkan Subur. Baginya, keberangkatan sang anak bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan hasil dari komitmen dan perencanaan yang dimulai jauh hari. Sejak Novem masih berusia sekitar tiga tahun, ia sudah mendaftarkan putranya untuk berhaji.

Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Subur memahami betul bahwa ibadah haji menuntut kesiapan lebih dari sekadar kemampuan finansial. “Haji itu butuh tenaga yang kuat. Saya ingin anak saya berangkat saat kondisi fisiknya masih prima,” ujar pria asal pulau garam Madura kelahiran Jember itu.

Dalam keseharian, Subur bekerja sebagai tekniker gigi dan aktif memimpin Asosiasi Teknik Gigi di Yogyakarta. Dari penghasilannya, ia konsisten menyisihkan sebagian rezeki, baik untuk berbagi maupun untuk tujuan ibadah. Ia dan keluarga pun berpegang teguh pada prinsip untuk tidak menggunakan dana yang telah diniatkan bagi kebaikan.

Bagi Novem, kesempatan berhaji di usia muda menjadi pengalaman yang tak ternilai. Ia mengaku menjalani berbagai persiapan, mulai dari mengikuti manasik hingga menjaga kebugaran tubuh. Semua itu dilakukan dengan arahan sang ayah.

Haji muda berusia 17 tahun Novem Bill Ichtiar bersama Petugas MCH PPIH Arab Saudi 2026 Saibansah Dardani di Madinah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

“Alhamdulillah, saya merasa senang dan bersyukur. Persiapannya cukup matang, terutama menjaga kesehatan,” kata Novem kepada Petugas MCH PPIH Arab Saudi Saibansah Dardan di Madinah, Senin (4/5/2026).

Tak lupa, ia menyampaikan terima kasih kepada orang-orang terdekat yang telah mendukung langkahnya, mulai dari keluarga hingga para guru dan teman. Ia juga menyelipkan doa agar mereka kelak dapat menyusul menunaikan ibadah haji.

Di balik kebahagiaan itu, ada satu harapan yang dipanjatkan khusus. Novem mendoakan ibunya yang belum berkesempatan berangkat tahun ini agar senantiasa diberi kesehatan dan panjang umur sehingga dapat menunaikan ibadah haji tahun depan.

Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya mempersiapkan ibadah haji sejak dini. Menurut Subur, kesiapan berhaji bukan hanya soal biaya, tetapi juga kekuatan fisik dan mental untuk menjalani rangkaian ibadah yang menuntut ketahanan.

Ia pun mengapresiasi penyelenggaraan haji tahun ini yang dinilai semakin baik, mulai dari proses di Tanah Air hingga pelayanan di Tanah Suci.

Di tengah padatnya aktivitas ibadah, kisah Subur dan Novem menjadi cermin bahwa kesungguhan, perencanaan, dan doa yang terjaga dapat membuka jalan menuju panggilan suci, bahkan sejak usia belia.

Editor: Saibansah Dardani